Gerimis

Lagi-lagi ‘tadinya’. Tadinya mau posting cerpen baru, namun karena malas, menunda-nunda, dan hal eksternal lainnya, ternyata cerpen itu tidak rampung, alhasil muat ulang cerpen lama dengan ilustrasi baru.

wpid-Gerimis.jpg

Malam itu hujan turun. Gerimis kecil. Menetes perlahan laksana parutan kelapa yang di tabur dari awan di angkasa.

Kau pandang bulir-bulir mungil yang dapat memberi berbagai rasa bagi yang melihatnya, menitik, berkilau keemasan tersorot lampu merkuri di tepi jalan. Semua dapat terlihat dengan jelas dari balik jendela di mana kau duduk sekarang.Suasana di luar mulai lengang, sementara gerimis masih saja turun perlahan melewati semua benda; pohon-pohon, halte mungil tepi jalan, kotak-kotak telepon umum, bunga bougenvil, mawar, lily, mobil-mobil yang terparkir, beberapa manusia yang berlalu lalang, begitu sunyi tanpa ada bunyi.

Sementara disana, ditempatmu memandang, semua begitu berbeda. Ada aura kehangatan yang terpancar. Bukan hanya disebabkan cahaya yang ditata sedemikain rupa, tapi juga karena genggaman tangan manusia.

Dia duduk di hadapanmu, jarak antara kalian hanya dipisahkan sebuah meja berukuran kecil. Badannya masih tegap, terbalut setelan hitam yang kontras dengan kulit putihnya. Bibirnya merah pucat, menyembunyikan deretan gigi yang berbaris rapi. Sorot matanya masih tajam, sementara rambut pendeknya tersentuh sedikit jeli berdiri doyong kesana kemari, membuat raut wajahnya terlihat segar seperti habis mandi.

Gerimis kecil menitik lembut membelai semua yang dilaluinya.
Kau pandang pria yang sudah sekian lama mendampingimu dalam kebersamaan tanpa ikatan pernikahan. Tak ada ikrar yang terucap untuk sehidup semati di muka altar. Hanya bisikan akan mencoba untuk tetap setia tanpa ada rasa curiga, itu pun dilakukan di depan televisi dan DVD seusai menonton film berjudul panjang, Eternal Sunshine of The Spotless Mind [1], untuk  kesekian kali.

Gerimis kecil merintik perlahan mengusap semua yang dilaluinya.
Kau sentuh lembut bibir pria yang tak pernah mengucapkan kalimat mesra, tapi bersamanya kau merasa bahagia. Toh cinta tetap terindera walau tak di umbar lewat kata-kata.

Kau usap bibir merah pucat yang jarang merekah, kecuali saat menonton Mr.Bean [2], namun kau selalu merasa senang saat bersamanya. Bukankah kesenangan tidak selalu identik dengan tertawa?

Gerimis kecil jatuh berkilau membasahi semua yang dilaluinya.
Kau tatap sorot mata dingin terbingkai bentuk oriental yang apabila di lihat lebih dalam terpancar kehangatan yang tak pernah terungkap, namun tetap dan selalu bisa kaurasakan. Pernah juga mata itu basah saat kau hampir pergi meninggalkannya.

Gerimis kecil jatuh berkilau mengantarkan seseorang pada kenangan.

Bersamanya kau lewati semua tantangan dan tentangan.

Dia tetap mendampingimu saat orang tua kalian tidak memberi restu.

Dia yang di sampingmu saat sebagian teman pergi berlalu.

Dia selalu bersamamu saat sebagian orang mencemooh hubungan kalian yang tabu.Tanpa ikatan, tanpa tuntutan.

“Lagu berikut, saya persembahkan untuk dua pria di pojok sana. Selamat…” suara pemain piano akustik di tengah ruangan menyadarkan lamunan, kemudian dia menyebut namamu dan nama pria dihadapanmu.

“Happy together anniversary,” ia berbisik di telingamu, mengecup kedua pipi, tersenyum lembut.

‘Saat kusentuh jemarimu, engkau tersenyum. Hati kita saling berbicara, dalam satu bahasa..’ [3]

Lagu Saat Terindah milik penyanyi Ermy Kullit yang dibawakan ulang mengalun jernih dari suara pemain piano akustik bersuara berat yang bermain seorang diri.

Kau pandang gerimis kecil diluar, terjun bebas, menyegarkan semua yang dilaluinya. Dari sana, dibalik jendela café bergaya minimalis itu. Bersamanya.

————————————-

1. Eternal Sunshine of The Spotless Mind, sebuah film yang di bintangi Jim Carrey, Kate Winslet, Kirsten Dunst, Elijah Wood, Mark Ruffalo, dan Tom Willkinson. Naskahnya ditulis Charlie Kaufman dan disutradarai Michael Gondry. Produksi Focus Features.

2. Mr. Bean, sebuah serial komedi dengan pemeran utama Rowan Atkinson, sempat booming di tahun 90-an, bahkan beberapa televisi swasta memutar ulang sampai beberapa kali hingga kini.

3. Saat Terindah, salah satu lagu yang terdapat dalam album Ermy Kullit dengan judul yang sama, Saat Terindah. Produksi Swara Bumi.

Iklan

8 pemikiran pada “Gerimis

  1. Hallo crimson strawberry, rasanya lama sekali kau menghilang. Kemana saja ?, atau mungkin saya yang kurang teliti . Namun akhirnya kau muncul kembali dengan gaya tulisan yang tetap enak dibaca . salam jumpa dari oldman Bintang Rina. Banyak-banyaklah menulis seperti dulu

    1. Halo Pak Bintang, kabar saya baik, gimana sebaliknya. Saya ada, hanya sedang kurang produktif, kalau pun posting kadang cerpen orang lain yang saya sukai saja hehehe… Senang sekali bisa kembali berjumpa di dunia kata-kata ini 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s