(Don’t) Drink Your Milk!

image

Saya yakin sebagian dari anda pernah, atau sering, belanja di swalayan. Namun saya kurang yakin kalau anda, seperti halnya saya, memperhatikan berapa banyak varian dari satu produk yang dipajangkan dalam lorong-lorong pasar swalayan. Apakah itu?
Susu.

Anda masih ingat empat sehat lima sempurna? Pola makan yang menyebut susu sebagai penyempurna empat jenis makanan dan dikampanyekan selama puluhan tahun. Meski telah lama ditinggalkan, namun masih banyak orang yang masih mengacu pada pola makan ini serta mengantungkan hanya pada susu sapi dan produk olahannya. Hal ini yang kemudian membuat berbagai produk susu laris manis di negara kita. Seperti yang saya sebut di atas, varian susu hadir untuk berbagai segmentasi, mulai dari susu bayi hingga untuk manula. Sebagian bahkan rela membayar mahal beberapa produk susu sapi yang mayoritas impor dari luar negeri.  Dua pertanyaan lantas mencuat, benarkah tubuh kita memerlukan asupan susu sapi? Di usia berapa?

Dua pertanyaan tersebut dilayangkan pula oleh dokter Tan Shot Yen, salah seorang ahli gizi yang punya pandangan berbeda soal susu. Pandangan yang juga diutarakan oleh sebagian praktisi gizi dunia dalam beberapa tahun terakhir.

Harvard School of Healt Public Study bahkan melansir hasil penelitian selama dua belas tahun yang melibatkan ± 77761 perempuan yang berada direntang usia 34 hingga 59 tahun, yang membantah peran susu terhadap kepadatan tulang. Hasil penelitian Harvard dipertegas oleh survey International Osteoporosis Foundation. Data pemerhati kesehatan ini justru menyebut kasus osteoporosis lebih banyak terjadi di negara-negara yang tinggi konsumsi susu dan dan produk olahannya, seperti Austria, Amerika, Belgia, Swedia, Swiss, Inggris, Norwegia, Kanada, Rusia, Republik Ceko, dan Slovakia.

Lebih lanjut, dokter Tan menyebut, “Menurut salah satu penelitian, pasteurisasi saja, itu membuat kalsium susu berubah. Yang mana kalau anda minum, kalsium tersebut tidak pergi ke tulang, namun mengendap di dinding pembuluh darah atau rock like structure. Jadi, pengendapan kalsium di tempat yang tidak semestinya, membuat anda punya masalah baru, kalsifikasi pembuluh darah. Jadi pembuluh anda semakin ciut, semakin kaku.”  

Namun pada kenyataannya, jajaran produk susu yang banyak ditemui, seolah menggambarkan bagaimana pandangan sebagian masyarakat Indonesia terhadap produk susu sapi dan olahannya. Bahkan produk impor yang merajai hampir di semua segmen, laris manis di pasaran.

ASI vs Formula

Dokter spesialis anak Ayu Pratiwi, yang juga ketua satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia. Dari pantauannya, kebiasaan sebagian orang Indonesia mengkonsumsi susu, dalam hal ini untuk anak-anak, tak terlepas dari masa lalu.

Dokter Ayu menyebut, “Barangkali dulu orang merasa modern dan merasa telah memberi segalanya saat telah mengkonsumsi susu formula. Tapi sekarang, edukasi tentang pemberian ASI eksklusif sudah mulai banyak diketahui masyarakat.

Yang perlu diketahui, empat sehat lima sempurna dikampanyekan di Indonesia sejak tahun 1950, yang meniru pola makan serupa di Amerika Serikat. Pola makan ini memperkenalkan susu, sebagai unsur ke lima, yang menyempurnakan. Kampanye hanya bertahan sekitar empat puluh lima tahun, yakni hingga tahun 1995, karena ternyata bisa berujung pada kegemukan. Penggantinya adalah konsep gizi seimbang.

Lanjut dokter Ayu, sayangnya konsep empat sehat lima sempura, dengan susu yang berperan sebagai kunci penyempurna, masih populer dan kerap dipakai. Ia menjelaskan bahwa perlu ada penjelasan lebih jauh pada masyarakat, yakni susu memang sebagai salah satu sumber kalsium itu betul, namun bukan satu-satunya. Bahkan, untuk anak-anak diatas satu tahun, untuk masyarakat di Asia terdapat kelemahan, karena kebanyakan masyarakatnya intoleransi laktosa, justru kalau terlalu banyak mengkonsumsi susu akan menyebabkan diare. Dia juga menerangkan, berbagai produk susu juga terdapat diberbagai negara, namun, sepertinya, tidak sebanyak di Indonesia.

