Sebuah Keputusan

UNTUK DIPERHATIKAN : Cerpen Sebuah Keputusan, karya Alberthiene Endah, merupakan satu dari empat belas kisah dalam kumpulan cerpen DARI DATUK KE SAKURA EMAS (Gramedia Pustaka Utama, 2011).

wpid-Sebuah-Keputusan.jpg

“Jadi kau tidak mau pakai sawi?” aku menatapnya dengan rileks. Tepatnya, berusaha rileks. Memang biasanya serileks itu aku bertanya. Ia menggeleng. Aku mengangguk. Berusaha wajar. Angin sore menyentuh tengkukku. Aku makin merasakan ketidakwajaran.

Di depanku telah ada bilah papan talenan berbentuk  oval dengan lukisan samar bebek berenang, dan tanganku sudah memegang pisau. Beberapa lembar sawi  telah kucuci dan terlihat basah segar di dalam Waskom plastik berwarna kuning pucat. Di sebelahnya juga ada waskom berwarna pink bening berukuran lebih kecil dengan irisan bakso dan sosis. Kekasihku sangat menyukai keramaian ini dalam mie instan rebus yang selalu kami buat beberapa kali sepekan setiap petang. Ia menyukai tambahan dua butir telur, bukan satu. Entahlah, tubuh kecilnya adalah pemangsa santapan yang penuh gairah.

“Aku ingin mie polos,” Ia menggumam lembut. Sejak menginjak apartemen lima belas menit lalu, ia sudah mengatakan sebelumnya, ingin mie  instan yang tidak diwarnai apapun. Polos. Bukan kebiasaannya. Tapi aku tak yakin dengan apa yang dia katakan dan tetap menyediakan segala pernak-pernik keperluan mie rebusnya. Mataku melirik sebentar ke arahnya, kekasihku, Amelia. Ia telah menghabiskan waktu membolak-balik majalah wanita selama sepuluh menit, menyalakan televisi, menatap dengan kosong ke layar, dan mematikan lagi.

Kini, ia membuka blusnya. Atasan berpotongan V-neck yang rendah dengan karet di bagian pinggang. Bagian leher dan dada atasnya yang putih bersih terlihat indah dengan atasan itu. Terbuat dari bahan sutera yang sangat tipis hingga memperlihatkan garis bra cokelat tua dengan cukup jelas. Tapi tadi ia melapisi blus itu dengan blazer berlengan sesiku berwarna cokelat muda. Roknya berpotongan A-line dengan motif kotak-kotak kombinasi warna kunyit, cokelat tua dan cokelat susu. Ia selalu pandai meracik warna untuk busananya.

Blus-nya sudah terlepas. Sekarang sudut mataku menangkap lekuk halus yang telah sangat kukenali. Siluet tubuh yang tidak terlalu sintal tapi juga tidak kurus. Ia memiliki dada berukuran sedang yang tidak kelewat menonjol, leher jenjang berlapis kulit bayi, sebidang area perut yang menyenangkan karena tak ada lemak berlebih di sana, dan siluet bokong yang lentik. Aku memegang sawi tanpa tahu harus kuapakan.

“Kita harus berhenti berlangganan susu murni,” katanya lirih. Aku menangkap suaranya seperti dibebani maksud yang lain. Kata ‘berhenti’ seolah memiliki bobot lebih dari sekadar konteks berlangganan susu.

“Berhenti?” tanyaku. Kuletakkan sawi, dan berjalan menuju kompor. Kunyalakan dengan perlahan. Air di dalam panci mulai menggelegak lembut. “Tapi aku masih suka. Tak ada alasan berhenti berlangganan susu….” Suaraku tenang. Tepatnya, berusaha tenang. Kami berlangganan susu murni dari seorang bapak tua yang menyelipkan brosur di bawah pintu. Tetangga kami, seorang pria berdarah India bernama Khumar mengatakan susu murni si bapak tua kualitasnya sangat baik. Kami ikut berlangganan, dan sekarang sudah dua tahun.

“Tidak sebanyak aku meminumnya. Jadi sebaiknya kau berhenti berlangganan,” Suaranya tampak tak berperasaan. Datar, tapi menguasai. Ia mendekatiku dan mendaratkan kecupan di belakang leherku. Sebuah kecupan pendek. Biasanya dia akan berlama-lama memainkan bibirnya di leherku dan mengeluarkan bunyi nafas yang kukenal baik. Sekarang, nafas itu sungguh-sungguh kurindukan.

