RESAH

image

Prinsip mercusuar sepertinya sudah mengakar, meresap hingga sumsum tulang, dan menjadi sifat sebagian pihak di negara ini. Segala sesuatu, bagi mereka, haruslah selalu terlihat baik-baik. Di permukaan. Beda adalah bahaya. Ancaman merusak moral anak bangsa dan tidak sesuai dengan falsafah tatanan hidup berbangsa dan bernegara adalah mantra yang kerap disuarakan, berulang-ulang, setiap waktu. Buku adalah salah satu korban dari pihak-pihak tersebut.

Bagi anda pengaggum sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer tentu tahu berapa banyak karya tulis beliau yang ‘di-aman-kan’ atau dibakar secara terang-terangan oleh rezim Soeharto melalui perantara tentakel militernya dengan alasan tulisan tersebut masuk ketegori bahaya laten yang mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Apakah hanya Pram yang mengalaminya? Silakan googling berapa banyak kasus serupa terjadi pada berbagai buku di Indonesia sebelum dan sesudah kasus ini.

Kejadian terbaru menimpa komik Why Puberty yang menuai kontroversi dan disinyalir, lagi-lagi, muatannya berpotensi merusak moral genrasi muda serta tidak sesuai dengan tatanan hidup berbangsa dan bernegara. Namun ada yang beda. Yang membuat saya kagum pada komik ini, sekaligus pihak-pihak yang kontra terhadapnya.

Jika dalam karya Pram, juga penulis lain, yang tulisannya mencapai lebih dari ratusan lembar, pihak-pihak yang resah (sekaligus berkuasa) menggunakan alasan bahwa ada selundupan ideologi terlarang terselubung, merasuk dengan halus dalam setiap cerita atau essai mereka (meski tak pernah ada pembuktian sahih yang mendukung). Maka dalam Why Puberty, semua berawal dari sekalimat singkat yang tertulis pada akhir cerita, sebuah opini dari tokohnya.

“Setiap orang punya hak untuk mencintai dan dicintai, dan bila mereka mencintai sesama jenis, itu adalah pilihan. Jika boleh memilih, tentu saja mereka ingin memilih mencintai lawan jenis.” Adalah alasan yang membuat seorang Fahira Idris gerah dan resah hingga melapor ke pihak berwajib dan ‘meminta’ penerbit menarik komik tersebut. Hal yang kemudian diamini oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Imbasnya adalah ‘larangan’ tak resmi beredarnya buku yang mengangkat tema tersebut. Sedikit atau banyak. Langsung atau pun tidak langsung.

Padahal, menurut hemat saya, jika pihak-pihak yang mengatasnamakan moral ini sedikit lebih bijaksana, maka terbitnya komik Why Puberty bisa diapresiasi, setidaknya, untuk dua hal: Berdemokrasi dan Berpikir.

Demokrasi. Lihatlah pernyataan si komikus sebagai pendapat dari seorang warga negara yang mempergunakan haknya untuk bersuara. Sama seperti jika ia berpendapat bahwa orang miskin bisa menikah dengan kalangan kaya raya. Seorang rakyat jelata berhak menjalin cinta dengan keturunan bangsawan. Seorang gadis dari etnis Tionghoa berhak menikahi pemuda berkulit hitam dari Papua. Atau lebih jauh lagi, dua orang yang berbeda agama juga bisa menikah selama saling cinta. Jangan buru-buru menunjuk dan menuduh pihak yang menyuarakan hal semacam ini adalah individu yang diracuni paham liberal ala Amerika atau beberapa negara di Eropa yang melegalkan hal tersebut. Tak semua hal berbau barat otomatis berasal dari barat. Barangkali tulisannya ini lahir dari hasil pengamatan atau pengalaman yang pernah atau sedang ia alami: mendapat diskrimanasi dari lingkungan sekitar karena selera yang berbeda hingga ia merasa perlu menyuarakan melalui berbagai media supaya hal serupa tidak terjadi dan masyarakat bisa lebih melihat itu sebagai pilihan pribadi.

Jika kemudian anda tidak sepaham dengan pendapatnya, tak usah langsung mencak-mencak, menempelkan stigma bahwa orang tersebut adalah pihak salah, memberi cap perusak moral generasi penerus bangsa serta tidak sesuai dengan tatanan falsafah hidup berbangsa dan bernegara, apalagi sampai membrangus atau membakar karyanya, karena selain lebay, tindakan demikian hanya dilakukan oleh orang-orang yang malas berpikir.

Iya, benar, malas berpikir. Hanya manusia jenis ini yang menggunakan cara primitif tersebut (biasanya sih berbarengan bersama tindakan refresif dan propaganda. Biasanya). Dan hanya orang yang malas berpikir pula yang merasa sebuah masalah telah selesai begitu hal tersebut tak lagi terlihat oleh mata kepalanya. Contoh sederhana manusia malas berpikir ditemui pada tabiat orang yang suka buang sampah sembarangan.

Berpikir. Salah satunya dilakukan oleh individu yang terdidik. Dan ciri orang terdidik adalah bertindak dengan baik. Perlu dicatat: baik tidak selalu sama dengan baik-baik. Orang baik adalah orang yang tidak tengil. Tidak sesumbar atau menggurui. Orang baik-baik adalah mereka yang (terlihat) setia pada norma, bisa sangat menyebalkan dan membual demi menegakan citra manusia bermoral. [1]

Orang yang terdidik, berpikir, dan juga baik, bisa menggunakan satu cara primitif, dalam versi lebih elegan. Karya lawan karya. Apa pun! Komik, jurnal ilmiah, cerita fiksi berbasis data, film, lagu, iklan. Apa saja. Hanya manusia dalam kategori ini yang menjadikan segala hal sebagai pendidikan dan pelajaran. Luruskan hal yang anggap anda menyimpang dengan cara yang sesuai dengan jaman. Membrangus bukanlah bentuk mendidik yang efektif di era sekarang. Alih-alih efektif, hal tersebut hanya akan melestarikan paham feodal sekaligus memunculkan gejala fasisme. Dua paham yang, tentunya, tidak sesuai dengan falsafah hidup berbangsa dan bernegara, UUD ’45, juga Pancasila, bukan?

Biarkan masyarakat membaca, menilai, dan memilih sesuai kehendak sendiri. Informasi bukan lagi barang langka, semua ada di ujung jari masing-masing. Kalau pun ada yang kemudian berdiri bersebrangan, toh mereka sudah diperingatkan sesuai dengan kapasitas anda sebagai sesama manusia. Tak usah pula menyebar issue dan mengompori orang untuk saling adu karena hal itu hanya dilakukan oleh kolonialis pada jaman penjajahan, tak pantas dilakukan oleh orang yang mengenyam sekolah, apalagi mengaku beragama. Kalau masalah masuk surga atau neraka sih, memburu dan menembaki hewan termasuk perbuatan dosa, dan bisa mendapat laknat juga lho.

*****************

[1] Mengutip, dan sedikit merubah, tulisan Ayu Utami dalam cerpen Terbang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s