Menunggu Nina

wpid-Menunggu-NINA.jpg

Sore selepas hujan.
Basah masih menggenang dimana-mana. Jalan, trotoar, pepohonan ditepian, halte kecil yang sesak berjejal para pejalan dan pedagang, deretan box telepon umum yang sudah rusak tak terpakai, sampah-sampah kecil nan ringan berlayar mengikuti arus air menuju gorong-gorong.

Disalah satu deret kedai-kedai jajanan serba ada, Alex duduk membelakangi tembok kelabu berhias bendera jack union yang membentang dipaku. Tempat itu bukan sebuah café elegan seperti yang banyak tersebar di mal-mal dimana para pelayan berdiri dengan setia dan tersenyum setiap kali pelanggan masuk, lalu aroma kopi atau roti yang manis dan hangat menyeruak, menggelitik hidung pengunjung yang duduk santai sambil berbincang dengan pasangan atau sibuk sendiri dengan gadget terbaru. Tempat itu hanya sebuah ruang segi empat berukuran enam kali delapan meter berisi beberapa pasang meja kursi sederhana dan tempat pemesanan merangkap kasir yang diduduki satu pemudi yang tak terlalu ramah, serta empat pemuda pelayan yang kadang terlalu ramah.

Satu piring besar datar terhampar dimeja, menampang dua potong dada ayam goreng yang gemuk oleh tepung, sekepal nasi putih yang terlihat belum matang benar, beberapa batang kentang goreng pucat, serta satu sachet saos tomat dan sambal cabai, setelah seorang pelayan menghidangkan padanya dengan tatapan setengah menyelidik.

Dulu, guru bahasa Indonesia di SD pernah mengatakan supaya anak-anak membiasakan menuliskan tentang pikiran dan kegiatannya, sebagai alih-alih cara supaya mereka mau berlatih karena kebanyakan tulisan anak-anak didiknya tidak bisa beliau baca. Alex adalah salah seorang yang kemudian gemar melakukannya, meski tulisan ia ternyata tak sepenuhnya bisa dibaca oleh orang banyak. Dan disaat sekarang, kala ia mulai merasakan percik-percik suka, Alex makin rajin melakukannya. Inilah tulisannya yang dicorat-coret pada sebuah kertas brosur promo paket hemat yang disertakan dibawah piring besar-datar.

Rambut: Negara ini telah merdeka hampir 70 tahun, menjalankan sistem demokrasi lebih dari satu dekade sejak orde baru tumbang, dan sering dipuji oleh orang-orang luar negeri sebagai negara paling demokratis. Aku tak percaya! Bagiku, yang baru kelas tiga SMP ini, demokrasi seharusnya adalah dimana setiap warga di negara ini bisa mengekspresikan diri secara bebas selama tidak melanggar hukum yang telah ditetapkan yang bisa membahayakan keamanan atau keselamatan satu atau banyak orang. Tapi pada kenyataannya, NOL BESAR. Aku beri contoh rambut. Disekolahku soal rambut saja bisa menjadi masalah yang luar biasa besar.

Beberapa waktu lalu seorang mantan artis cilik yang kini menjadi seorang transgender pernah bilang dalam wawancara disebuah bincang-bincang televisi bahwa sedari SMP rambutnya sudah dipanjangkan seperti anak perempuan. Guru-guru yang tak setuju memanggil, mengintrogasi, dan memerintahkan supaya rambutnya dipotong pendek seperti anak lelaki lain. Si artis yang mulai meninggalkan kecilikannya menjawab dengan pertanyaan, bisakah bapak atau ibu menerangkan korelasi panjang tidaknya rambut seseorang dengan prestasi akademik seseorang? Lagipula (yang ini karanganku) dia menambahkan, rambutnya dirawat dengan sungguh-sunguh, lebih indah, bersih, dan wangi ketimbang siswi-siswi malah.  Akhirnya, entah karena alasan apa dia diperbolehkan berambut panjang.

Beberapa remaja usia SMA masuk, dua pasang. Tertawa keras-keras, saling menggandeng mirip adegan opening sinetron. Seorang diantaranya, yang berparas paling cantik, mengedipkan sebela mata kala melewati Alex. Pipi Alex merona, melanjutkan corat-coret.

Demikian pula dengan warnanya. Kenapa semua rambut harus terlihat satu warna (hitam)? Menurutku yang masih tanggung ini, keseragaman hanya menimbulkan pandangan parsial. Pepatah rambut boleh sama hitam, namun isi warna-warni agaknya bohong. Bagaimana bisa warna-warni kalau setiap hari didoktrin berpikiran sama. Sedikit beda pasti menimbulkan kehebohan bersusul komentar berbumbu gosip dan kecurigaan. Dan dua hal itu yang terjadi padaku.