Aku menoleh sebentar padanya. Ia sudah mengenakan kimono sutera berwarna marun. Lalu ia berjalan menuju jendela dan membukanya. Angin masuk dengan leluasa. Petang di apartemen kami selalu sejuk. Jendelanya tidak menghadap ke barat. Kami tidak pernah menerima percikan sinar matahari sore yang kerap jauh lebih menyilaukan dari matahari pagi. Amelia memandang keluar. Lebih lama dari biasanya. Kami menyukai pemandangan nun jauh di seberang apartemen lantai 20 ini. Pemandangan timur Jakarta yang tidak dipenuhi riak gedung tinggi sepadat di barat.

“Apakah kau akan meneruskan sewa apartemen ini?” Amelia kini menoleh padaku. Aku berkonsentrasi pad mie instan yang perlahan-lahan telah kehilangan kekuatannya. Luruh layu dilumat air mendidih. Aku bersetia menatap asap yang berkejaran dari dalam panci. Wajahku memanas dan sedikit lembap.

“Yakin kau tak mau memakai apapun untuk mie ini?” Aku mengalihkan topik.

“Ya,” jawabnya pendek. “Tak usah bertanya lagi.”

Aku menuangkan mie dan kuahnya dengan hati-hati ke mangkuk, membubuhkan bumbu kaldu setengahnya saja. Amelia tidak menyukai mie rebus yang terlalu gurih. Ia phobia dengan isu MSG. Aku lalu menyibukkan diri dengan mie rebus untukku sendiri. Sawi, sosis, dan bakso kutumpahkan semua ke dalam panci. Kupecahkan pula sebutir telur ke dalamnya. Segalanya kulakukan dengan tenang, seperti juga sore-sore milik kami sebelumnya. Kuusahakan kenyamanan sore ini tidak jauh berbeda dengan yang sudah-sudah. Saat-saat pulang kantor seperti ini merupakan detik-detik bercahaya untuk hubungan kami. Jarak kantor Amelia maupun kantorku tidak seberapa jauh dari apartemen ini, dan kami tidak pernah memerlukan kendaraan apapun. Kami selalu berjalan kaki.

Amelia sudah membawa mangkok mie-nya ke meja mungil di dekat pintu balkon. Ia selalu sabar menanti sampai aku selesai memasak untuk diriku sendiri. Kami biasa menyantap mie instan rebus berdua di balkon ketika senja merambat menuju malam, dan gelap menyudahi obrolan kami. Lidah kami dengan nikmat mengecap gurihnya kaldu dan menyapunya dengan tegukan teh camomile hangat. Kadang kami juga menyeduh teh mint. Sesekali saja kami membuka kaleng minuman bersoda.

Aku selalu bahagia mendengarkan ceritanya dalam sore-sore kami yang hangat. Gadisku bekerja di advertising sebagai art director. Ia cerdas. Setelah lulus dari sebuah universitas di Sidney, mengambil bidang graphic designer, ia hanya membuang waktu sebulan untuk menganggur. Advertising sangat besar di Jakarta segera merekrutnya dan menjadi rel bagi lokomotif enerjik seperti Amelia. Ia memiliki 12 orang anak buah, dan bergaji 25 juta. Setiap senja selalu kudengar cerita yang berbeda di bibir mungilnya yang selalu basah. Tentang proyek-proyek perusahaannya. Tentang interaksinya dengan banyak kolega. Kadang aku sulit mempercayai bagaimana tubuh mungil ini bisa menjadi mesin komando bagi proyek-proyek iklan yang sangat besar. Tapi Amelia sagat cerdas, dan ia ambisius. Tubuh mungilnya adalah poros energi.

