Menunggu

UNTUK DIPERHATIKAN : MENUNGGU merupakan bagian pertama dari enam fragmen yang terdapat dalam cerpen Tentang Tak Ada karya Avianti Armand yang dimuat di buku kumcer Kereta Tidur (GPU – 2011). Secara umum cerpen ini bercerita dari sudut pandang orang ketiga yang barangkali perempuan, namun jika ada yang mengira si karakter utama ini adalah seorang pria juga tidak salah bukan? Hehehehe…..   #justifikasi-karena-tidak-menemukan-cerpen-yang-sesuai harapan 😉

wpid-Menunggu-Avianti-Armand.jpg

Tak ada yang berubah dari café ini. gebyok kayu yang jadi aling-aling, tetap berada di situ. Seperti cadar pengantin yang malu-malu, lubang-lubang ukirannya mengizinkan mata mencuri intip ke ruang di baliknya. Cahaya merembes lewat celah di antara genteng tanah liat, menggambar lingkaran-lingkaran acak di lantai terakota. Angin mengisik. Bau debu mengambang samar di udara, bercampur dupa yang sengaja dibakar untuk menyamarkannya. Tak ada musik. Hanya lonceng yang sekali-kali mendenting.

Aku duduk di sudut. Hanya ada satu tamu lain, seorang perempuan yang duduk di meja dekat gentong besar. Di atas gentong itu tergantung sebuah potret hitam putih wanita berkebaya, dengan dua tangan rapi di pangkuan. Aneh. Keduanya punya ekspresi yang serupa. Gelisah, seperti orang yang kebelet pipis. Perempuan dalam foto, mungkin tak ingin difoto dan berharap sesi pemotretan cepat selesai. Perempuan di dekat gentong, mungkin tak ingin berada di sini, tapi aku tak bisa menebak apa yang dia harapkan. Perempuan dalam foto, dibekukan oleh waktu, Cuma bisa diam. Perempuan dekat gentong,dari tadi tidak bisa diam. Dia seperti duduk di atas kursi panas. Berulang kali mengubah letak pantatnya. Berulang kali memeriksa jam tangannya. Dan handphone-nya yang tak juga berbunyi. Apakah dia menunggu seseorang, seperti aku? Seorang kekasih yang sudah lama tak jumpa?

“Aku terus memikirkanmu semalaman…” desahnya di telepon.

Aku memikirkanmu penuh dari detik ke detik. Kamu bahkan mengisi digit-digit terkecil pergeseran waktuku. Kamu menghuniku penuh-penuh hingga tak ada lagi ruang untukku dalam diriku. Aneh bukan?

“Aku ingin menciummu…” lalu terdengar suara kecupan lembut.

Aku terus mencium bayanganmu. Saat mataku terpejam, terbuka, terpejam lagi. Aku mencium tiap jengkal darimu lekat-lekat.

“Pakai baju apa hari ini? aku ingin membayangkanmu…”

Hari ini aku berdandan untuknya. Jadi, hari ini, dia harus datang. Dia bilang, hari ini dia pasti datang. Tapi dia selalu bilang begitu. Juga pada entah berapa kali kencan yang dia batalkan. Selalu pada saat-saat terakhir. Selalu pada saat kangenku suah berubah jadi peruh yang menusuk ulu hati. Alasannya klasik: istrinya. Istrinya selalu curiga dan menyelidik. Jadi, dia harus sangat berhati-hati.

Padahal aku Cuma ingin berjumap. Hanya untuk sekedar bercerita. Betapa banyak yang ingin kuceritakan padanya. lewat telepon tentu tak cukup, karena ku ingin menatap wajahnya. Menatap matanya. Menikmati tawanya yang memancing tawa. Mencium baunya yang selalu wangi tembakau. Jika mungkin, mencium bibirnya yang selalu manis. Itu bisakita lakukan nanti, sambil sembunyi-sembunyi di lorong ke kamar mandi. Membayangkan itu semua, membuatku bahagia. Tapi dia harus datang dulu. Tak boleh tidak.

Tiba-tiba pintu masuk terbuka. Aku langsung menoleh. Hatiku seketika hiperaktif, berbinar binal tak terkendali dalam rongga dada yang sempit, menahan harap. Lewat ekor mataku, kulihat kepala perempuan itu juga terangkat. Wajahnya cemas. Duduknya makin tak jelas, seperti hendak melompat. Kini seseorang telah datang. Entah untuk siapa. Tapi aling-aling itu menunda kemunculannya, membuat waktu seperti jam karet dengan elastisitas tinggi. Napasku tertahan. Lalu seperti dalam gerakan slow motion, dia muncul.

Matanya menangkapku. Tapi dengan segera berpaling ke arah perempuan di dekat gentong. Wajahnya tiba-tiba pucat seperti mayat. Sepersekian detik sebelum aku bangun dan memanggil, bibirnya mengucap “Ma?” Lalu dia berjalan, bukan ke arahku, tapi mendekati perempuan tadi, tanpa sekalipun menoleh padaku. Perempuan itu berdiri. Aku membeku. Cuma mataku yang sanggup bergerak mengikuti apa yang terjadi.

Mereka berpelukan kaku, saling mencium pipi dengan sopan, lalu duduk berhadapan. Susah payah ia memaksakan sebuah senyum. “Kok Mama bisa ada disini?” Suaranya gemetar. “Iseng. Cuma mau makan siang habis belanja. Sudah lama, kan, aku tidak kemari. Dan, surprise, kamu juga kesini.” Perempuan itu menjawab dengan suara yang terlalu cerah. Ia kelihatan tenang sekarang. Bahkan – mungkin ini cuma perasaanku saja – menang. Laki-laki itu mengangguk-angguk. Tubuhnya tegang, tapi lambat laun ia mulai mencair. Setelah beberapa basa-basi, ia bisa menyandar dengan sedikit rileks. Beberapa kali matanya mengirim permintaan maaf yang samar. Meski begitu, beberapa kali juga tangannya mengusap punggung telapak tangan perempuan itu. Sesudahnya, aku tak bisa lagi mendengar apa yang mereka bicarakan dengan wajah serius. Sesudahnya, aku cuma sanggup mengonggok di sudut.

Sepuluh menit. Setengah jam. Satu setengah jam. 14.07. Arlojiku menjelaskan, sudah sekitar dua jam aku di sini. Ada dua belas orang lain sekarang yang makan dan minum dengan senang. Aku cuma sanggup menghabiskan gelas demi gelas kopi pahit. Pasir telah turun mengendap di rongga dada. Aku merasa berat. Tapi aku punya pilihan.

Di atas gentong, perempuan dalam foto terlanjur dibekukan oleh waktu. Ia terpaksa menunggu.

==========================
Cerpen lain karya Avianti Armand yang pernah di posting oleh Crimson Strawberry adalah Pada Suatu Hari Ada Ibu Dan Radian untuk memperingati Hari Ibu tahun 2011 lalu.

Iklan

4 pemikiran pada “Menunggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s