Tentang Dimin

“Ceritakan padaku tentang angan-angan.” Pinta Prita, maka Prama pun berkisah tentang pemuda Dimin.*

Kelak, dimasa yang akan datang, pada suatu malam yang cerah di akhir bulan, dalam kamar berterang lampu pijar, Dimin mematut diri depan cermin, mengenakan jaket baru bergaya harajuku, perpaduan kulit imitasi dan beludru, hasil pesanan di tailor langganan dengan paku dan kaca sebagai hiasan. Ia juga sedikit merias wajah agar mirip musisi yang terposter di dinding.

“Ganteng.” Gumamnya.

Dimin lalu mencoba berbagai pose dan gaya; berkacak pinggang sambil membelalak, menggerakan satu kaki selangkah ke depan, mengangkat sebelah bahu, melipat tangan depan dada, menyeringai mirip pemaen ganteng ganteng srigala, nyengir kuda, dan sebagainya. Semua beres, rapi, terkendali. Dimin tertawa, mengoceh dalam bahasa Jepang yang baru ia hafal dua belas kata. Moshi moshi, fujiyama, aisiteru, sayonara, sushi, kokoronotomo, naruto, dommo arigato, suneo….

Belum juga selesai, keponakannya yang masih balita datang.

“Om Imin bicara sama siapa?”

“Sama dia.” Dimin menunjuk bayangannya di cermin.

“Siapa dia?”

“Aku.”

Si bocah manggut-manggut, ingusnya mulai nongol. “Oh.” Lalu bertanya, “Kok mukanya menor kayak perempuan?”

“Hus! Ini gaya baru?”

“Gaya baru itu apa?”

“Gaya yang lagi musim jaman sekarang. Ini namanya Bishounen.

“O nenen. Nenen kayak punya emak? Om Imin sekarang punya nenen juga?”

“Hadeuh! Bukan, itu istilah. Artinya flower boy, lelaki bunga, cowo cantik.”

Sejenak bocah itu diam. Berpikir barangkali. Lalu menunjuk kaca, pada pantulan Dimin.

“Kok dia tidak cantik.”

“Kalau aku?” Tanya Dimin agak was-was.

Si bocah melongo. “Sama. Kamu juga tidak cantik.”

“Huh!” Dimin melengos keki. “Biarin. Nanti kamu lihat, pulang dari sana aku pasti bakal keren.”

“Memang mau kemana?”

“Sekarang sih tidak kemana-mana.”

“Berarti nanti kemana-mana?”

“Iya dong. Tahun depan aku mau ke Jepang.”

“Jepang itu apa?”

“Nama negara.”

“Jauh?”

“Ya iya lah.”

“Jauhan mana sama pasar?”

“Jauh Jepang dong. Nanti aku kesana naik pesawat terbang.”

“Mau apa ke Jepang?”

“Mau bekerja.”

“Kerja apa?”

“Apa saja.”

“Jadi kuli juga?”

“Mungkin.”

“Kenapa tidak di sini saja?”

“Di Jepang, gaji tukang pungut sampah saja setara sepuluh juta uang kita, gaji seorang manajer perusahaan multinasional ibu kota. Apalagi jika aku kerja di pabrik, mungkin upahku bisa lima belas atau dua puluh juta.”

“Dua puluh juta sama tujuh ribu banyakan mana?”

“Dua puluh juta.”

“Cepat kaya dong.”

“Itulah tujuanku, jadi kaya. Kamu tahu kenapa?”

Si bocah menggeleng. Ingusnya yang menjuntai bergelantungan.

“Aku bosan terus dihina. Kalau aku kaya, aku tidak akan di tolak sama cewe-cewe tetangga, tidak diejek sama cabe-cabean di Facebook, tidak akan dijadikan lelucon di tempat kerja, dan yang paling utama aku tidak usah pura-pura. Capek, boy, capek.”

“Pura-pura apa?”

“Pura-pura bego, pura-pura tolol, pura-pura latah, pura-pura alim, pura-pura menyukai orang yang tidak kusuka, pura-pura tidak suka orang yang kusuka.”

“Kenapa harus pura-pura?”

“Karena dengan pura-pura aku diterima mereka, dan peranku jadi bahan tertawaan. Kamu tahu bagaimana rasanya dicela? Sakiiiiit. Sakitnya tuh di sini!” Dimin menunjuk dada.

“Oh begitu.”

