Balada Hari Hujan

UNTUK DIPERHATIKAN : Cerpen Balada Hari Hujan karya Linda Christanty hadir dalam buku kumpulan cerita pendek Kuda Terbang Maria Pinto (KATA KITA – 2004)
image

Ia menguncupkan payung ungunya, lalu mengibaskan ujung mantel yang basah. Butir-butir air meluncur dan meresap ke tanah. Dari balik pintu kaca yang mirip etalase toko itu ia leluasa melihat ke dalam ruangan. Hanya ada sepasang muda-mudi yang bercengkrama sambil asyik mengunyah makanan.

Hari masih terlalu pagi untuk orang-orang yang takut pada cuaca dingin bulan Juni. Kelopak-kelopak bakung di bawah jendela terlihat segar berair. Ia membayangkan teman-teman prianya masih meringkuk dalam pelukan istri atau pacar mereka seperti kucing demam. Ia mendorong pintu cepat-cepat. Tubuhnya makin menggigil oleh terpaan udara dari pendingin ruang. “Pelayan lupa menaikkan volume,” gerutunya, dalam hati. Jari-jari kakinya terasa mengeriput dalam stocking sutra setengah basah, menuju beku. Tapi, wangi kaldu ayam dalam adonan bubur membuat otot-otot lambungnya berdenyut keras dan tubuhnya yang menggigil itu mulai dialiri hawa panas. Ia biasa mampir ke kafe ini untuk sarapan dan minum susu cokelat. Inilah satu-satunya kafe yang buka di pagi hari di kotanya.

Ia biasa mengambil meja di pojok, dekat pot porselen persegi berisi rumpun mawar plastik warna kuning yang rimbun. Ia biasa ditemani rengek saksofon David Sanborn yang selalu terdengar di sini pada jam kedatangannya. Sanborn mengingatkannya pada seorang pria berkaca mata hitam yang tersenyum lepas pada halaman sebuah majalah musik, mirip pacar pertamanya. Hmmm… Sejak melihat Sanborn yang funky dengan kaca mata hitam, ia pun selalu mengenakan kaca mata hitam bila bepergian, terutama ke tempat-tempat umum dan ramai orang.

Tapi, kali ini tidak terdengar “Love Will Come Some Day”atau “As We Speak” Sanborn dari loudspeaker. Televisi yang menyala, menayangkan video klip Kylie Minogue, penyanyi asal Australia itu. More, More, More… Ia agak kesal, lalu memasang tampang cemberut, pada pasangan muda yang tengah asyik menonton dan ikut bersenandung. “Pasti mereka yang menyalakan televisi,” pikirnya, menuduh. Pagi tanpa Sanborn, seperti pesta tanpa anggur.

Pelayan mendekat dan mengulurkan daftar menu, meski semua pelayan tahu pesanan wajibnya bila berkunjung. Ia menunjuk tulisan yang tertera pada daftar itu dengan ujung jari telunjuk. Kuku-kukunya terlihat berwarna biru turquoise, warna batu kelahirannya, warna cat kuku kesayangannya.

Ia kembali memesan bubur ayam istimewa. Artinya, bubur ayam ditambah sebutir telur rebus atau telur mata sapi setengah matang. Ia memilih yang kedua. Pelayan mengangguk, tersenyum, berlalu. Ia pun mencopot kaca mata hitamnya, lalu memasukkan benda keramat itu dalam tas kulit biru muda. Tas kulit mahal ini pemberian salah seorang temannya. Barang bekas. “Tapi barang bermerek bisa meninggikan gengsi blus atau celana pipa bikinan binatu,” pikirnya, mengejek diri sendiri. Kini sehelai saputangan dikeluarkannya dari rongga tas tangan itu, kemudian diusapkannya pada wajah dan lengan yang terkena percik hujan. Ada inisial “BG” di sudut saputangan tersebut, terbuat dari sulaman benang biru. Wangi musk bercampur kayu cheddar juga masih tertinggal, samar-samar. Huruf “B” singkatan dari Benyamin. “G” bisa jadi singkatan nama keluarga pria itu. Ia jadi teringat benda-benda milik keluarga kerajaan. Semua berisial. “Sok ningrat,” pikirnya, mengingat sang pria. Mereka bertemu tadi malam. Ah, sudahlah, pagi ini tak ada lagi kenangan. Pikiran romantis hanya membuat hati sedih, memperpendek umur.

