Serba-Serbi PILPRES 2014

image

Ini adalah #CatatanNgawur setelah sahur, dan berikut adalah hal-hal yang terjadi seputar pemilihan presiden 2014 (dan sebelumnya), menurut pantauan mata awam saya.

1. PESTA DEMOKRASI
Mari kita kembali pada kata pesta dari definisi. Menurut KBBI, Pesta: (n) perjamuan; perayaan. Apa yang dirayakan di sini? Yang paling utama kebebasan menyuarakan pendapat dan memilih. Terpenuhi? Sepertinya, sebagian besar, iya. Namun dalam pesta, biasanya, semua yang merayakan harus merasa gembira atau bahagia. Satu sisi, barangkali masyarakat Indonesia memang bergembira, perihal hak mereka untuk bersuara dan memilih bisa terlaksana. Lebih dari tiga puluh tahun terbungkam dan hidup dalam kebebasan yang fatamorgana (sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh di tahun 80-90an saya merasakan sedikit bagaimana rasanya), moment ini tentu menjadi ajang yang patut dirayakan, dalam arti setiap orang yang telah memenuhi syarat memilih merasa benar-benar bisa menggunakan hak pilihnya sebagai warga negara yang merdeka. Sayang, di sisi lain, dalam pelaksanaanya, pihak-pihak yang seharusnya bergembira (rakyat), justru menjadi tidak, karena setiap orang yang telah menentukan salah satu pilihan, melihat dengan rawan pada pihak-pihak yang bersebrangan. Alhasil, pesta ini tak lagi jadi sesuatu yang menyenangkan. Alih-alih bergembira, suasana yang tercipta adalah…

2. PANAS
Kemajuan internet sebagai media informasi global berbanding lurus dengan berkembangnya berbagai perangkat media sosial sebagai sarana berekspresi individual. Entahlah, barangkali hanya di akun twitter dan facebook saya saja, setiap kali membuka, di timeline dan beranda, orang-orang yang saya kenal atau ikuti acap melontarkan pernyataan panas, memanas-manasi, atau terpanas-panasi dengan berbagai tautan portal berita yang menyertainya. Tiap kicauan atau status pasti mengundang berbagai komentar, baik dari yang sepaham atau pun bersebrangan. Hampir semua saling melemparkan argumen yang, terkadang, bikin panas bagi yang membaca (bukan sekedar panas hati, tapi panas kepala dan mata). Bagus? Bisa jadi. Inilah salah satu pendidikan politik bagi masyarakat yang pemerintahnya menerapkan sistem (yang katanya) demokrasi. Kacau? Itu juga bisa jadi. Jika tak pandai menahan diri, perpecahan dan konflik horizontal-lah yang bakal ada karena tiap orang merasa berdiri di sisi yang benar dan menganggap pihak yang bersebrangan pendirian sebagai pihak sesat, bahkan jahat. Siapa pun yang satu nomor adalah kawan, yang beda nomor adalah lawan. Titik. Bagi saya yang telah punya hak pilih selama tiga kali pemilihan (2004, 2009, 2014), inilah situasi paling panas dari dua putaran pemilu sebelumnya. Barangkali disebabkan, salah satunya, oleh…

3. BERPIHAK
2009, saat media sosial masih dalam tahap pertumbuhan, adalah tahun PEMILU paling ‘sepi’ pemilih alias lebih banyak yang golput. Hal ini dipicu oleh kalangan menengah yang tidak merasa penting untuk turut serta. Saat itu kelas ini paling kompak, meski tidak janji kompakan, bernyata untuk tak memilih salah satu kandidat dengan berbagai alasan. Di tahun ini pula, gerakan golput, dalam arti yang sebenarnya, yakni benar-benar tidak memilih, atau datang ke TPS dengan tujuan sengaja merusak surat suaranya supaya tidak dicurangi, bukan menjadi sesuatu yang harus disembunyikan, bahkan beberapa terkesan bangga. ‘Tidak memilih merupakan satu pilihan juga, bukan?’ menjadi statement andalan para golongan putih. Seperti diketahui, kalangan menengah adalah pihak yang punya andil paling besar untuk memicu sebuah pergerakan sosial pasca terjadinya reformasi 1998. Satu sisi mereka tidak terlampau elitis, bahkan tidak silau oleh kalangan atas, tapi disisi lain punya semacam sekat tak kentara dengan golongan bawah meskipun selalu mengatasnamakan mereka. Kalangan menengah bukanlah orang yang terlalu ponggah menengadah, bukan pula orang yang selalu tunduk menunduk. Namun sekali mereka menyerukan pergerakan, kalangan bawah akan terbawa, dan kalangan atas patut waspada. Kini, suara golongan putih nyaris tak terdengar karena masyarakat menengah telah memutuskan untuk berpihak, baik pada nomor urut satu atau nomor urut dua, dengan pertimbangan masing-masing, yang otomatis diikuti kalangan dibawahnya. Dan dari berbagai alasan yang dikemukan, jauh didasar hati masing-masing, pasti ada harapan, salah satunya…