“Aku kan garang, tapi di sana kepalaku di toyor-toyor, di kagetin, di injek, di jorokin. Terus aku harus pura-pura kaget lalu latah jika mendadak ditepak, memangnya aku mpok ati, aku kan cowok banget!”

Si bocah menguap. “Oh begitu.”

“Iya, kadang kepalaku sampai puyeng gara-gara kebanyakan ekting. Aku bahkan harus mengarang supaya terkesan tidak bisa membedakan jaim dan jaga imej.”

“Memang jaim itu apa?”

“Jaim itu orang yang selalu menampik apa-apa yang ditawarkan. Ini ngga mau, itu ngga mau.”

“Kalau jaga imej?”

“Seperti aku sekarang. Menata penampilan, supaya keren.”

“Oh begitu.”

“Iya begitu. Kamu tahu boy, setelah kaya, bukan cuma jaket atau baju yang akan kubeli, tapi tanah dan sawah sekalian. Aku juga akan beternak bangkong dan bekicot untuk di ekspor ke Swahili dan Prancis. Setelah itu aku bakal jadi juragan, hanya perlu ongkang kaki sambil kipas-kipas duit. Aku ngga usah kerja buat dapat duit, tapi duit yang kerja buat aku, kayak haji lulung. Kemudian aku mau beli motor sport keluaran baru, buat jalan-jalan ke tempat kerja lama, biar semua melihat kemajuanku, kemakmuranku.”

“Kalau tidak ada yang kenal?”

“Harus ada! Jika perlu kulindas salah seorang dari mereka.”

“Nanti masuk penjara dong?”

“Nggak mungkin kalee, aku kan kaya, bisa membeli apa saja, termasuk hukum ahahahahahaha…..” Dimin pasang gerakan pahlawan bertopeng.

“Ahahahahahaha.” Keponakannya meniru.

“Akan kubuktikan boy, bahwa orang bodoh juga bisa sukses.”

“Om Imin bodoh?”

“Kalau pintar, aku sudah jadi direktur.”

“Kok bangga jadi orang bodoh?”

“Lho, memang harus bangga, sebab hanya orang yang merasa bodoh yang terus memacu otaknya untuk berpikir untuk terus maju.”

Sejenak Dimin tercenung, mengingat-ingat, siap yang pernah berkata begitu padanya. Mario Teguh?

“Tapi setelah kupikir matang-matang, ada untungnya juga aku memposisikan jadi bodoh dan selalu kena celaan.”

“Ada untungnya?”

“Ho’oh. Doaku jadi cepat terkabul, boy. Kan doa yang paling cepat di ijabah adalah doa orang yang teraniaya. Sering juga sih mereka bosan dan memperlakukanku dengan wajar, tapi justru disitulah aku kadang merasa sedih, berarti doaku tak akan terlalu manjur. Jadi aja aku pancing-pancing supaya mereka menjahiliku.”

“Di pancing? Pake umpan? Teman Om Imin ikan?”

Dimin memutar mata, “Bukan keleus.” Lalu mendadak ia cekikikan.

“Kalau dirasa-rasa sih, rasanya aku yang pintar di sini. Cuma modal tebal muka, tebal kuping, terus berusaha supaya tetap di bully sama mereka, terus menengadahkan tangan, terus minta supaya aku dibuat kaya, terus dikasih jalan deh ahahahahah….”

Kepoakannya yang belum paham apa-apa itu ikutan tertawa.

“Ya… ya… ya… berarti teman-temanku yang bodoh. Sudah berdosa karena sering mencela, susah rejeki pula. Sementara aku, sudah dimudahkan buat pergi ke Jepang tahun depan, dapat pahala pula dari tuhan.”

“Tapi Om, berarti Om, berarti tuhan bodoh juga, kan kamu bohongin teman kamu, tapi tuhan malah bela kamu, berarti tuhan bisa dibohongin juga, berarti tuhan bodoh.”

Dimin melotot. “Hus, bocah! Tau apa kamu? Ngga boleh ngomong gitu, dosa. Nanti masuk neraka! Sudah, maen di luar sana.”

Si boy tergelak, menghisap ingus kuat-kuat, berlari keluar kamar, tak lama berselang terdengar ia merengek pada emaknya, minta naik odong-odong.

“Apakah si Dimin jadi pergi ke Jepang?” Tanya Prita.

“Aku belum bisa menjawab Prita, ceritanya masih belum selesai.” Jawab Prama.

=========================
* Teknik menulis yang biasa dipergunakan Seno Gumira Ajidarma dalam banyak cerpennya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s