Lebih jauh lagi, dokter Ayu menyoroti tentang mengapa lebih banyak masyarakat Indonesia yang lebih memilih produk susu bubuk. Hal ini disebabkan oleh angka kelahiran yang tinggi, hampir empat setengah juta pertahun. Dan itu adalah sasaran empuk untuk penjualan susu formula. Kemudian produsen susu formula punya strategi, yakni membuat berbagai susu bubuk yang sesuai dengan usia tertentu, sehingga masyarakat akan terus mengkonsumsi susu tersebut. Jika kita menilik salah satu merk, mereka mengeluarkan produk susu, misalnya untuk satu tahun, tiga tahun, dan seterusnya, lalu ada pula susu remaja, hingga untuk jenjang usia di atasnya. Masih menurut dokter Ayu, barangkali hanya Indonesia yang didapati susu hamil dan susu menyusui. Sementara di luar (negeri) hanya ada satu susu yang bisa dikonsumsi oleh siapa saja. Jika anak berusia lebih dari satu tahun, hal yang paling utama sebagai asupan bukanlah susu, melainkan makan.

Kawasan Asia Fasifik adalah pasar utama produk susu formula dunia. Salah satunya konsumen terbesarnya Indonesia.Data menunjukan, tak hanya susu formula yang laku keras di negara ini. Indonesia juga menjadi sumber pundi-pundi produsen yang membidik, selain susu ibu hamil dan menyusui, juga susu remaja, pria, bahkan manula. Dan dengan propaganda sedemikan rupa, banyak produsen berhasil membuat anggapan masyarakat kemudian terpaku pada susu yang diidentikan dengan kalsium.

Ahli gizi anak, dokter Titis Prawitasari, menjelaskan berbagai jenis makanan yang baik bagi perkembangan tubuh sejak seorang bayi tak lagi mengkonsumsi ASI eksklusif. Jenis makanan ini lebih penting dari produk susu sapi. Ia menyebut, “Kekurangannya (ASI) adalah pada energi, protein dan zat besi, jadi orang tua harus memberi makanan yang kandungannya memenuhi hal tersebut, dan bisa dipenuhi dari menu makanan sehari-hari buatan sendiri, selama mereka tahu zat-zat yang terkandung yang memenuhi kekurangan ASI.

Masih menurut dokter Titis, dalam pemberian asupan untuk ibu, masyarakat bawah lebih senang membeli susu formula ketimbang membuat masakah sendiri, namun tidak mengikuti saran penyajian, alhasil berat badan bayi tidak naik, namun yang kerap disalahkan adalah ASI-nya. Dokter Ayu menambahkan, susu penting saat seorang itu tak bisa memberikan ASI, dan susu penting diusia nol sampai enam bulan. Jika ibu mempunyai masalah atau penyakit dimana ia tak bisa memberikan ASI direntang usia tersebut, maka susu formula lah pilihannya.

Tambah dokter Ayu, makanan instant tercipta dikarenakan sebuah negara tidak mempunyai bahan atau tidak mungkin menanam karena iklimnya. Namun hal tersebut berbeda dengan Indonesia. Dokter Tan menambahkan, menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menyediakan berbagai sumber makanan (sehat) tersedia di pasar dengan harga yang terjangkau. Bukan pro pada industri yang membuat kita harus mengkonsumsi sesuatu yang sebetulnya bukan diperuntukan bagi kita lagi.

Jika kemudian anda bertanya, bagaimana dengan susu yang dapat menguatkan tulang untuk orang berusia lanjut? Dokter Tan menjawab, kalau kita mau sedikit bijaksana, dan mau membaca, di semua produk susu untuk segmentasi ini, akan selalu disertai peringatan, ‘selama disertai latihan fisik yang teratur.’ Maka konsekuensi logisnya, apa yang yang menyebabkan tulang menjadi kuat? Anda tepat kalau menjawab latihan fisik.

Di dunia yang semakin terbuka, berbagai iklan produk susu tak akan bisa dihindari. Yang bisa dilakukan adalah menghadapi gempuran promosi ini dengan cerdas. Memilih sesuai kebutuhan dan mengetahui fungsi susu yang sesungguhnya.

-sumber tunggal: program 360, MetroTV-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s