Dibanding Amelia, aku lebih irit bercerita. Pekerjaanku sebagai manajer keuangan sebuah perusahaan farmasi tidak pernah memberiku kesempatan untuk berpetualang sehebat Amelia. Aku menelan dunia yang sempit dengan pengalaman kerja yang berkutat di hal yang sama, perhitungan keuangan, analisa budget, membuat laporan, menyiapkan kuitansi. Hariku diikat oleh ruangan 4 x 4 meter bercat putih tulang dengan lemari-lemari kabinet besi berwarna perak kelabu di sekujur sisinya. Rak kayu yang dipenuhi filing box berisi dokumen-dokumen keuangan yang sangat padat makin menambah kaku ruang kerjaku di kantor. Meja kerjaku tidak pernah memancingku untuk berbuat sesuatu. Tumpukan kertas dan map-map karton berwarna pastel yang menumpuk tidak akan bisa tertolong bahkan oleh taplak artistik sekali pun. Aku juga tidak meletakkan foto Amelia di meja kerja. Satu-satunya hiburan hanya sebuah jendela dengan dua daun yang ditutup kerai aluminium.

Aku tidak berinteraksi dengan beragam manusia, kecuali beraneka warna map karton yang setiap hari hilir mudik di meja kerjaku. Aku memiliki dunia yang jauh lebih senyap dan datar dibandingkan Amelia. Jika ditanya bagaimana warna hari-hari kerjaku, jawabanku tidak akan jauh berbeda untuk menjelaskan hari Senin, Selasa, dan seterusnya.

Namun aku tidak pernah menganggap hidupku statis. Aku pandai menghibur diriku sendiri. Setelah berjam-jam lewat sejak pagi hingga sore, aku tahu bahwa petang akan membawa kehidupan yang berbeda. Kehidupan dengan permainan hangat dan sejuk yang datang bergantian. Petangku akan diributkan oleh celotehan merdu Amelia. Kami biasa duduk di balkon, menghadapi meja mungil berbentuk bulat, menyeruput mie instan atau makanan yang kami beli sepulang kantor, membuat kopi mocha, dan berbicara apa saja. Aku menjadi pendengar yang baik untuk gadis yang kucintai. Kuberikan segenap hati untuk mendengar segala yang ia ceritakan. Dan kami akan menutup petang dengan mandi, menonton televisi, memasak lagi jika lapar, lalu tidur saling mendekap. Seperti itulah hidupku. Kehiudpan datar yang disempurnakan oleh kehadiran Amelia.

Sore ini, seperti juga sore-sore sebelumnya seharusnya berjalan sama. Mie instan di panci telah menyerah kalah. Kumatikan kompor dan dengan tenang kumasukan mie rebus ke dalam mangkuk dengan saringan, agar telur tidak terbuang. Baru seterlah itu kumasukan kuah secukupnya. Aku membawa mangkuk ke meja. Sekarang kami duduk berhadapan. Aku masih mengenakan busana kerjaku, kemeja motif garis berwarna biru muda dan pantalon abu-bau. Aku enggan menganti bajuku bila belum mandi.

“Dan kita sama-sama lupa membeli pulsa listrik,” Amelia tertawa kecil. Semua penghuni apartemen ini harus membeli pulsa listrik di kantor manajemen di lantai dasar. Kantor itu tutup pada pukul empat. Dan ini hari Sabtu. Mereka tidak membuka kantor pada hari Minggu. “Persediaan listrik tidak akan cukup sampai besok,” Amelia mulai menyendok kuah dan menyeruputnya dengan nikmat. Ia seperti tidak memusingkan persoalan listrik. Ini aneh. Amelia adalah manusia dengan radar tajam terhadap segala elemen kebutuhan hidup. Ia tidak akan membiarkan ada kelalaian sedikit pun. Apalagi untuk listrik.

“Kita bisa pergi besok selama lampu mati….” Kataku. Mulai menyendok kuah dan menangkapi irisan sosis dan bakso. Aku mengunyah perlahan. Berusaha sama tak pedulinya seperti dia. Tapi sulit. Sore ini akan semakin berjarak sempit dengan hari yang kutakutkan. Sedetik pun aku tidak akan bisa kehilangan kepedulian.

“Yah kita akan pergi besok,” Amelia menunduk. Lalu ia sibuk menghabiskan mie dengan kepala terus menatap permukaan meja.

“Kau akan benar-benar pergi?” Aku menatap gadisku. Berusaha mengatur nafasku dengan tenang. Aku tak menyukai rona pembicaraan ini. Sesuatu yang seharusnya telah bisa kuterima dengan lapang dada sejak berbulan-bulan lalu, ternyata masih serupa ganjalan berduri di saluran nafasku.

