Review : novel Tarian Bumi – Oka Rusmini

image

Buku Tarian Bumi saya beli pada akhir januari, tersimpan, dan baru dibaca awal maret ini. Lalu saya menyesal. Ya, itulah yang saya rasakan setelah membacanya. Menyesal mengapa baru sekarang, menyesal mengapa novel keren ini begitu pendek hingga saya melahapnya dalam hitungan jam saja.

Berkisah tentang tiga generasi perempuan dengan Ida Ayu Telaga Pidada sebagai pusat, dan berpintal secara pararel dengan kisah Ibunya, Luh Sekar (Jero Kenanga), juga neneknya, Ida Ayu Sagra Pidada, Tarian Bumi mengupas lapis demi lapis kehidupan para perempuan Bali yang masih terikat dalam sistem patriarki nan kental. Juga tentang bagaimana mereka berkuasa (dalam keterbatasan gerak) atas tubuh, mimpi, ambisi, dan harapan beserta resiko dan konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil. Tak ketinggalan benturan cara pandang masing-masing tokoh terhadap generasi di atas, dibawah, dan seusia. Secara garis besar dan linier begini ceritanya:

Ida Ayu Sagra Pidada terlahir sebagai bangsawan murni dan berayah seorang pendeta yang otomatis menempatkan posisinya lebih tinggi dibanding perempuan lain di griya*, sangat mengagungkan nilai cinta dan status. Sayang ia hanya keturunan tunggal, hingga keluarga yang khawatir kemudian menjodohkannya dengan seorang lelaki miskin namun terpelajar, Ida Bagus Tugur. Siapa nyana Dayu* Sagra yang mensakralkan cinta benar-benar terpikat pada pria yang kemudian naik derajatnya ini. Cinta pula yang kemudian menjerat sang perempuan ke dalam lingkar masokis. Si lelaki ternyata sebelumnya telah beristri, perempuan sudra beranak dua janda pula, hal yang bagi Dayu Sagra serasa dicoreng harkat kebangsawanannya, belum lagi kesibukan suami yang makin hari makin padat membuat keduanya jarang bersua, tapi anehnya justru membuat Dayu Sagra makin mencintai Ida Bagus Tugur. Kasih tak sampai ini kemudian ia lampiaskan melalui kuasanya sebagai Brahmana murni. Dibuatnya Ida Bagus Tugur tunduk oleh amarah, satu deham saja bisa membuat lelaki ini diam seribu kata dan hidup di bawah ketiaknya. Buah perkawinan mereka melahirkan Ida Bagus Ngurah Pidada yang kelak, juga, menikahi seorang perempuan sudra bernama Luh Sekar. Hal yang membuat Dayu Sagra makin merana.

Luh Sekar, seorang perempuan sudra yang punya ambisi kuat untuk naik kasta. Tiada penting baginya apa itu cinta, yang utama adalah kedudukan, hal yang kemudian didapatkannya dari Ida Bagus Ngurah dan harus dibayar mahal. Pascamenikah dan masuk keluarga besar griya, selain harus mengganti nama menjadi Jero Kenanga, Sekar juga harus menanggalkan kehidupan sebelumnya, termasuk ibu yang ia kasihi. Alih-alih bahagia, kehidupan yang ia jalani di griya tidak lebih baik. Sudra yang jadi muasalnya membuat ia dipandang sebelah mata, terutama oleh Dayu Sagra. Sementara suaminya sama sekali tidak bisa dijadikan pegangan, terlebih karena tabiat buruknya, bahkan ia mati muda di tempat prostitusi. Dari pernikahannya, Jero Kenanga melahirkan Ida Ayu Telaga Pidada.

Ida Ayu Telaga Pidada, tumbuh dalam kuasa dua perempuan keras hati keras kepala yang saling bersaing untuk menjadikannya lebih baik menurut versi masing-masing, membuatnya punya cara pandang yang kerap bertentangan dengan dua generasi sebelumnya dalam berbagai hal. Namun di sisi lain ia tetap terikat adat yang kuat, terutama saat hatinya tertambat pada Wayan Sasmitha, lelaki sudra yang keluarganya secara turun temurun bekerja untuk griyanya. Dayu Telaga yang dilema untuk memilih cinta atau ambisi ibu dan neneknya yang menomorsatukan kedudukan akhirnya memilih menuruti kata hati. Sama seperti ibunya, ia harus membayar mahal pilihan tersebut demi sebuah kata, kebahagiaan. Dari pernikahannya, Dayu Telaga melahirkan Luh Sari.

image

Yang membuat Tarian Bumi lebih menarik adalah bahasannya yang luas dan tidak terpaku pada ketiga tokoh sentral tersebut. Banyak perempuan lain dengan berbagai karaktristik sendiri-sendiri dibahas dalam novel ini, seperti Luh Kenten yang diam-diam mencintai dan punya hasrat seksual pada Luh Sekar, sahabatnya. Lalu ada Luh Dalem, ibu Luh Sekar, perempuan sederhana yang hidupnya dibebani derita, namun tetap ia jalani dengan ketabahan luar biasa. Lalu Luh Gumbreng, ibu Wayan Sasmitha, yang menolak cinta Ida Bagus Ketu Pidada karena selain pada jamannya tak ada pernikahan antar kasta, juga karena ia tahu si lelaki mempunyai seorang kekasih lelaki dari kasta Sudra, tapi terdorong rasa cinta ia mengorbankan diri dinikahi si lelaki sudra dan menjaga rahasia tersebut sepanjang hidupnya. Kemudian sederet nama; Luh Kambren, Luh Dampar, Luh Sadri dan lain-lain yang membuat para pembaca – saya kutip salah satu komentar di buku ini dari Wildan Hakim, detikcom, disuguhi realitas Bali yang jauh dari kesan eksotik, namun sesungguhnya memendam luka teramat dalam bagi penghuninya.

==============================================
* griya : rumah tempat tinggal kasta Brahmana
* Dayu : singkatan untuk Ida Ayu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s