Hujan masih turun. Derai air dari langit membasuh jalanan yang sepi. Peristiwa penting dalam hidupnya selalu ditandai dengan hujan. Dia lahir dalam bulan hujan. Ia mengenal beberapa pria yang mengesankan saat hujan. Pedrova, kucing Mungkin, Pedrova hanyut ke sungai. Ia tiba-tiba sedih. Hmmm… Erik yang menamai kucing malang itu. Pedrova. Erik, si pemabuk, editor seni dan budaya di surat kabar ternama, menyukai segala sesuatu yang berbau Rusia, termasuk botol-botol Smirnoff dan sastrawan yang bernama ‘Cekof’ dan ‘Gohgol’ itu. Mendadak ia terkikik-kikik. ‘Cekof’ dan ‘Gohgol’ , nama-nama yang asing dan lucu baginya. Ia sendiri lebih suka membaca novel-novel percintaan, terutama yang berakhir tragis. . Kesedihan ternyata menimbulkan orgasme juga. Ia terkikik lagi.

Sepasang muda-mudi di sudut lain kafe tersebut melirik sebentar ke arahnya, mungkin menganggapnya gila, lalu berpaling lagi pada kesibukan semula. Ia mencibir ke arah mereka dan bibirnya terasa kering. Kali ini buru-buru diraihnya lip balm rasa stroberi. “Bibir yang kering menandakan kesehatan yang buruk,” pikirnya, teringat tips kecantikan di sebuah majalah wanita.

Pelayan datang membawa nampan berisi pesanannya; bubur ayam yang masih mengepul panas. Secangkir bsar susu cokelat juga diangsurkan pelayan ke hadapannya. Pandangan mata mereka bertemu. Si pelayan tersenyum simpul. Sekilas ia melihat si pelayan mengerdipkan sebelah mata sebelum berlalu. “Genit,” pikirnya, sebal.

Ia menghirup susu cokelatnya yang harum. Penat-penat di tubuhnya terasa hilang dengan meneguk mnuman hangat. Melalui kaca pintu yang bening, ia melihat sepasang pengunjung melangkah di halaman kafe itu. “Tapi, yang satu ini dari golongan manula,” batinnya, sambil melirik ke arah muda-mudi yang berada di sebelah mejanya, membandingkan dengan sengaja.

“Mungkin suami istri,” pikirnya lagi.

Ia mulai meniup-niup bubur ayamnya, lalu menyuruput cairan kental itu dengan suara keras. Ia tak begitu peduli dengan tatakrama yang diajarkan neneknya bahwa pantang mengeluarkan bunyi-bunyian saat mengunyah makanan atau meneguk minuman. Ia juga sering bersendawa seenaknya bila gas dalam perutnya yang kenyang mendesak keluar. Tatakrama kurang menghargai ekpresi masing-masing pribadi, pikirnya sinis.

Pasangan lanjut usia tadi mengambil meja di sebelahnya. Ia tak peduli dan terus makan dengan lahap. Semangkuk bubur pun tandas. Kini ia sibuk meniup-niup cokelat panas, bersiap-siap mengosongkan isi cangkir keramik itu.

“Maaf, Jeng. Boleh saya ambil sambalnya,” suara perempuan bernada alto mampir di telinganya.

Perempuan setengah baya yang baru saja datang meraih botol sambal di atas mejanya, seraya tersenyum ramah. Ia menatap wajah perempuan itu sekadar memberi tanda bahwa ia tak keberatan soal sambal, lalu matanya yang nakal melayang ke balik tubuh ringkih yang berbasa-basi dengannya itu untuk memandangi pria tua yang sibuk membuka-buka halaman buku menu. Baru kali ini ia melihat si pria dengan jelas. Bukan orang asing baginya. Pria itu tampak santun, seperti ayah dan suami yang bijak dalam keluarga harmonis. Gerak-geriknya pelan, kalem. Jari-jarinya terlihat gemetar di sisi-sisi buku besar bergambar macam-macam masakan itu. Barangkali Parkison sudah menyerang saraf-sarafnya. Helai-helai uban telah menyerobot sebagian besar tempat rambutnya yang hitam. Si pria bagai kambing jinak yang manis di hadapan sang istri, bukan kuda liar yang sesekali batuk di tempat tidur yang jauh dari rumah.