Amelia menghabiskan kuah terakhir. Ia lalu bersendawa sedikit dan memandangku. “Kita telah membicarakannya berkali-kali, bukan?” Ia meneguk teh sebentar. “Bisakah kita menghabiskan sore ini dengan wajar, seperti yang kuminta. Aku ingin perpisahan kita berlangsung wajar….”

Aku mengangguk. Ya, kami telah membicarakannya berkali-kali. Aku menghabiskan kuah di mangkuk dengan rasa perih.

ooOOoo

Tiga tahun lalu, ia masih berupa perempuan muda 24 tahun yang sangat cerdas dan tengah memburu dunia. Kami bertemu di Bali. Aku sedang menghabiskan cuti tahunanku setelah berminggu-minggu tenggelam menyelesaikan laporan keuangan tahunan yang membuatku nyaris muntah melihat lembaran kertas bertuliskan angka. Bonus dari kantorku, sebanyak lima belas juta rupiah kuputuskan untuk membiayai liburanku satu minggu di Bali.

Tanpa saling mengenal, kami menginap di resor yang sama di Ubud. Sebuah resor bergaya antik dengan jumlah kamar yang sedikit dan eksklusif. Resor itu menyediakan perpustakaan dan kolam renang mungil di masing-masing kamar. Aku menghabiskan lebih dari satu juta untuk tarif perhari, dan ajaibnya kali itu aku merasa tidak keberatan. Stres kerjaku sudah terlampau akut.

Aku tidak pernah mengetahui kehadirannya di resor itu sampai kami bertemu secara kebetulan di restoran resor. Kami menyantap nasi goreng kambing di restoran yang menghadap ke sawah berundak-undak. Bambu-bambu obor berjajar di jalan setapak di antara persawahan dan menghasilkan panorama unik bulir padi yang tertimpa cahaya dalam gelap. Ia duduk di meja sudut, aku di meja tengah. Kami lalu menghabiskan santapan, masing-masing sendirian, selama satu jam.

Lalu kami berkenalan karena sama-sama menyadari kesendirian masing-masing di resto yang sunyi itu. Kami bercakap-cakap. Ia menyukai balet, musik klasik dan disko sekaligus. Ia bepergian ke mal-mal terkemuka di Singapura dan Paris. Ia juga mengenali dengan baik museum-museum di Jakarta. Ia mengikuti kelas biola klasik di Sidney, menghabiskan banyak waktu untuk membuat foto-foto karakter anak-anak kecil dengan kamera Canon-nya. Ia menyukai makan enak, gemar memasak dan bersyukur bahwa Tuhan tidak menghukumnya dengan ganjaran lemak tubuh. Aku menyukainya dalam sekejap. Ia menyerupai pelangi dan halilintar.

Pada malam itu aku tidak banyak bercerita, karena aku memang miskin bahan cerita. Tapi Amelia rajin menanyaiku sehingga aku terpancing bercerita walau singkat. Aku adalah manusia dengan kadar ketenangan melebihi takaran manusia lainnya dalam menghadapi hidup. Termasuk menghadapi kebosanan hidupku. Keseharianku yang lurus dan kering. Pekerjaanku yang menjemukan. Kehidupanku yang tidak mengalami pergeseran signifikan dalam pencapaian finansial, mengikuti pergerakan kenaikan gaji yang begitu lambat. Wajah keseharianku tak berbeda jauh dengan  empat atau lima tahun sebelumnya. Menghabiskan Senin sampai Jumat dengan pekerjaan seputar keuangan. Memasak pada hari sabtu dan menghabiskan Malam Minggu dengan memutar DVD. Pada hari minggu, usai mengikuti Misa di gereja, aku bertandang kerumah kakak sulungku, seorang perempuan keibuan berandan empat dan hidup damai dengan suami arsitek yang mapan. Tak ada yang meributkanku karena belum juga menikah pada usia 34 tahun. Aku hanya bepergian ke mal paling banyak dua kali dalam sebulan. Sekali untuk mencari sesuatu yang sedang kubutuhakan. Sekali untuk turun ke lantai basemen dan berbelanja bulanan di supermarket. Aku tak peduli dengan semua catatan kebosanan dalam hidupku.

