Kau – Ia – Dia

Sambil menunggu program Mata Najwa, iseng-iseng membuat perspektif lain dari fragmen Menunggu yang diposting kemarin. Tak perlu dibandingkan dengan versi asli yang ditulis Avianti Armand, pasti bagusan punya dia beliau, 30 menit pula membuatnya. Lagi-lagi justifikasi 😀

wpid-Kau-Ia-Dia.jpg

Sudah lama kau tak menginjakkan kaki di tempat ini, café  yang mempertemukanmu dengan dua orang yang kau cinta, ia dan dia.

Langkahmu yang semula lambat kini dipercepat. Berlomba dengan bulir tetes hujan yang jatuh besar-besar. Seorang pelayan yang berdiri entah sejak kapan mengembangkan senyum ramah khas formalitas. Kau membalas dengan ekspresi sama sebelum berlalu menuju tangga ke arah lantai dua. Samar terdengar denting dari lonceng angin.

Kau bayangkan ia duduk disudut yang bukan spot kesukaan. Bukan karena posisinya tidak strategis, namun pada suatu waktu kau keceplosan bercerita bahwa diseberang meja kalian, kau bertemu dengan dia, istrimu, dulu. Ia seketika diam, menundukan pandangan. Kau berkata maaf. Ia tersenyum, tak berucap, namun matanya berkata banyak tentang sedih dan patahati. Setelahnya, entah mengapa ia selalu memilih tempat tersebut.

Ia adalah seorang pemerhati, segala yang tertangkap pandangannya bisa jadi rangkaian cerita. Drama. Romantis. Tragis. Galau. Sedih. Gembira. Jenaka. Konyol. Absurd.

Meja-meja kayu berukiran sederhana dengan sepasang kursi sehadapan dalam posisi tak simetris bisa jadi awal sebuah kisah, kadang tentang cinta sederhana, hubungan asmara dua manusia kasmaran. Atau barangkali keduanya saling bertengkar, dimana yang satu ingin pergi dan menghindar, namun enggan terlihat terlampau dramatis, demi alasan kesopanan, hingga kerap menggeser duduknya untuk membuat jarak.

Pikirmu mengira-ngira, objek apa yang tengah dilihatnya sekarang? Jujur meski sering kemari, kau bukanlah seorang pengingat sejati. Rasa sajian yang acapkali kau cicipi pun kau masukan dalam dua kategori sederhana. Enak dan tidak enak. Apakah ia kini tengah menatap lampu-lampu gantung sebesar bola yang memancarkan cahaya kuning susu? Atau asbak kaca super tebal seperti pemberat kertas berbias cahaya warna-warna tiap kali tersorot cahaya? Atau barangkali potret hitam putih seorang perempuan yang duduk rapi dengan dua tangan dipangkuan?

Bau debu yang mengambang tersamar aroma dupa.

“Aku terus memikirkanmu semalaman…” Desahmu kala menelepon diam-diam.

Tak ada suara. Kau tahu ia ingin banyak berkata-kata, menumpahkan segala apa yang ia rasakan dalam bahasanya yang kerap memadukan matematika dan sastra. Kau tak begitu paham kala mendengarnya, namun suka saat ia mengatakannya. Suaranya renyah dan berintonasi sesuai dengan tanda baca dan pandai memilih diksi laksana para pencerita dalam buku yang kadang kalian baca bersama.

“Aku ingin menciummu..” lanjutmu, mengecup lembut ia imajiner sambil berusaha tak mengeluarkan bunyi yang bisa mengundang curiga.

Kau tahu disana ia mendengar. Barangkali matanya terpejam sambil membayangkan hal serupa. Lalu terbuka untuk berduka. Lalu kembali terpejam melanjutkan impian yang entah kapan bisa terlaksana.

“Pakai baju apa hari ini? Aku ingin membayangkanmu…”

Ia tak menyebutkan. Namun berjanji akan memberikan tampilan terbaik kalau kau menemuinya. Kau sanggupi. Ia tertawa. Nada yang kau tahu maknanya. Ya, kau selalu bilang akan datang diwaktu yang ditentukan, namun selalu batal. Selalu disaat-saat terakhir.

Ia bilang rindunya sudah berubah perih, menusuk ulu hati.

Kau diam. Ia diam. Sama-sama tahu. Alasannya selalu istrimu.

“Dia tak akan curiga.” Ia berkata dengan nada ditekan. Tertekan. Menekan.

“Ma….” Belum selesai kau jawab, telepon telah ditutup dari seberang. Begitu pelan dan hati-hati, “…af.”

