Interview with Hendri Yulius

Hendri Yulius Cover

Di bulan Nopember kemarin saya mereview sebuah buku kece, Lilith’s Bible, karya Hendri Yulius. Desember ini saya berkesempatan untuk berbincang dengannya seputar proses kreatif buku tersebut. Dan, (saya tidak suka kata ini, namun terjadi entah untuk tujuan apa) ‘kebetulan‘ berbarengan dengan tema bulan ini tentang LGBT dimana ia juga turut menjadi salah seorang pegiatnya, maka ada juga bahasan tentang hal tersebut. Penasaran? Langsung saja simak wawancara Crimson Strawberry dengan Hendri Yulius yang dilakukan via surel.

Apa yang ingin disuarakan dalam buku Lilith’s Bible?

Sebenarnya, saya mulai menulis Lilith’s Bible saat saya masih duduk di bangku kuliah, kira-kira umur 19 tahun. Pada saat itu, saya sedang getol-getolnya mendalami teori gender, feminisme, dan seksualitas. Karena itulah, saya terdorong untuk coba menulis buku tentang ini, terutama fiksi, karena bagi saya, fiksi terkadang bisa menjadi medium yang lebih jujur untuk menceritakan sesuatu ketimbang non-fiksi. Apa yang ingin disuarakan dalam buku Lilith’s Bible adalah tentang perempuan dan mitos-mitos yang menyelimutinya, seperti mitos keperawanan, kesucian perempuan, dan lain-lain yang menciptakan ketimpangan dan ketidakadilan. Pada saat yang sama, saya menemukan bahwa cerita horor nusantara selalu memiliki karakter hantu perempuan yang mengerikan. Di televisi dan film pun, saya selalu melihat hantu perempuan selalu lebih populer dan menyeramkan ketimbang hantu lelaki. Ada apa ini? Lantas, saya kepikiran, kenapa nggak saya coba menulis dari sudut pandang hantu perempuan ini?

Kenapa penting untuk disuarakan?

Penting karena selama ini, isu-isu semacam ini, seperti perkosaan, sunat perempuan, seksualitas, juga mitos keperawanan seringkali dianggap tabu dan tidak pantas dibicarakan. Bagi saya, isu yang terkait dengan tubuh dan seks adalah isu yang politis. Dalam artian, isu ini menjadi bagian dari identitas diri kita sendiri, terutama dalam hal ini perempuan. Bagaimana kita bisa memaknai diri kita sendiri, bila kita tak paham dengan tubuh dan seksualitas kita sendiri? Bagaimana kita bisa memahami diri kita sendiri, bila bicara seks saja ditabukan? Padahal, sejak kecil, kita sudah berurusan dengan gender dan seksualitas, mulai bagaimana kita dibedakan sesuai dengan alat kelamin, juga bagaimana kita dididik dalam aturan-aturan dan norma, seperti warna baju yang harus dikenakan (biru untuk lelaki, pink untuk perempuan), gaya bertingkah laku (perempuan harus lembut, sementara lelaki dituntut lebih macho) dan lain-lain.

Dalam proses pembuatan, buku ini memakan waktu hingga 4 tahun untuk rampung, apa yang menyebabkan hingga selama itu?

Yang membuat proses ini makan waktu selama itu adalah proses jatuh bangun dan penolakan yang saya terima dari berbagai penerbit. Belum lagi, setiap kali ditolak, saya mencoba merevisi naskah tersebut dan rupanya, tak ada kata ‘puas’ dalam diri saya. Sampai saat ini saja, saya masih ‘gatal’ untuk merevisi naskah tersebut, hahaha. Tapi, setidaknya, apa yang saya berikan pada pembaca saat ini adalah sesuatu yang terbaik yang berhasil saya upayakan selama kurun waktu 4-5 tahun ini.

Dalam Lilith’s Bible, Hendri meramu dan memilin berbagai dongeng dan mitos dari dalam maupun luar negeri secara pararel dalam hampir setiap kisah. Sebenranya seberapa besar dongeng mempengaruhi anda dalam proses menulis baik dalam buku Lilith’s Bible atau pun tulisan lainnya?