Amelia malam itu juga bercerita. Ia datang ke Jakarta dengan sejuta cita-cita. Mimpinya menggejolak terarah pada dunia advertising. Ia menyukai ide, kreativitas, menggulung diri dengan imajinasi-imajinasi atraktif. Ia menggemari keramaian dan bersemangat melakukan banyak hal di tengah banyak orang berbakat. Aku dan Amelia seperti batu dan kupu-kupu.

Malam itu kami mengakhiri obrolan di pekat malam dengan segelas red wine di masing-masing tangan. Kami bersulang. Bertatapan dengan dalam. Tersihir oleh sebuah getaran yang entah kapan bersekutu di antara kami. Merasakan hentakan firasat yang sama. Mata kami sama-sama membutuhkan. Kami tak berbicara banyak untuk menyepakati itu. Kami tidur di kamar yang sama. Ia mengalah masuk ke kamarku. Kami bercinta pada malam pertama kami berkenalan. Sesimpel itu. Sedahsyat itu.

ooOOoo

“Kurasa, kau tak usah lagi memperpanjang sewa apartemen ini. Aku tak yakin apa kau bisa melewatkan hari sendiri di sini setelah aku pergi,” Amelia menghela nafas dan meraih tanganku. “Seharusnya, dan kuyakin kau telah mencapai itu, kau telah kuat kan?”

Sebuah pertanyaan retoris. Ia tahu, jawabanku adalah tidak. Aku tak pernah siap berpisah dengannya.

Amelia mengalihkan pandangan ke luar balkon. Biasanya ia akan mengoceh tentang konsep-konsep kreatifnya sambil memandang lepas tanpa obyek jelas jauh di sana. Tapi kali ini aku tahu, pandangannya mati. Buntu. Ia seperti terbentur dinding di atmosfir bebas. “Aku tidak akan berubah keputusan…. Kau tahu itu.”

“Baiklah,” kataku. “Apakah kau melakukan hal-hal aneh untuk mengajakku bersiap kehilanganmu? Jika iya, kau tak perlu melakukan itu, karena aku akan belajar siap.” Suaraku renta. Kepayahan di tengah emosi sedihku. Aku memandangnya dengan lekat.

“Aku hanya ingin kita menyudahi ini semua dengan rileks, wajar, cepat, dan ringkas. Sebab kita memang telah sepakat tidak akan memelihara hubungan kita berlama-lama….” Suaranya serupa seorang pemimpin rapat.

“Kita sudah berjalan tiga tahun. Tidak semudah itu menyuruhku untuk lupa padamu,” suaraku luka.

“Aku hanya ingin kau tidak lagi mengingat budaya kita dalam apartemen ini,” katanya lirih. “Itu sebabnya aku menyarankanmu untuk pindah. Kamu tahu kita tak akan bisa menyudahi ini sesungguhnya kan?”

“Kau telah menjawab perasaanku.”
“Yah….ini berat.”

Dan kami sudah berhari-hari terjebak dalam obrolan buntu seperti ini. Aku lupa ini hari ke berapa. Yang jelas telah lebih dari satu minggu. Kami membicarakan tentang perpisahan kami yang akan segera terjadi, melewati reli-reli percakapan yang rumit, kemudian berhenti ketika kami sama-sama buntu.

“Aku bahkan tak punya ide untuk menemukan cara membuatmu lebih ringan,” matanya berkerjab bening. Biasanya aku akan menciumnya ketika ia melemparkan sorot bercahaya seperti itu. Gadisku memiliki pancaran mata terindah di dunia. “Aku hanya tak bisa membayangkan kau akan pedih.”

Aku menatapnya tanpa bersuara. Kuharap akan ada sebuah kejutan. Keputusan yang ekstrem berupa perubahan sikap. Tapi tidak. Ia benar-benar menyudahi percakapan.

“Baiklah,” ia berdiri. “Kamu mau mandi?”

Aku menyentuhnya. Memandangnya dengan sorot memohon yang kuyakin cukup membuatku tampak lemah. “Bisakah kita berbicara hingga selesai?”

Amelia menghela nafas dan memandangku sesaat. Ia menggangguk. Ia duduk lagi. “Sekarang, aku bahkan tak tahu harus berbuat apa…..”

