Movie Review : OCULUS

image

Film yang akan saya bahas sedikit adalah salah satu film horror dengan konsep naskah cerdas dalam balutan yang tidak terlalu mengikuti pola horror klasik, termasuk memadukan kegiatan paranormal dengan ketegangan thriller. Memenangkan kategori film pendek horror terbaik saat berjudul Oculus Chapter 3 : The Man With The Plan di beberapa festival film dan gelar aktor terbaik untuk Scott Graham – juga di beberapa festival, Oculus digadang-gadang akan menjadi salah satu film paling seram tahun ini saat pihak rumah produksi mengeluakan teaser untuk versi panjangnya. Namun dalam kenyataan, ternyata, bagi sebagian pihak, Oculus tidak terlampau menakutkan. Untuk saya, Oculus cukup menghibur sebagai tayangan meski tidak membuat deg-degan atau paling tidak bergidik ngeri.

Sama-sama disutradarai Mike Flanagan, Oculus versi panjang hanya menambah karakter, durasi, dan sedikit merubah tokoh utama dari film pendeknya. Berkisah tentang sepasang saudara Kylie (Karen Gillan) dan Tim Russell (Brenton Thwaites) yang membuat sebuah rekaman pembuktian guna membersihkan nama baik sang ayah yang disebut sebagai pelaku pembunuhan ibu mereka. Keduanya, Kylie terutama, meyakini akar tragedi tersebut bersumber dari sebuah cermin antik yang ada di rumah mereka. Berbekal peralatan canggih dan perencanaan yang dianggap matang, dua bersaudara tersebut merekam kegiatan depan cermin selama rentang waktu tertentu dengan harapan berbagai kamera yang terpasang ditiap sudut dapat menangkap momen paranormal activity yang dipancarkan benda tersebut. Alih-alih mendapat bukti, tanpa disadari, mereka justru mulai memasuki dan terjebak dimensi permainan pikiran yang ditebar cermin bertuah.

Berbagai kejadian ganjil dan terror membawa kakak beradik ini pada memori kejadian masa silam saat peristiwa pembunuhan terjadi, sebab pasca-kejadian mereka tidak ingat secara pasti bagaimana kejadian sesungguhnya. Di sinilah point menariknya. Flanagan dengan apik memintal jalinan cerita secara pararel kejadian di masa silam dengan waktu sekarang secara berkesinambungan. Tiap bagian dalam film ini, bagi saya, seperti mengupas kulit bawang, saat satu lapisan terbuka masih ada lapisan lain, yang meski mudah ditebak, namun tetap memberikan unsur ketegangan yang lumayan. Barangkali karena tidak ada jeritan atau adegan berdarah yang dominan seperti film horror pada umumnya yang menjadikan Oculus tak begitu menakutkan. Bisa juga karena bentuk hantunya yang standard (lebih mirip hantu-hantu di film Indonesia masa kini) dan muncul di saat yang kurang pas sehingga efek kejutnya berkurang. Tapi, bagaimana pun itu, Oculus harus diakui membawa variasi lain untuk genre horror, selain The Cabin In The Woods, yang bisa dijadikan acuan untuk kemajuan tayangan horror kedepannya.

***

Iklan

2 pemikiran pada “Movie Review : OCULUS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s