Review Film: We Are What We Are

wpid-We-Are-What-We-Are-america.jpg

Barangkali hujan yang membuat saya jadi melankolis.

Jika anda hobi membaca dan menonton film, pasti pernah menemukan bacaan yang sinematik hingga terasa begitu visual atau pun sebaliknya, nonton film yang membuat anda serasa membaca sebuah kisah dalam buku. Bagi saya film yang satu ini salah satu diantaranya.

We Are What We Are.

Meski judulnya bersifat sangat statement, namun tak ada kaitannya dengan tema posting challenge bulan ini, We Are What We Are (WAWWA) adalah film horror.

Berkisah tentang keluarga Parker selepas meninggalnya Emma sang ibu, Frank, Rose, Iris, dan Rory Parker harus bertahan hidup tanpa santapan yang biasa dikonsumsi secara turun-temurun oleh keluarga ini yang biasa diolah oleh Emma. Daging manusia.

Meski masih menyisakan satu korban, namun prosesi pemakaman dan turut campurnya polisi desa dan seorang dokter forensik membuat keluarga ini harus menahan sementara hasrat menghabisi si korban. Apalagi Dokter Barrow memang telah lama menyelidiki hilangnya sang putri beberapa tahun sebelumnya ditempat tersebut dan menemukan serpihan tulang disepanjang sungai yang, salah satunya melewati rumah keluarga Parker, membuatnya makin fokus terhadap kasus ini.
Beberapa hari tanpa santapan membuat kesehatan keluarga ini terganggu, Rory si bungsu yang jatuh sakit, serta penyakit kuru – semacam parkinson, yang diidap Frank Parker kambuh, dan harus ditutupi untuk menghilangkan kecurigaan.

Disisi lain, Andrews, anggota junior dikepolisian di desa itu menyimpan rasa pada Iris Parker membuat selimut yang dibuat oleh keluarga ini makin terancam terbuka.

wpid-We-Are-What-We-Are-moviestill.jpg

Meski masuk genre horror, misteri, dan thriller, namun film ini tak terlampau mengumbar adegan berdarah, malah lebih kental unsur drama tentang pergulatan batin masing-masing karakter, ditambah sinematorgrafi yang cenderung pucat, mendung, sepi, dan hujan menambah daya tarik film ini (bagi saya), dan barangkali itu tayangan visual itu pula yang membuatnya serasa membaca buku. Entahlah.

Tidak adanya pemain terkenal dalam film ini juga tak mengurangi keseruan film ini, para aktor dan aktrisnya bermain apik dan mampu memerankan karakter dengan natural.

Secara keseluruhan film ini sangat menyenangkan untuk ditonton tanpa mengurangi pesona horror-nya, apalagi saat hari hujan.

============================
Saat mencari movie still, baru diketahui ternyata ada film lain berjudul sama, SOMOS LO QUE HAY, produksi spanyol yang juga berkisah tentang keluarga kanibal, namun bedanya anak-anak disana lelaki. Yang ini belum saya tonton, jadi belum bisa berkomentar banyak. Teman-teman ada yang sudah barangkali?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s