Apalagi aku. Kutatap gadisku. Ia mulai berkaca-kaca. “Aku mencintai kamu melebihi apapun, Amelia,” aku mulai meratap pelan. Aku tak pernah menangis. Tidak di depannya. Aku ingin menjadi sosok yang kuat di depannya. Aku akan jadi dinding yang tak akan rubuh untuk kelinci mungil yang selalu bergerak seperti dia. Berhari-hari kemarin aku menjadi benteng yang kuat bagi terjangan badai yang menggerus-gerusku dari dasar ke puncak.

“Bisakah kau meyakiniku. Aku sakit. Aku hancur….” Aku meraih tangannya. Meletakkan punggung tangannya di wajahku. Aku tak pernah membiarkan gambaran ini ada di benak. Bahwa suatu saat ia akan meninggalkanku. Hatiku kemudian meluncurkan pertanyaan tak bersuara. Bisakah kau tidak jadi meninggalkanku? Bisakah kau tidak jadi menikah dengan pria itu? Bukankah aku kau butuhkan? Bukankah aku pelindungmu selama ini?
Dan Amelia masih beku. Bergeming.

Tiga tahun lalu.
“Jadi apa yang membuatmu yakin pada cintaku?” Kami menjilati es krim seperti anak kecil. Kereta belanja yang bertimbun barang beridri di dean kami yang duduk di bangku kayu, di pinggir area parkir toko swalayan raksasa. Itu adalah satu bulan setelah kami berkenalan dan bercinta di Bali. Kami menjadi dua makhluk yang sangat rapat di Jakarta. Amelia baru saja mendapat pekerjaan di perusahaan Advertising besar itu.
Ameli merapat padaku. “Kau Menjagaku,” katanya perlahan. Dan kudengan kecipak-kecipuk suara lidahnya menjilati es krim. Aku tak memerlukan lagi jawaban banyak darinya. Kelinci cerdasku selalu jujur.

Hari itu adalah hari pertama kami memulai lembaran hidup baru. Tinggal bersama di apartemen yang kami sewa secara berpatungan. Amelia meninggalkan rumah orangtuanya di Bogor. Aku menyudahi kontrak paviliun mungil di Kebayoran. Kami berbelanja dengan bersemangat. Kami beruntung mendapatkan apartemen seluas 80 meter persegi berkamar satu yang nyaman dan sudah lengkap dengan furniture. Walaupun Amelia sama sekali tidak menyukai interior bergaya minimalis, namun ia dengar segera meyakinkan aku, ia bisa mewarnai apartemen kami. Selang seminggu kemudian interior kami sudah didekor gaya art deco dengan tambahan-tambahan furniture dan aksesori baru yang dibeli Amelia.

Kami melewatkan hari-hari yang indah, bulan-bulan yang hangat, tahun-tahun yang sempurna. Duniaku mengalami pergeseran dengan Amelia di sisiku. Aku menonton bioskop, berpetualang dari satu kafe ke kafe lain. Menyusuri lorong-lorong mal dengan gempita suara Amelia. Kami juga pergi ke club, mengopi di lounge, berenang.

Kemudian aku tahu, Amelia adalah selendang koyak di balik pembawaaannya yang seperti bola karet.

“Aku pernah dipukuli kekasihku saat kuliah,” katanya suatu kali. “Lihatlah ini….” Ia memperlihatkan bekas luka berwarna gelap di paha atasnya. Sebuah bercak seukuran 4 cm yang semula kukira tanda lahir. “Itu salah satu bekasnya.”

Ia kemudian menceritakan sesuatu yang lebih membuatku terkejut. Ibunya juga abusive terhadapnya. “Orang-orang menganggapku lemah. Mereka salah. Tanpa mereka, aku adalah orang yang kuat,” katanya tersenyum. Malam itu kami tertidur. Aku memeluk Amelia dengan erat, dan ia menangis sepanjang malam. Aku tak mau bertanya apapun tentang traumanya. Ia telah menyembuhkannya sendiri melalui pengakuannya.

Akan tetapi kemudian aku tahu, ia mencintaiku karena trauma itu.

“Aku aman di dekatmu,” katanya suatu hari. “Karena kamu menjagaku.” Ia menatapku tanpa berkedip. “Maukah kamu berjanji akan menjagaku terus?”

Aku memeluknya dengan sorot mataku. Menjelajahinya dengan pelukanku.

