#SaveSATINAH

Ini adalah posting coret moret.

image

Lama tak posting bukan berarti saya melupakan blog tercinta, Crimson Strawberry. Hanya saja selepas mengerjakan sebuah proyek rahasia, orang tua saya sakit, dan saya, sebagai anak yang tak seberbakti dan sesukses saudara lain, hanya bisa membantu tenaga dan biaya sekedarnya dari kemampuan kelas buruh rendahan heheheheh… *sekedar justifikasi saja.

Mari kita lupakan sedikit curcol pribadi saya, dan fokus pada pokok bahasan yang tak kalah penting, menyangkut nyawa seseorang, berada ribuan kilometer jauhnya dari Indonesia, terpisah dari keluarga dan sanak saudara, waktu hidupnya telah ditentukan. Tiga belas april dua ribu empat belas, dia, perempuan, warga biasa, buruh migran rendahan, pembantu rumah tangga, akan di eksekusi pancung atas dakwaan pembunuhan dan pencurian terhadap keluarga majikan. SATINAH namanya.

Nama Satinah hadir dan mencuat diantara hingar bingar pemilihan calon anggota legislatif dan kabar hilangnya pesawat terbang MH370 milik maskapai Malaysia Airlines. Saya tidak akan menceritakan tentang kasus dan berapa diyat yang kemudian harus dibayarkan pada keluarga majikannya dipostingan ini, silakan googling saja, beritanya berseliweran di tiap portal berita juga blog-blog pribadi.

Bahwa kondisi negara yang berantakan, salah satunya mengenai penegakan hukum, di mana media kerap memampangkan bagaimana para pelaku kejatahan keuangan ketika mulai ditetapkan sebagai tersangka, dijadikan terdakwa, di vonis penjara, hingga bebas dalam waktu yang relatif sebentar selalu memampangkan ekspresi serupa. Cengengesan. Jujur kondisi ini, sedikit banyak, membuat para pemirsa atau pembaca, merasa sebal.

Alih-alih menghujat, masyarakat lantas membanding-bandingkan dan balik memberikan simpati apabila ada orang biasa yang tersandung kasus hukum, bahkan terkadang membuat satu gerakan sosial sendiri kala penegakan hukum dinilai tidak berpihak pada mereka. Yang paling terkenal adalah kasus Prita Mulyasari yang berseteru dengan salah satu rumah sakit swasta terkenal. Kemudian ada Indra Azwan yang berjalan kaki dari Jawa Timur ke Istana Presiden, di Jakarta, untuk mengembalikan uang sumbangan. Lalu kisah nenek Minah yang di penjarakan karena dituduh mencuri kokoa di kebun milik perusahaan besar. Masyarakat spontan bergerak memberi dukungan dan bantuan. Wujudnya bermacam-macam, mulai dari pengumpulan koin, menemani perjalanan, atau bahkan sekedar berdemo, memprotes putusan pengadilan yang dinilai tidak memperhatikan aspek kemanusian. Jika memang keadilan buta mengapa penjahat besar bisa lenggang kangkung, sementara orang kecil bagai pepatah, ‘sudah jatuh tertimpa tangga’,sehingga muncul anekdot, hukum di Indonesia memang tak benar tak pandang bulu, tapi pandang duit heheheheh… *tawa kecut

Hal serupa terjadi pada nasib buruh perempuan, ada Marsinah di tahun 90-an. Di sektor buruh migran, dulu TKI/TKW, hadir pula sederet nama ditiap tahunnya, sebut saja Nirmala Bonat, Siti Hajar, dan lain-lain dan lain-lain, hingga Ruyati binti Satubi dan, yang terbaru, Satinah. Beberapa  tertolong dengan berbagai kondisi yang mengenaskan, Nirmala dan Siti Hajar, salah dua yang mengalami penyiksaan luar biasa biadab. Ruyati tak selamat, dia harus meregang nyawa ditangan algojo. Sementara Darsem pulang selamat, meski pada akhirnya sempat menuai polemik di dalam negeri.

Khusus yang terakhir, Sutinah, sebuah social movement untuk menyelamatkan nyawanya digalang, salah satunya, oleh musisi Melanie Subono. Jika anda menjadi follower-nya di twitter, silakan cek di timeline punya dia, anda akan menemukan bagaimana usaha Melanie untuk mendapatkan dana guna mencukupi kekurangan dari yang disediakan pemerintah. Keluarga Satinah yang tidak kaya raya tentu tak bisa menyediakan uang sebanyak itu karena memang jumlahnya tak main-main, dari sekitar dua puluh satu miliar rupiah, kalau saya tidak salah baca, yang diminta pihak keluarga korban, pemerintah hanya bersedia menyediakan sekitar dua belas miliar, lagi-lagi kalau saya tidak salah baca, sehingga kurang uang sekitar sembilan miliar rupiah. Ada dua pintu yang disediakan Melanie yakni melalui rekening atas nama pribadinya dan atas nama Migrant Care. Bagi para pendonor yang ingin menyumbang lewat Melanie Subono bisa di transfer ke Bank BCA No.Rek 219-1221-666, atau jika ingin lewat Migrant Care bisa ke CIMB Niaga No.Rek 908.01.00670.003