Ia masih ingat cengkraman kencang pria itu pada leher dan bahunya yang terbuka. Jari-jari kakek yang kurus terasa tajam di daging muda yang lunak. Dengusan keras seakan mampir di telinganya lagi. Aroma musk, kayu cheddar, tembakau… melintas silih-berganti. Di hotel, di taman kota, di mobil… Sesekali kegaduhan berlalu, ia sering kesal menatap gaun dan stocking sutranya yang robek di sana-sini, meski orang tua itu selalu memberinya uang belanja untuk mengganti pakaiannya yang rusak tiap kali mereka selesai bercinta.

Semua ia berharap Benyamin menjadi yang terakhir. Mungkin, pria yang menerima segala kekurangannya itu bersedia mengawininya dan ia akan merawat Ben dengan baik, setulus hati. Ia memang mencintai pria itu, setia mendengar keluh kesah Ben tentang anak-anak yang satu demi satu meninggalkan rumah untuk berkeluarga dan tak lagi peduli pada ayah mereka yang sendirian. Istri Ben meninggal hampir sepuluh tahun lalu, setelah menderita kanker ganas bertahun-tahun.

“Anak-anak hanya datang pada hari raya, sekadar bermaaf-maafan, setelah itu kami jadi orang asing lagi satu sama lain, kembali mengurus diri sendiri. Hidup ini hanya kesialan bagi orang-orang tua,” kisah Ben, saat berbaring di pangkuannya.

Seperti biasa, ia mengelus-elus rambut pria tua itu dan menyanyikan lagu-lagu nostalgia yang digemari pria seusia Ben, sampai sai sang kekasih lelap dan mendengkur.

Ternyata lelaki tetap saja lelaki, tak peduli tua atau muda. Mereka sangat pintar mengarang cerita sedih, memasang jerat untuk menaklukan wanita. Ben bahkan tega membunuh istrinya sendiri, meski dalam cerita. Ia sungguh kecewa.

Ia tiba-tiba tersedak dan mulai batuk-batuk. Kini sehelai saputangan dikeluarkannya dari rongga tas tangan, kemudian dibekapnya pada mulut yang bising. Ada isinial “BG” di sudut saputangan tersebut, terbuat dari sulaman benang biru. Wangi musk bercampur kayu cheddar juga masih tertinggal samar-samar. Pasangan muda-mudi maupun manula serentak menoleh ke arahnya. Sorot mata mereka mengisyaratkan rasa terganggu, jijik, dan ngeri. Virus influenza bisa saja beterbangan di udara, lalu hinggap di mangkuk-mangkuk bubur mereka. Hiiii….

Ia membalas tatapan si pria tua secara khusus, lurus-lurus dan berani. Tak sia-sia. Sepasang mata tua itu mendelik, kaget. Ia merasa puas dan menyungging senyum lebar. Suara batuk kering yang khas pun terdengar menimpali batuknya. Ada dua komposisi batuk sekarang, yang sama-sama sumbagn, bersahut-sahutan. Ia melihat sang istri mengusap-usap punggung suami tercintanya dengan cemas, lau memanggil pelayan untuk membawakan segelas air putih ke meja mereka.

Pelayan juga mengantar segelas air mineral untuknya. Perhatian kafe ini terhadap para pengunjung bolehlah, pikirnya, senang. Tapi, seleranya sudah melorot ke titik nol. Ia tiba-tiba malas menyuruput cokelat panas yang masih separuh cangkir. Ia ingin pulang dan menenangkan pikiran. Hari yang cukup berat di antara puluhan ribu hari yang sama kembali berlangsung. Berapa lama ia bisa bertahan di dunia semacam ini?

* * *

Hujan masih menyambutnya di luar kafe. Langit abu-abu tua. Payung ungu itu mengembang lagi. Jalan yang basah menyambut langkah-langkah aki yang menggigil. Ia rapatkan kerah-kerah mantelnya, menahan udara dingin. Ia merasa hidup begitu sepi, begitu asing. Air mata mulai mengembang di balik kaca mata hitam ala Sanborn. Ia mencoba bersenandung, tapi tak bisa.

Mungkin, nanti malam ia akan menghibur hatinya yang sedih di sebuah diskotek di jantung kota bersama teman-teman senasib. Angie, Mella, Jasmine, Liza, Sophia… tunggu aku ya, kita dugem sampai pagi! Di diskotek itu pula, ia dinobatkan sebagai ratu waria, ratu dari dunia yang abu-abu, seperti warna langit hujan. Tapi ini bukan kisah tentang kerajaan, melainkan kisah tentang kepedihan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s