“Maafkan aku. Kau tahu aku mencintaimu. Tapi aku juga mencintainya seperti aku mencintaimu. Aku tak ingin dia terluka sama seperti aku tidak ingin melukaimu. Aku menghormatinya sama seperti aku menghormatimu. Tidakkah kau mengerti, aku harus hati-hati. Barangkali penulis yang pernah bilang, ‘Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan.’ itu benar. Namun bagiku dia menggenapkanku seperti kau menggenapkanku. Begitu juga sebaliknya. Masalahnya tak ada ruang bagi kita yang segitiga untuk bersama.” Kau mengoceh ditelepon bersahut bunyi tut..tut..tut…

“Padahal aku cuma ingin berjumpa. Hanya untuk sekadar bercerita. ” Kata ia suatu waktu.

“Aku juga.” Jawabmu.

“Lewat telepon tidak akan cukup. Aku ingin menatap wajahmu.”

Kau diam, terus mendengarkan.

“Menatap matamu,” ia melanjutkan, “Menikmati tawamu. Kau tahu tawamu selalu memancing tawaku.” Ia lantas tertawa, nadanya berbeda, ada harap disana.

Kau tertawa entah untuk apa. Barangkali mengingat bagaimana tiap pertemuan dibatasi durasi dua cangkir kopi. Kadang setelahnya kalian pulang ke rumah masing-masing, menyisakan tohok yang mau tak mau harus diabaikan. Kadang berlanjut, ke tempatnya, saling mencium aroma kesukaan. Ia bilang menyukaimu yang senantiasa wangi tembakau. Kau bilang menyukai aroma musk-nya yang segar khas parfum kelas atas. Ia tertawa, lalu mengecup bibirmu tiba-tiba. Kau tertawa mengejarnya menuju lorong kamar mandi. Menyergap. Merangkul. Memagut bibir sambil terus saling memeluk. Ia terlihat bahagia. Kau juga.

Tanganmu membuka tuas pintu.

Seketika kau melihatnya. Ia memang duduk dipojok yang tidak disukainya. Gesturnya begitu tenang, menoleh dengan gerakan yang dibuat senatural mungkin. Jantungmu berdebar, berdebur binar tak terkendali. Seperti langkahmu. Kau bergegas, namun aling-aling menghalangimu melihat satu kepala lain yang bergerak lebih spontan.

Tiba-tiba saja refleksmu bekerja, seluruh tubuhmu mengarah pada seseorang yang bukan ia, namun matamu sesaat menangkapnya, berusaha memberi isyarat. Kau merasa darah diwajahmu turun drastis. Semoga cahaya lampu kuning susu bisa menyamarkannya. Kau berharap ia tak berdiri, karena dia lebih dulu melakukannya.

“Ma?” kau menyapa, lebih ke arah bertanya. Dari balik tengkuk kau tahu ia menahan diri untuk tak luluh lantak. Barangkali hanya duduk membeku sambil menyaksikan apa yang tengah berlaku. Tapi Kau tahu ia sanggup melakukannya. Ia lelaki yang terlatih.

Kau berpelukan dengan dia, agak kaku, saling mencium pipi dengan sopan, lalu duduk berhadapan. Susah payah kau membentuk senyum.

“Kok Mama bisa di sini?” suaramu gemetar. Dalam hati kau mengutuk café yang tak pernah memutar musik ini.

“Iseng. Cuma mau makan sian habis belanja. Sudah lama, kan, aku tidak kemari. Dan, surprise, kamu juga ke sini.” Jawab dia cerah. Terlalu cerah.

Matamu menatap dia, namun batinmu mereka-reka, sekaligus berdoa semoga ia kuat dengan sandiwara dadakan yang kau mainkan. Kau lalu mengangguk seolah paham dengan apa yang dia katakan.

Sesaat kau mengatur napas. Suasana mulai kondusif. Tubuhmu mulai menyesuaikan dengan kondisi sekarang yang lebih tenang. Kau lontarkan pertanyaan basa-basi, dia menjawab dengan sepenuh hati. Layaknya seorang suami yang baik kau meraih dan mengusap-usap punggung telapak tangan dia kala mendengarkan cerita. Kadang kau mencuri pandang pada ia sambil mengirim kode permintaan maaf, namun tak bisa kau lihat balasannya, karena mata ia kini lebih tertuju pada potret hitam putih perempuan itu.

Lima menit. Tiga perempat jam. Satu setengah jam. 14:07. Sudah dua jam kalian bertiga disana. Dan sekarang bertambah dua belas orang lainnya, makan dan minum dengan tenang diselingi bincang-bincang. Yang kemudian kau lihat adalah pelayan yang berulang kali mendatangi meja ia, menyuguhkan satu cangkir kopi dan mengambil cangkir lainnya yang pasti telah tandas seperti rasanya yang kandas. Kau tahu ia merasa berat seperti kau merasa berat.

Jarum jam di arlojimu terus berpacu. Sesaat kau turut menatap foto perempuan yang terlanjur dibekukan waktu. Di seberang, kau lihat ia berdiri, merapikan baju pemberianmu, lantas pergi berlalu. Tiba-tiba matamu terasa perih dan panas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s