Saya sendiri tidak bisa mengukur seberapa besar dongeng mempengaruhi saya. Namun, yang pasti dongeng-dongeng ini memberi saya inspirasi untuk menulis sesuatu yang belum pernah ‘dikatakan’. Dalam artian, dongeng-dongeng ini seringkali miskin perspektif perempuan. Karena itu, saya berusaha membaca ulang dongeng-dongeng dan cerita horor nusantara, sekaligus melakukan proses penulisan ulang untuk memberikan suara pada karakter perempuan yang selama ini kurang terdengar. Selain itu, saya percaya, dongeng dan cerita rakyat adalah cerita abadi yang selalu bisa diinterpretasi ulang.

Lilith’s Bible juga memuat kejadian faktual seperti di cerpen ‘Di Bawah Hujan Salju, Ada Dendam’, namun dibuat  samar oleh latar dan tempat cerita. Apakah hal itu disengaja? Atau ada faktor lain yang melandasinya?

Saya sengaja membuatnya demikian. Saya tak mau terjebak pada gaya penulisan yang itu-itu saja di dalam buku ini. Makanya, untuk cerpen ini, saya menggunakan gaya dystopian (membuat setting sendiri dengan imajinasi saya), seperti The Hunger Games. Meskipun disamarkan, saya percaya bahwa blueprint tentang kerusuhan dan perkosaan etnis Tionghoa itu masih akan tetap terbaca oleh pembaca, meski mungkin risikonya adalah pembaca yang lebih muda barangkali tidak semudah itu memahaminya. Tapi, sekali lagi, ini adalah strategi penulisan, sebuah gaya yang saya pilih.

Tak bisa dipungkiri cerita-cerita dalam Lilith’s Bible hampir semua berbalut sensualitas yang sedikit banyak mengingatkan pembaca pada tulisan-tulisan Ayu Utami atau Djenar Maesa Ayu diawal kemunculannya yang sering disorot karena hal tersebut dan kemudian mendapat tudingan sebagai penulis fiksi yang gemar mencabul-cabulkan karya atau ‘sastra selangkang’ atau ‘gerakan syahwat merdeka’. Tanggapan anda untuk Lilith’s Bible jika ada yang menilai buku ini masuk kategori tersebut?

Saya selalu siap dengan label dan kritik apapun yang diberikan oleh pembaca dan kritikus. Kalau mereka bilang, karya saya porno, ya monggo. Itu semua hak mereka sebagai pembaca dan penilai. Tetapi, sebagai penulis, saya tidak pernah berniat mencabul-cabulkan karya. Memang saya bergelut di bidang gender dan seksualitas . Tulisan-tulisan saya yang lain juga berkisar tentang seks dan gender. Jadi, ini memang sudah ‘core’-nya saya, sesuatu yang saya yakini dan perjuangkan, setidaknya untuk diri saya sendiri. Dan sekali lagi, bagi saya, seks adalah isu politis, seperti yang sudah saya ungkapkan di atas. Seks adalah salah satu isu yang mendasar dari diri saya. Tanpa seks dan tubuh, saya tak akan pernah ada.

Sudah menjadi  pengetahuan umum bahwa Indonesia adalah negara partriarki, dimana perempuan, terkadang, kurang dihargai sebagai individu dan kerap dijadikan sebagai objek. Pun begitu terhadap kelompok minoritas, baik agama atau orientasi seksual. Menurut pandangan Hendri adakah perkembangan tentang dua hal tersebut dari waktu ke waktu, dan menuju ke arah mana?

Saya rasa, kondisi sekarang jauh lebih baik dari era sebelumnya. Arus informasi dan juga budaya pop semakin membuat orang semakin terbuka. Meski demikian, tentu saja, serangan balik dari beberapa pihak (misal, kelompok relijius-konservatif) semakin menguat. Tetapi, saya yakin, masyarakat (terutama anak muda) semakin hari semakin terbuka dengan adanya arus informasi dan budaya pop, juga bertambahnya jumlah negara yang melegalkan pernikahan homoseksual.

Bicara soal LGBT, anda dikenal sebagai salah seorang yang membela hak-hak LGBT. Sebenarnya sejak kapan mulai tertarik dan terjun? Hal apa yang melatarinya? dan kegiatan ini meliputi hal apa saja?

