Unfollow

image

Sekitar dua atau tiga pekan kebelakang saya mengeliminasi sementara dua stasiun televisi besar berbasis berita karena merasa pemberitaan yang disajikan oleh mereka tak lagi berimbang perihal capres/cawapres. Alhasil saya hanya mengikuti perkembangannya dari satu atau dua stasiun televisi lain yang tak terlampau menjadikan issu ini sebagai menu utama. Seorang sahabat saya juga melakukan hal hampir serupa, bedanya ia melakukan gerakan blokir dan un-follow sementara beberapa orang yang ia kenal atau ikuti di media sosial karena jengah dengan berbagai status, kicauan, dan komentar terhadap issu capres/cawapres yang dirasanya sudah melampaui batas.
Apakah anda juga melakukan seperti yang kami lakukan? Jika iya, yuk kita ngawur-ngawuran mengapa sampai melakukan hal tersebut. Menurut opini ngawur saya, sedikitnya ada dua hal yang melandasi hal tersebut, yaitu:

1. Media sosial kerap disebut-sebut sebagai tempat paling demokratis, barangkali betul. Tapi sekarang, atau dalam kasus ini, menurut saya sudah ada sedikit pergeseran. Area ini, kini, juga diisi oleh para elitis, yakni orang atau kelompok yang punya pengaruh besar untuk menggiring suara dan pendapat dari pihak-pihak yang mengikutinya. Mereka bisa berasal dari kalangan politisi atau pun public figur. Seperti yang diketahui bersama, adalah salah satu sifat dasar manusia untuk mendengar apa yang hanya ingin di dengar, dan melihat apa yang hanya ingin dilihat. Pun dengan kejadian ini. Kala seseorang telah memutuskan berpihak pada salah satu kubu sedari awal atau pertengahan masa kampanye, maka ia akan merasa tenang, senang, dan bersemangat saat mengetahui orang-orang disekelilingnya (media sosial) juga punya pandangan serupa, apalagi jika ada tokoh terkenal yang melakukan hal serupa, rasa kebersamaan terasa begitu kental. Sayang, jika ada sebagian dari orang-orang disekelilingnya berbeda paham dan kemudian mengagul-agulkan pilihannya, atau memberikan komentar, entah benar atau salah, maka si individu ini akan merasa terusik, yang terkadang berimbas pada adu pendapat, yang terkadang lagi, berujung pada debat kusir. Namun karakter sebagian orang Indonesia, di dunia maya, tak sekuat, sebutlah, orang Amerika saat mereka dihadapkan pada pemilihan presiden yang melibatkan Barrack Obama misalnya, dimana mereka lebih konfrontatif tapi juga lebih santai. Di Indonesia, ada juga yang begitu, namun ada juga yang konfrontatif sekaligus nyolot, dan ada juga yang tak ingin banyak adu mulut dan hanya ingin senang-senang saja, sehingga mereka lebih memilih meniadakan, entah sementara atau selamanya, pihak yang kontra dengan ia. Hasilnya, ya begitu deh, blokir dan un-follow.

2. Meski termasuk generasi reformasi, namun jangan lupa, banyak dari kita besar dalam didikan orangtua hasil produk orde baru yang tidak secara langsung, lebih menginginkan suasana ‘kondusif’ untuk segala urusan. Hal ini pula yang, sepertinya, mempengaruhi orang macam saya dan sahabat saya untuk tetap merasa tenang tanpa direcoki hal yang bagi kami tak begitu punya andil besar secara langsung. Selalu ada skala prioritas untuk dikerjakan ketimbang turut pusing untuk urusan yang, dirasa, tidak terlalu penting. (haduh apa lagi ya? Otak ingin menambahkan, tapi mata sudah hampir menyerah, lain kali saja disambung)

Demikian Catatan Ngawur selepas Sahur seputar serba-serbi pilpres. Harapan untuk sahabat saya, juga anda yang melakukan hal serupa dengannya, tak usahlah terlalu ribut berlama-lama, toh para capres/cawapresnya juga gak ribut-ribut banget kok, KAYAKNYA SIH GITU YA, SEMOGA heheheh….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s