Jujur, dan saya ingin minta maaf juga, adalah, bahwa sempat ada keraguan dalam diri saya. Bukan pada usaha Melanie atau teman-teman Migrant Care yang begitu tulus dan mengorbankan tenaga dan waktu mereka. Saya rasa ini adalah penyakit hati, entah hanya terjadi pada saya atau mungkin juga pada sebagian orang di luar sana, adalah perasaan pesimis berbalut malu, bahwa adakah bantuan (berupa materi) dari kita yang jumlahnya tidak seberapa mau diterima oleh mereka, Melanie terutama, yang notabene adalah pesohor yang tersohor, sehingga paling banter langkah yang dilakukan untuk turut berperan hanya sampai sebatas berkoar dan ber-tagar ria di media sosial, #SaveSatinah atau apa lah.

Satu tulisan Melanie di blognya yang berjudul HARI KE… telah menohok dan memicu domino memori saya untuk tak ragu dan tak malu. Di kisahkan seorang penjual koran mendatangi Melanie dan menyerahkan sejumlah uang sambil disertai permohonan maaf karena apa yang ia sumbangkan dirasanya sangat tak seberapa. Dan reaksi Melani, ini yang saya sukai, adalah tidak membalas permintaan maaf tersebut dengan kata-kata yang wangi sebagai bentuk ramah-tamah, jika tak mau disebut basa-basi, tapi ia menyuruh diam sambil berkata, kurang lebihnya, kebaikan adalah kebaikan, sekecil apa pun, seremeh-temeh apa pun, ia akan tetap berwujud kebaikan, selama pelakunya tidak menjadi riya atau takabur (lengkapnya baca saja di sini).

Sedikit bawa-bawa agama, mudah-mudahan tidak di protes, adalah bahwa Tuhan Maha Segala, Ia tetap menimbang kebaikan, bahkan yang sebesar biji zarah (atom), sebagai kebaikan. Tugas kita, manusia, adalah berbuat baik tanpa harus mengukur atau menimbang-nimbang berdasarkan nalar kita. Setiap manusia punya peran sesuai kemampuan. Kita, orang biasa yang hanya bisa menolong di kisaran ribu, belasan ribu, puluhan ribu, atau ratusan ribu saya rasa sama baiknya dengan para orang kaya yang menyumbang di angka juta, belasan juta, atau puluhan juta. Tak perlu pula kita berprasangka pada orang yang kita tolong, seperti salah satu statement orang di televisi, bahwa pemerintah tak mau bantu lagi buruh migran karena bercermin dari kasus Darsem, sebab yang dihadapi sekarang adalah urusan hidup dan mati seorang manusia. Bukankah saat kita bersedekah pada pengemis kita juga tidak berpikir bagaimana sesungguhnya hidup si pengemis itu (kecuali jika kita melihat dengan mata kepala sendiri), dan bukankah pepatah bijak menyebut, jika tangan kanan memberi, tangan kiri saja tak usah tahu, apalagi pikiran yang sarat syak wasangka. Wow! Sepertinya saya sudah terlalu panjang menulis.

Intinya adalah jika anda membaca postingan ini sekarang, maka cepatlah bergerak. Dana untuk membeli pulsa atau kuota internet bisa jadi manfaat besar jika disumbangkan untuk satu nyawa. Tak perlu memikirkan besar kecilnya bantuan, toh apa yang saya lakukan juga tidak seberapa (semoga dijauhkan dari perasaan dan prasangka riya ya).

image

Tanggal 1 April 2014 adalah batas akhir penyerahan diyat. Jika anda berada jauh dari Melanie Subono atau Migrant Care dan mempunyai layanan Bank, bisa di transfer ke nomor yang telah disebutkan di atas. Jika anda berada jauh dari Melani Subono atau Migrant Care dan tidak mempunyai rekening bank, sisihkan saja dana yang ingin anda sumbangkan, cari teman atau rekan atau saudara yang punya rekening dan tidak comel, berikan pada mereka (anggap saja setoran tunai ke bank), antar ke ATM terdekat untuk mentransferkan sumbangan anda, syukur-syukur kalau mereka juga mau bantu, jadi pahala berantai bukan? Hehehehe…

Sekali lagi, ini adalah posting coret moret, jika bahasannya loncat-loncat mohon dimaafkan. Sebenarnya saya ingin obral-obrol sama Melanie untuk di sharing di sini, tapi sepertinya dia sedang sibuk, semoga tulisan ini bisa mewakili dari apa yang telah dirintisnya, terutama untuk kasus Satinah ini. Ingin penjelasan lebih lengkap darinya? Silakan follow @melaniesubono di twitter (sorry tak membuat link, belum ada persetujuan dari yang bersangkutan hehehehe)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s