Saya tidak bisa bilang saya dikenal sebagai seorang yang membela hak-hak LGBT. Saya sendiri tak mau disebut sebagai aktivis, karena label itu terlalu berat. Saya cuma orang biasa yang kebetulan adalah seorang gay (coming out nih.. 😉 ) dan suka membaca, dan karenanya saya coba menuliskan pemikiran-pemikiran saya tentang LGBT. Saya mulai membaca dan mendalami isu ini sejak usia 16 tahun. Dan aktivitas saya sebagian besar adalah menulis. Misalnya, saat ini, saya menulis artikel rutin untuk majalah gay DANIEL di Los Angeles yang akan segera terbit dalam waktu dekat ini.

Anda kini bermukim di Singapura? Apakah disana juga melakukan kegiatan serupa? Apa yang membedakan antara LGBT Indonesia dengan Singapura jika dilihat dari karakter individu/komunitas, masalah yang biasa dihadapi & kasus yang kerap terjadi?

Ya, saya tinggal di Singapura. Saya tetap rutin menulis, seperti yang saya bilang tadi. Bahkan, setiap tugas makalah dan paper kuliah, saya kerap mengangkat isu LGBT.  Di sini, LGBT relatif lebih aman ketimbang di Indonesia, karena mungkin tak ada FPI kali ya, hehehe. Yang membedakan antara LGBT Singapura dan Indonesia, sebenarnya tak ada perbedaan yang terlalu signifikan. Hampir sama, mereka pun menghadapi ketakutan untuk coming-out, juga stigma yang kemungkinan bisa didapat sehabis coming-out. Komunitas LGBT juga beragam di sini. Bahkan, komunitas di sini punya event tahunan bernama Pink Dot di mana semua orang berkumpul mengenakan kaus pink, membentuk lingkaran dan menyuarakan freedom to love.

Di negara-negara barat, yang sudah sangat liberal sekalipun, banyak remaja LGBT tidak menemukan kenyamanan diri, terutama dari lingkungan luar karena kerap merasa (di)beda(kan) atau di bully, hingga depresi dan bunuh diri. Hal apa yang sebaiknya dilakukan oleh remaja-remaja LGBT untuk bisa, paling tidak, mengkomunikasikan perihal variasi orientasi seksualnya terhadap keluarga sebagai lingkungan terdekat? Begitupun sebaliknya, hal apa yang harus dipersiapkan oleh orang tua bila suatu saat mengetahui atau dihadapkan pada anak yang berani berterus terang tentang orientasinya?

Hal yang sebaiknya dilakukan oleh para remaja ini adalah pelajari dulu situasinya. Keluarga dan lingkungan kita ‘kan bermacam-macam. Kalau keluarganya amat konservatif, pastikan untuk menangguhkan dulu niat coming-out untuk sementara dan lakukan pendekatan dengan keluarga. Misalnya, iseng-iseng lemparkan pertanyaan usil, seperti “Ma, gimana ya kalau Mama punya anak gay?”. Dan lihat respon-nya. Intinya, pintar-pintar baca situasi. Kalau keluarga dan lingkungan terdekat tidak memungkinkan, cobalah berkunjung ke organisasi LGBT lokal. Biasanya, mereka bisa membantu untuk membangkitkan rasa percaya diri akan seksualitasnya.  Kalau mengingat pengalaman pribadi saya, saya terbantu sekali dengan banyak buku gender dan seksualitas yang saya baca pada saat dulu. Sedikit banyak, saya tak lagi mengalami ketakutan atau perasaan bersalah sama sekali.

Tips saya untuk orang tua adalah belajarlah menerima anak apa adanya. Ada hal-hal yang tak bisa dipaksakan pada seorang anak. Meski ia berasal dari rahim sang ibu, tetapi ia adalah individu bebas yang tak harus selalu diatur. Meskipun ia tumbuh tidak sesuai dengan harapan, tetapi ia adalah tetap si kecil yang dulu pernah merengek-rengek minta disusui atau ditemani ke kamar mandi. Hanya saja, sekarang ia telah dewasa dan ingin memutuskan pilihan untuk dirinya sendiri. Yang orang tua bisa lakukan adalah tetap mendampingi dan menerima ia apa adanya.