Beberapa waktu lalu, aku kesekolah dengan potongan rambut baru, cepak model jaman sekarang, dan diwarnai merah bendera. Ternyata satu sekolah geger. Seorang guru senior – teramat senior – yang mengajar PKN nyaris pingsan setelah sebelumnya berceramah panjang lebar sambil berkacak pinggang dan menunjuk-nunjuk padaku. Apalagi kala ia melihat kalung yang kuganti dogtag nya dengan liontin cerulit kecil, dia langsung murka. “Heh! Kamu mau jadi PKI ya! PKI ya! Iya! Gitu! Mau coba-coba jadi PKI kan, kamu kan?!!”

Aku hanya bisa melongo, tak mengerti apa yang dikatakannya. PKI? Apa itu? Pecinta Komik Indonesia? Apa pula kaitan dengan kemerahan rambutku. Jika warna = identitas dan merah = PKI berarti Indonesia setengah PKI dong karena benderanya separuh merah separuh putih.  Begitu juga para pencari rumput seperti si Otong yang sering lewat depan rumahku itu, berarti orang-orang kayak dia adalah PKI. Kenapa orang lebih melihat apa yang terlihat dari luar…
Langit kembali mendung, lebih tebal dari sebelumnya. Terdengar cekikikan dari arah dua pasang remaja SMA, Alex melirik, si gadis yang juga mencuri pandangnya melemparkan senyum samar.

Besoknya orang tuaku dipanggil dan aku diperbolehkan pulang saat istirahat untuk dihitamkan lagi dan “memperbaiki” potongannya (bagaimana memperbaiki rambut cepak? Digundulin?)

Aku masih ingat selama perjalanan aku terus menggerutu dan protes ini itu, sementara ayah dan ibu, yang duduk didepan, hanya saling melempar pandangan lucu sambil sesekali tertawa. Lalu ibu berkata, kurang lebihnya, “Kita hidup dinegara patriarki yang sedikit hipokrit, sayang. Kemerdekaan yang selalu didengungkan serupa tingkap kaca, seolah bebas tapi tetap kejedot setiap kita ingin bebas bergerak.” Aku tak paham, ingin paham, dan suatu hari nanti akan paham. Pasti. Pasti.

Aku suka kala ibu berkata-kata, selalu terkesan cerdas dan selalu terlihat cantik. Entah apa yang membuatnya selalu cantik, menarik, pintar, dan baik. Dia jarang berdandan jarang pula mengenakan pakaian gemerlapan, namun entah mengapa mata terasa sedap memandangnya berlama-lama. Barangkali karena dia selalu bersih, atau rapi, atau keduanya, atau ada hal lain diluar keduanya.  Aku ingin punya kekasih seperti ibu, dan Nina, yang sedang kutunggu, sedikit banyak seperti ibu. Aku juga suka pada ayah yang berpikiran praktis.

“Kau boleh mengenakan model pakaian sesukamu selama kamu nyaman dan tidak melanggar kesopanan. Kalau ada orang yang mencela jangan buru-buru menyalahkan  mereka. Barangkali kamu yang tidak bisa menempatkan diri.” Begitu komentar saat aku dilirik banyak orang sewaktu mereka sekeluarga makan bersama disebuah pujasera dan aku sengaja berpakaian rapi dengan celana panjang denim, kemeja tangan panjang motif kotak-kotak yang lengannya dilipat ala army style plus satu blazer berpotongan sederhana. Tapi aku tidak mau punya kekasih seperti ayah, karena ayah terlalu seperti diriku.

Aku tidak tahu bagaimana reaksi mereka kalau SMA atau kuliah nanti aku mentato tubuhku. Semoga reaksi mereka sama seperti saat melihat anaknya yang gemar bercukur (2 minggu sekali) untuk membuat rambutnya tetap cepak, dan sama pula saat kelak aku mengenalkan pacar perempuanku. Semoga…semoga…semoga…semoga….

Catatan Alex tak tuntas karena habis kertas. Lagipula dari tempatnya duduk ia bisa melihat Nina berjalan dengan tampilan imut dan cantik. Ia segera melipat kertas dan memasukannya sembarang kesaku celana.

*****

Gadis itu berjalan tergesa, dikejar tetesan hujan yang makin merapat. Dari luar dia sudah tersenyum pada remaja yang tengah menunggunya dengan setelan celana pendek hitam dan kaos putih. Rambutnya yang cepak model sekarang dibelah pinggir kesisi sebelah kiri. Nina melambaikan tangan, makin mempercepat langkah tak sabar ingin berbagi cerita denga Alexandra.

****

Diluar hujan turun deras. Dua remaja perempuan berbeda gaya duduk berhadapan, berbincang-bincang dengan roman yang meronakan kehangatan.  Gestur dan ekspresi itulah yang akan orang lain lihat kala mulai merasakan rasa cinta pertama. Ya, segalanya akan terasa indah dan berbunga dimasa masa belia bukan?

=============
Ilustrasi gambar diambil dari fitur apk untuk android, moman camera, yang bisa diunduh gratis di Googleplay.

Iklan

2 pemikiran pada “Menunggu Nina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s