4. SIAPA TAHU
Dua periode kepenguasaan presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, praktis tak ada perkembangan positif yang dirasakan masyarakat Indonesia secara langsung, terutama menengah ke bawah. Alih-alih ada perbaikan taraf hidup dan pengurangan angka kemiskinan, yang terjadi justru dirasa sebaliknya, jika tak bisa disebut stagnan. Naiknya berbagai harga kebutuhan dasar yang acap terlambat ditangani, maraknya kasus korupsi yang terungkap dan dipangpangkan oleh media tanpa ganjaran hukum setimpal, berbagai kerusakan lingkungan yang (lagi-lagi) terlambat ditangani, membuat masyarakat, seperti yang disebut dalam point tiga, merasa perlu bergerak untuk perbaikan kehidupan. Di balik puja puji dan caci maki yang terlontar pada pujaan dan lawan, selalu ada harapan. Siapa tahu kalau dipimpin orang yang tegas, segala masalah bisa ditangani dengan cepat dan tangkas. Siapa tahu kalau dipimpin orang yang terbiasa dilatih keras, korupsi bisa dilibas, tanpa ragu tanpa bimbang tanpa galau. Siapa tahu kalau dipimpin orang yang sedari muda telah mendapat pendidikan dan doktrin untuk mendahulukan nusa bangsa, berbagai potensi kebocoran keuntungan negara bisa raih untuk kepentingan bersama. Siapa tahu kalau dipimpin orang santun, sifat masyarakat yang mulai brutal akan kembali pada akar kesopanan. Siapa tahu kalau dipimpin orang yang biasa bercengkrama dengan rakyat bisa paham dan mengakomodir apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Siapa tahu kalau dipimpin orang yang berpengalaman mengatur, apa-apa yang ngawur bisa direvolusi ke arah yang lebih baik. Siapa tahu bisa begini… Siapa tahu bisa begitu…
Siapa tahu adalah harapan yang belum terlaksana. Utopia. Masih mimpi. Belum pasti. Sebab yang pasti adalah…

5. SAMPAH
Meski sudah masuk era digital, namun alat peraga konvensional masih tetap di pakai dua pasangan capres/cawapres. Spanduk, baligo, poster, dan pamplet tersebar di mana-mana. Ada yang membentang, terpancang, dilem, bahkan dipakukkan pada pohon. Belum lagi yang ditambahi embel-embel dukungan perseorangan dengan foto mereka yang disempilkan, membuat pemandangan yang sudah tak tertata makin tidak karuan. Perih. Saat kampanye berapa banyak sampah yang dibuang sembarangan di area tersebut. Saat berbagai properti peraga diturunkan dan dicopoti, semua akan teronggok tanpa daur ulang. Saat kertas suara selesai dicetak, dicoblos, dan dihitung, dimanakah semua berakhir. Berapa banyak pohon yang ditebang untuk ‘memfasilitiasi’ semua ini? Ya, produksi sampah dari selama kampanye hingga pasca-pencobolosan tak akan sebanyak yang dihasilkan rumah tangga dan industri, namun tetap saja harus dihitung bukan? Omong-omong soal hitung menghitung, semoga segala dukungan masyarakat tak berakhir sebagai…

6. ANGKA
Satu suara menjelma satu angka adalah hal yang kerap terjadi dalam setiap ajang pemilihan, apa pun itu. Rangkulan, pelukan, jabat tangan, tawa, air mata yang disajikan selama masa kampanye tak lebih dari sandiwara untuk mendulang dukungan dan pilihan. Setelahnya? Rakyat kembali menghidupi diri sendiri, sambil tetap menyimpan harap pada pemimpin yang di pilih, lalu perlahan memudar, berubah antipati. Sementara yang berkuasa juga sibuk dengan urusan masing-masing yang entah apa. Semoga kali ini tidak, siapa pun ia yang kemudian berhasil mengumpulkan banyak suara, ia bisa menjaga dan menjalankan amanah rakyat. Ngawang-ngawang? Tidak juga ah.

————-
Ilustrasi Prabowo-Jokowi diambil dan diolah dari sini tanpa ijin lebih dulu. Semoga yang bersangkutan tidak keberatan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s