Hal lain, perkembangan teknologi yang melahirkan media sosial rupanya bisa menjadi zona bagi LGBT untuk mengekspresikan diri, apakah hal ini sudah cukup atau perlu ada keleluasaan yang lebih besar lagi?

Media sosial tentu sangat membantu. Tetapi, saya rasa yang lebih penting adalah rasa aman dan penerimaan dari lingkungan fisik. Maksudnya, di sekolah, di rumah, bahkan di tempat umum.

Mengenai dramatisasi dan stigma yang tak jarang ‘dilancarkan’ oleh media dan dirasa kerap mendiskreditkan LGBT. Sedikitnya ada tiga hal utama yang saya perhatikan sering terjadi, yakni pada kasus kriminal, HIV/AIDS, dan tayangan komedi. Ada pendapat mengenai hal ini?

Pendapat saya, tentu saya setuju dengan anda yang melihat bagaimana media seringkali tidak adil dalam menggambarkan LGBT—kalau tidak sebagai pembunuh, predator, atau bahkan kaum yang hedonis. Seharusnya media bisa memberikan gambaran lain tentang LGBT yang berhasil membuat perubahan dan prestasi. Tentunya, pasti banyak dong. Nah, gambaran media saat ini adalah gambaran bagaimana media masih mempersepsikan LGBT. Masih banyak PR yang harus dikerjakan, ternyata.

Beberapa waktu lalu Dedi Oetomo gagal masuk sebagai anggota Komnas HAM, yang barangkali, sedikit banyak, dipengaruhi oleh reputasinya. Menurut Hendri bagaimana sebaiknya sikap pemerintah terhadap keberadaan LGBT untuk memperoleh hak-haknya sebagai warga negara?

Sebenarnya, ini agak sulit. Pemerintah sendiri agaknya masih enggan menganggap LGBT sebagai bagian dari warga negara yang punya hak. Political Willingness-nya masih kurang. Tentu, banyak yang pemerintah bisa lakukan—menghapuskan aturan yang diskriminatif, melakukan affirmative action untuk kelompok LGBT, dan lain-lain. Tetapi, saya takutnya, rekomendasi semacam ini hanya akan jadi retorika dan sloganistis semata kalau tak ada political willingness dari government sendiri. Jadi, political willingness harus ada terlebih dahulu: komitmen dan kemauan pemerintah untuk mengakui LGBT. 

Selama aktif bersama LGBT adakah satu kejadian, peristiwa, atau momen yang tidak bisa terlupakan?

Waktu saya menghadiri konferensi ILGA di Surabaya dan dikepung oleh FPI, sehingga kami semua tak bisa keluar dari hotel. Itu pengalaman yang tak akan bisa saya lupakan sampai kapanpun.

Terakhir seputar penulisan, sebutkan satu buku yang tidak pernah rela untuk dilepaskan pada siapa pun untuk hal apapun, dan berisi tentang apa?

Banyak banget sebenarnya. Semua buku yang saya koleksi tak boleh keluar dari kamar saya, heheheh, tapi kalau cuma satu, buku tersebut adalah Erica Jong – Fear of Flying. Isinya tentang kisah seorang perempuan yang berpetualang untuk mencari kebebasan seksualitasnya sendiri.

===========================================

* Foto Hendri Yulius : koleksi pribadi

* Fotografer : AA

* Buku-buku lain dari Hendri Yulius : 3-Some, 18+, Dear Papa, Metamorfosis, dan beberapa buku seputar bahasa dan ekonomi.

Simak pula wawancara dengan Bamby Cahyadi, Han Gagas, Rama Dira, dan Zaim Rofiqi.

Iklan

14 pemikiran pada “Interview with Hendri Yulius

  1. *ups, hampir lupa pernah janji mau baca ini* hha.. keren wawancaranya, kemarin malem tepatnya kira-kira jam 9 malem sempat ketemu buku Lilith’s Bible di rak Gramedia, oh baru tau ini toh penulisnya. Gak bisa komen banyak sih tentang bukunya karena blum baca. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s