Prisoners (movie review)

wpid-prisoners-poster.jpg

Di penghujung bulan November yang mulai hujan, saya akan me-review satu film pemberian salah seorang teman, masih terbilang baru, judulnya PRISONER. Disutradarai oleh Denis Villeneuve, berdurasi  ± 153 menit, bertabur aktor-aktris peraih & nominator Oscar seperti Hugh Jackman, Jake Gyllenhaal, Viola Davis, Terrence Howard, Melissa Leo, plus Maria Bello dan Paul Dano, ditambah naskah menarik yang ditulis Aaron Guzikowski, membuat  film ini sangat menjanjikan untuk dijadikan tontonan meski mungkin bagi sebagian penonton akan cukup melelahkan dalam durasi sepanjang itu disuguhi dilema moral dari para tokohnya.

Keluarga Dover dan Keluarga Birch merayakan Thanksgiving bersama-sama. Putri mereka Anna dan Joey bermain seperti biasa hingga kemudian ijin keluar untuk mencari peluit yang hilang. Dari sinilah kisah dimulai, kedua gadis kecil itu turut hilang. Minimnya saksi dan tidak adanya jejak yang bisa dijadikan petunjuk membuat polisi harus turun tangan, dan detektif Loki ditugasi menangani kasus ini.

Pada perjalanananya banyak pihak-pihak muncul dan dicurigai sebagai tersangka, seorang remaja aneh yang disinyalir lemah mental dan tinggal berdua bersama bibinya, seorang pendeta tua pemabuk yang menyimpan mayat lelaki di basement rumahnya, serta pria muda penguntit yang selalu membeli pakaian anak-anak di swalayan. Ketiganya terlihat punya motif meyakinkan untuk melakukan hal tersebut terkait predator anak yang biasa dijadikan sebagai objek seksual. Belum lagi aksi nekat Keller Dover yang main hakim sendiri sambil mengajak Franklin Birch dan istrinya, Nancy, berdasar kecurigaan pribadi, membuat konsentrasi detektif Loki terbelah dan makin menambah rumit kasus ini. Namun pada akhirnya Keller dan Loki terseret pada satu pelaku utama yang punya motif lebih kuat.

wpid-Prisoners-Cast.jpg

Meski seluruh pemeran bermain dengan baik (terutama Hugh Jackman dan Paul Dano), namun karakter Keller Dover yang terlampau mendominasi membuat porsi peran menjadi kurang merata bagi aktor-aktris lain untuk mengeksplorasi karakter yang dimainkan, dan hal ini sangat disayangkan mengingat akting para pendukung film Prisoners termasuk dalam jajaran atas dan sudah tidak diragukan lagi. Di film ini pula Jake Gyllenhaal menggemukan tubuhnya sehingga terlihat lebih berat dan buncit. Pun juga motif dari si pelaku, bagi saya, agak mengurangi keseksian film ini yang sejak awal sudah dibangun dengan apik, namun tetap saja usaha dari sineasnya untuk memberi kejuatan tak terduga patut dihargai.

Terlepas dari semua hal diatas, secara keseluruhan film ini cukup memuaskan dan menyenangkan bagi penggemar drama semacam ini dan lebih enak nontonnya kala hari hujan biar satu nuansa dengan filmnya yang juga berlatar hujan yang dingin dan kelabu. Dan seperti tagline film ini “Every Moment Matters”, selalu buka mata anda agar bisa melihat dengan jeli petunjuk-petunjuk yang tersebar sebelum film selesai, atau kalau tidak mau pusing dan cuma ingin mengikuti alur saja tanpa menebak-nebak juga boleh heheheheh. Sekian.

Film-film serupa rekomendasi Crimson Strawberry: Mystic River, Gone Baby Gone, Changelling.

==================

– Hugh Jackman mendapat nominasi Oscar di film Les Misérables

– Jake Gyllenhaal mendapat nominasi Oscar di film Brokeback Mountain

– Viola Davis mendapat nominasi Oscar di film (antara lain) The Help dan Doubt

– Terrence Howard mendapat nominasi Oscar di film Hustle & Flow

– Melissa Leo meraih Oscar di film The Fighter

– Maria Bello mendapat nominasi Golden Globe di film A History of Violence dan The Cooler

– Paul Dano bermain apik di film antara lain, Little Miss Sunshine dan There Will Be Blood

Iklan

2 pemikiran pada “Prisoners (movie review)

  1. Membaca reviewnya saya langsung keinget film oscar ‘Mystic River’.
    Bisa jadi emang ini film membidik award.

    Saya menyukai aksi Paul Dano pasca ‘Little miss sunshine’ dan meledak di film ‘There will be Blood’.

    Prisoners belum nonton, dvd ga dibawa pasca pindahan. Sepi tontonan.

    😀

    1. Yup, lebih mendekati mystic river meski….. (berhubung mas bro belum nonton jadi blm bisa bahas plus minusnya 😀

      Yup (lagi), sepertinya Paul Dano lebih mendalami peran watak ketimbang jual tampang dan dia punya potensi di zona itu….

      Wow! Selamat pindahan, semoga kerasan ditempat baru 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s