Dan kami terus menjalani hubungan itu. Hidup bersama di apartemen. Sampai tiga tahun.

Kemudian sesuatu hal datang ke telingaku.

“Aku akan menikah…..” Ia memandangku.

“I will….” Aku tersenyum.

“Tidak denganmu….”

ooOOoo

Kenyataan itu memang menyakitkan. Amelia pernah mengatakan, cepat atau lambat ia akan menikah dengan pria yang telah lama dijodohkan orangtuanya. Seorang pria yang sangat baik bernama Pandu. Gadisku secara berkala selalu mengingatkan aku, kami tak akan mungkin menikah. Ayahnya sangat mengharapkan dirinya menikah dengan Pandu.

“Aku mencintai ayahku. Ia adalah orang terbaik yang menyelamatkan hidupku,” katanya. “Mengertilah.”

Aku remuk. Tidak mudah menyuntikkan kata ‘mengertilah’ kepada tubuh yang telah menyerahkan segenap jiwanya kepada Amelia. Dalam diamku, aku adalah perengkuh cinta yang tak akan sanggup melepaskan pelukan. Tapi aku harus menerima. Amelia mengatakan itu tujuh bulan lalu, dan aku mulai melewati sore-sore yang penuh dengan ketakutan, juga kepedihan. Menghitung mundur sampai gadisku benar-benar akan pergi.

Sore ini, kami mencuci piring berdua. Sama-sama diam. Aku merasakan tanda-tanda kehancuran. Waktu menjadi lebih cepat berjalan, dan tiba-tiba saja menjadi sangat ngebut. Mengencang.

Amelia beranjak ke dalam kamar dan kudengar derit pintu lemari pakaian. Aku memejamkan mataku di dapur. Berusaha mencegah airmata jatuh. Ia akhirnya akan pergi. Selama setengah jam aku berdiri tanpa melakukan apapun di dapur. Lalu aku masuk ke dalam kamar. Amelia telah menyusun pakaian-pakaiannya dengan rapi di dalam kopor Louis Vuitton. Aku merengkuhnya dari belakang. Sangat kuat.

“Ijinkan aku menangis, Amel. Aku bukan orang kuat seperti yang kau bayangkan selama ini. Aku hancur kehilanganmu….”

“Kamu salah,” katanya terisak. “Kamu adalah orang yang sangat kuat, yang membuatku berani menjalani hari…. Aku jauh lebih sakit dari kamu….” Ia meletakkan tangannya di kedua pipiku. Matanya memeluk erat pandanganku. “Aku akan menikah dengan dia. Tapi kamu adalah suamiku sepanjang hidup.” Ia telah memberikan keputusan, sekaligus kepastian tentangku.

Malam itu adalah tangis terpanjang kami.

ooOOoo

Ia cantik sekali di hari pernikahannya. Mengenakan gaun berwarna krem dari bahan brokat yang sangat elegan. Buket yang ia pegang berwarna pink keunguan. Senada dengan dekorasi taman hotel yang disewanya sebagai arena pernikahan. pandu mengenakan setelah jas ringan berwarna salem. Ameilia hanya menundang 200 orang. Hotel menghidangkan menu Eropa dan Oriental yang sangat lezat. Kursi-kursi dan round table bertebaran dengan kain pelapis motif bunga bergradasi ungu. Sebuah pesta sore hari untuk hari yang mengesankan.

Aku membantunya di pesta itu. Hilir mudik sebagai panitia. Aku tak yakin apakah aku betul-betul telah kuat kehilangannya. Yang kutahu, aku akan kembali pada kehidupan datar yang utuh. Sejak pagi hingga pagi lagi. Tak akan kudapatkan lagi sore yang hangat dan malam yang memberiku mimpi indah. Kecuali pada hari-hari di mana Amelia berjanji akan mengunjungiku sesekali, dan kami akan menjadi sepasang suami istri dalam dunia kecil kami. Itu tekadnya, dan aku percaya.

Senyumnya mengembang seperti warna lavender yang hangat sore itu. Aku memandangnya dari kejauhan. Sama seperti dirinya, aku juga mengenakan gaun brokat yang simpel, berlengan setali dengan sebuah corsage di dada. Warna gaunku, juga lavender. Orang bilang, itu adalah warna duka yang bertopeng romantisme.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s