Love For Rent

wpid-Love-for-Rent.jpg

Sometimes less is more. Apa yang bisa diambil oleh anda, sebagai pembaca, dari naskah pendek nan biasa untuk peringatan hari AIDS sedunia tahun ini? Bahasannya tahun depan yaaaa…… *kalau ingat…… 😀

EXT. JALAN – MALAM
Jalanan ramai oleh para pedagang, beberapa perempuan berpakaian minim berdiri sepanjang pinggir jalan. Bahasa tubuh mereka genit, mengundang para pengguna kendaraan yang sengaja atau tanpa sengaja lewat untuk berhenti dan “bertransaksi”.

Sebuah mobil berhenti di depan seorang perempuan muda usia dua puluh empat tahun, berperawakan kurus, mengenakan tank top merah menyala, memakai rok mini denim biru muda, rambutnya diluruskan secara paksa, riasan wajahnya tampak menor. Silpi.

Sebuah mobil pick up butut menepi ke arahnya. Silpi, dengan gaya genit, menghampiri mobil.

Kaca mobil diturunkan, terlihat seorang pria, usia awal tiga puluhan, memakai kaos kuning, penampilannya bisa dibilang lumayan. LELAKI 1.

SILPI
Apa kabar, Mas?

LELAKI 1
Baik.

SILPI
Mau jalan, Mas?

LELAKI 1
Boleh, berapa?

SILPI
Seratus lima puluh.

LELAKI 1
Mahal banget! lima puluh ya?

SILPI
Yaaaa si Mas, lima puluh kemurahan, cuma cukup buat colek-colek doang.

LELAKI 1
Kalau seratus lima puluh cukup untuk apa?

SILPI
Apa saja terserah Mas.

LELAKI 1
Seratus ya?

SILPI
Seratus dua lima.

LELAKI 1
Seratus dua puluh.

Silpi pura-pura berpikir.

LELAKI 1
Gimana? Kalau nggak mau, cari yang lain nih!

Lelaki 1 menghidupkan mesin mobilnya.

SILPI
Boleh lah.

Silpi naik ke mobil LELAKI 1. Mobil melaju.

FADE OUT
FADE IN

INT. KAMAR BEDENG – MALAM
Kamar berukuran kecil berdinding triplek bercat putih luntur dan mengelupas dimana-mana ditutupi potongan kalender bergambar model perempuan berbikini, disisi lain poster Shah Rukh Khan bersanding dengan poster Anjasmara muda.Silpi masuk terlebih dulu, dibelakangnya LELAKI 1 mengikuti.

SILPI
Mau sekarang Mas?

LELAKI 1
Tunggu, temenku mau datang.

SILPI
Tapi tadi perjanjiannya sendiri.

LELAKI 1
Aku bayar dobel deh

SILPI
(genit)
Jadi tigaratus ya.

LELAKI 1
Hus enak aja, duaratus duapuluh.

SILPI
Ya si Mas, ngelayanin dua orang kan capek beda dengan satu lawan satu. Dua ratus lima puluh.

LELAKI 1
Ya sudah dua ratus limapuluh.

Lelaki duduk ditepi ranjang, Silpi duduk dipangkuan Lelaki 1, menyalakan rokok Lelaki 1 dengan koreknya. Kemudian ia menyalakan rokoknya sendiri. Keduanya asyik merokok. Pintu diketuk dari luar.

LELAKI 1
Ah! Datang juga dia.

Lelaki 1 bangkit menuju pintu dan membukanya, sesaat ia seperti tengah berbincang-bincang. Teman Lelaki 1, Mas, adalah seorang pria yang lebih muda, penampilannya juga biasa, lebih mirip penampilan sopir atau kernet kendaraan besar. Kulitnya legam, badannya sedikit kurus namun padat berisi.Sesekali Mas mencuri pandang pada Silpi yang sedang mengorek-ngorek tas.

LELAKI 1
Eh, kenalkan temanku.

SILPI
Halo Mas, Silpi.

Silpi dan Mas berjabat tangan.

SILPI
(contd)
Mau maen sekarang?

Lelaki 1 dan Mas mengangguk-angguk dan mengatakan “Ya” hampir bersamaan.

Silpi mengeluarkan satu sachet kondom dari dalam tasnya.

SILPI
(contd)
Tapi pakai ini ya?

Lelaki 1 dan Mas tampak tersinggung saat disodori kondom.

LELAKI 1
Akh! Ngapain pake begituan?!

SILPI
Buat jaga-jaga Mas.

LELAKI 1
Apa? Lu pikir gue ama temen gue ini bawa penyakit apa? Lonte murahan aja belagu lu!

SILPI
Bukan begitu Mas.

LELAKI 1
Cewek lain aja, yang jauh lebih cantik dari lu, terima-terima aja. Lha elu, udah biasa, sok lagi.

MAS
Udah, kita booking yang lain.

Silpi terus bertahan, kali ini dia mulai glendotan pada Lelaki 1 dan Mas.

SILPI
Tunggu dulu dong Mas, Mas. Saya jamin deh, pake atau tidak pake rasanya tetep sama, tetep nikmat.

LELAKI 1
Apa enaknya pake karet? Keset tau! Mahal iya, nikmatnya nggak seberapa.

Mas melepaskan pelukan Silpi dengan kasar.

Lelaki 1 dan Mas siap beranjak, dengan bahasa tubuh seperti calon pembeli yang pura-pura meninggalkan penjual karena tak cocok harga.

MAS
(pada Lelaki 1 – bergumam)
Dikiranya enak apa pake karet.

LELAKI 1
Emang dasar, sok!

Lelaki 1 dan Mas sudah sampai diambang pintu dan membukanya. Dibelakang mereka Silpi terlihat berpikir. Saat dua pria itu hendak pergi Silpi memanggil.

SILPI
Mas… Mas… tunggu!

MAS
Apa?

Silpi menghampiri dengan genit kemudian membelai dada Mas.

SILPI
Maafin Silpi ya, buat Mas sama Mas Silpi kasih perkecualian deh.

LELAKI 1
Perkecualian apa?

SILPI
(menunjuk kondom diatas tas)
Nggak pake itu.

Mas mencolek dagu Silpi dengan gemas.

MAS
Nah, begitu dong, kan sama-sama enak. Kita nggak perlu kasar, kamu tak ditinggalkan pelanggan.

LELAKI 1
Lagian ngapain pula sih pake karet-karet segala, kita aja yang udah bertaun-taun gonta-ganti pake nggak pernah tuh terkena penyakit aneh-aneh.

SILPI
Iya Mas iya… Silpi percaya.

CUT TO:
INT. LORONG BEDENG – MALAM
Pintu kamar nomor 10 yang ditempati Silpi, Lelaki 1, dan Mas ditutup dari dalam oleh Mas.

FADE TO BLACK.

TAMAT

=====================

Love For Rent adalah prekuel dari cerpen Pagi Di Pantai dan terkait  dengan cerpen Nama : Bidadari yang semula, keduanya, berbentuk naskah singkat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s