Banci Profesi

image

Jika anda generasi 70-80an, dan penonton setia televisi, pasti sudah tidak asing dengan nama-nama seperti Mama Henky, Joice, Ester, atau Susi yang eksis bersama kelompok Djayakarta atau Surya Grup. Saya belum lahir jadi tak akan banyak membahasnya, takut salah heheheheh…

Ditahun 80an hingga 2000an, hadir Tessy dari Srimulat, Tata Dado dari Silver Boys, Ozie Saputra dari serial Si Manis Jembatan Ancol, Ade Bimbi a.k.a Ade Juwita dari program Lenong Rumpi dan beberapa orang lain lagi yang tidak begitu terkenal (atau tidak saya kenal). Lalu sederet nama turut muncul, tak selalu menjadi bagian kelompok komedi. Sebut saja Olga Syahputra dan Ruben Onsu diawal-awal karir, Irfan Hakim, Feri Maryadi, Aming, Wendi dan Denny Cagur, Edrik Chandra, hingga Tora Soediro dan masih baaaaaaaaaanyak talent-talent lain yang bertabur ditiap acara. Komedi panggung terutama.

Mereka semua adalah aktor yang memerankan lelaki keperempuan-perempuan-an, baik secara sikap atau pun penampilan. Dan semua hadir dipanggung sebagai sosok konyol, penggembira acara atau objek penderita. Barangkali hanya pengamatan saya saja yang jarang nonton televisi, para pemeran transgender male-to-female ini, seperti disebutkan sebelumnya, paling sering tampil sebagai objek penderita. Berbagai kekerasan, terutama sejak awal 2000-an kerap menimpa mereka, terutama yang bersifat verbal seperti cemooh, olok-olok, ekspresi geli lebih ke (agak) jijik. Coba saja perhatikan, dari awal kemunculan, cara berjalan, gestur, pemilihan kata, cara bicara, semua jadi sorotan, semua jadi bahan ledekan. Tak hanya dari pemain yang ‘normal’ saja yang mengkerasi, terkadang sesama transgender male-to-female sendiri  kerap menunjukan sesuatu yang agak-agak diluar nalar bagi saya, seperti tiba-tiba saling jambak, saling toyor, saling menjorokan, saling cakar sambil jerit-jerit mirip kucing berkelahi, diselingi sifat asali sebagai lelaki yang ditunjukan. Tujuannya untuk memancing ger ger an para penonton barangkali, tapi kok saya agak ngeri ya melihatnya. Ngeri karena tak mengerti, kenapa mereka harus menghinakan diri seperti itu.

Apakah ini terjadi karena mereka memang masuk kategori tak terkategori, sesuatu yang diluar kodrati mainstream, laki-laki dan perempuan, hingga pantas untuk dihinakan, bahkan oleh diri mereka sendiri. Atau budaya kekerasan yang terlampau meresap hingga ke sumsum tulang, hingga, bahkan, untuk tayangan komedi pun rasanya jadi tak lucu kalau tak mengkerasi sesama pemain? Entahlah. Yang jelas para pelakon ini dibayar, entah standar atau mahal, oleh penyelenggara acara di stasiun televisi bersangkutan.

Hal serupa belakangan sepertinya mulai dilirik oleh masyarakat biasa. Dimasa kini banyak ditemukan transgender male-to-female yang masuk kelompok waria profesi. Saat anda berkendaraan atau sekedar jalan-jalan, pasti sekali dua kali pernah menemui para pengamen waria yang beroperasi dijejeran makanan kaki lima atau dibawah lampu-lampu stopan. Banci lampu merah, begitulah kemudian julukan yang diberikan.

Sudah menjadi pengetahuan umum pula bahwa para pengamen waria ini, tak semuanya waria karena orientasi seksual mereka memang disana. Banyak juga yang aslinya adalah pria se-pria-pria-nya alias lelaki tulen. Seperti yang pernah diungkapkan oleh salah seorang teman saya.

Alkisah, pada suatu hari beberapa tahun kebelakang, saat hendak mencari makan di tempat jajajan pada jam istirahat siang ia berjumpa dengan dua orang waria profesi (WP) ini dan sempat sedikit berbincang seputar kehidupan mereka. Tanpa menyebutkan daerah asal, duo WP yang mengaku telah beranak istri, bilang pada keluarga masing-masing bahwa mereka bekerja sebagai petugas sekuriti di perantauannya ini. Saat mengobrol tabiat mereka kembali menjadi lelaki pada umumnya, tak ada gestur kemayu, gemulai, atau terlampau kenes dengan kosakata yang mungkin terdengar agak ajaib keluar dari mulut mereka. Suaranya pun kembali berat. Begitu pula gestur saat merokok, ‘jantan sekali’ ungkap teman saya itu. Sayang ia tak bertanya lebih lanjut alasan kenapa ia memilih menjadi banci lampu merah ketimbang jadi pengamen biasa, dan bagaimana pula kala ia harus berada diposisi kelompok yang kerap dimarginalkan dengan stigma negatif yang melekat(i-nya)? Saya pun mencoba sedikit riset (alias googling).

Iya, bahwa kebutuhan ekonomi menjadikan mereka sebagai WP. Tujuannya beragam, barangkali karena persaingan antar pengamen sudah terlampau ketat, dan mereka tak punya nilai jual disana; main alat musik tidak bisa, suara bahkan tak sampai level pas-pasan alias sangat sumbang, tampang pun tak terlampau menarik, gahar, atau memprihatinkan sehingga, otomatis, penghasilan tak akan mencukupi. Barangkali, sekali lagi BARANGKALI, diliriklah tampilan waria oleh mereka. Bermodalkan tampilan seronok yang mengarah mesum, dandanan senempelnya, alat musik yang bisa menyetel lagu dangdut dengan volume kencang, plus kemampuan menyanyi alakadarnya mereka bisa mendulang rupiah lebih banyak.

Masih menurut teman saya, ditempat tersebut paling tidak terbentang lebih dari dua puluh pedagang pinggir jalan. Jika si WP ini ngamen ditiap tempat yang dikunjungi setidaknya sepuluh orang dan taruhlah, paling tidak, lima orang memberi seribu rupiah maka kalikan saja Rp 5000 x 20. Belum lagi jika ia mengulang beberapa jam kemudian ditempat yang sama pada pengunjung yang berbeda, sedikitnya Rp 200.000 masuk kantong. Tapi itu hanya hitung-hitungan kasar yang belum tentu benar heheheeh…

Sayang saya tak menemukan penjelasan apakah setelah merasakan dan menjalani hidup sebagai kalangan minoritas mereka jadi menaruh simpati pada waria-waria sesungguhnya, yang seumur hidup harus tercap sebagai orang-orang yang kerap disisihkan, atau tetap pada pandangan sebagian pihak yang kerap menyebut, “Aku adalah ciptaan sempurna, sementara kau adalah makhluk hina!”? saya belum tahu.

Jika ada teman-teman yang tahu barangkali bisa berbagi untuk menambah informasi

Iklan

4 pemikiran pada “Banci Profesi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s