Dear Diary

sebab sejarah ditulis oleh mereka yang berkuasa

Diary,
Hari ini ayah menikahi perempuan itu. Janda beranak dua itu. Ibu dari gadis-gadis cantik yang tetangga sebut begitu terpelajar namun punya kerendahan hati mengagumkan. Dalam pesta perayaan keduanya hadir serupa bulan kembar di gelap malam, sementara aku bintang, satu diantara sekian hamparan. Biasa. Tak terperhatikan. Para saudagar dan putra-putra mereka mencuri lirik dengan sering. Dan kau tahu Diary? Mereka terlihat begitu menikmati, namun bertindak seolah tak tahu apa yang tengah terjadi. Cih! Lihat saja, Diary, lihat saja. Suatu hari aku yang akan mendapat tatap tersebut. Tatap sepasang mata yang melebihi seluruh pasang mata pria di antero negeri ini.

Diary,
Betapa memuakan! Ketiga jalang itu mulai menginvasi rumahku dan mencuri perhatian ayahku. Milik-milikku! Dimulai beberapa hari lalu, saat kami sarapan bersama, ketiganya berakting seolah sungkan duduk bersama. Oh..oh… formula standar dari para tiri. Dan ayahku yang baik hati, yang tidak tega melihat orang menderita tentu saja berusaha menyenangkan mereka dan berkata bahwa semua adalah keluarga yang tak mengenal beda-beda. Lalu ia memintaku berbagi gaun untuk kedua putri barunya. Akurlah dengan mereka, pinta ia. Enak saja! Aku tak kan sudi melakukannya. Tentu aku akan memberi mereka beberapa, tapi yang bekas. Sebab begitulah mereka, bekas! Sisa! Ibu tiriku bekas lelaki lain yang membawa jejaknya dalam dua anak menyebalkan itu! Mereka yang sok meyapa! Mereka yang sok bertanya. Aku tahu niat dibalik semua. Mereka ingin mengubah kasta, mengubur aib dalam bentuk keluarga baru. Dasar loyang! Mereka pikir akan mudah naik kelas menjadi emas di rumah ini setelah bersikap, SEOLAH, baik padaku? Jangan harap! Kau tahu Diary, orang-orang sial itu bergeming dalam kemanisan dan keluguan ala cendikia tiap kali kujawab ketus setiap kata mereka. Seumpama kuabaikan keberadaan ketiganya, kuanggap mereka tak pernah ada, apakah mereka sanggup menghadapinya? Kita lihat.

Diary,
Oh Diaryku, ternyata aku salah langkah. Startegi ekskomunikasi adalah bumerang. Kemarin malam ayah mendatangiku, bertanya, bagiku terasa sebagai teguran kasar, mengapa istri dan anak-anak barunya seolah makin kikuk dan takut untuk melakukan hal-hal rumah tangga. Sebelum kujawab bahwa aku tidak tahu apa-apa bahkan tidak pernah bertukar kata dengan mereka, ayah mendahuluiku, bahwa ketiganya sepakat berpendapat merasa lebih seperti pembantu rumah tangga yang bermajikan nona bisu. Lalu ia menasihatiku panjang lebar yang intinya aku harus mulai bisa menerima mereka sebab ia menyayangi dan menerima ketiganya. Sungguh menyakitkan, Diary.

Diary,
Setelah kejadian malam itu kondisi mulai berubah. Terutama ayah. Dimulai dari perbincangan kecil-kecilan dengan dua dedemit keparat itu, mereka terlihat makin  akrab. Semula kupikir bentuk basa-basi karena ia ingin kebekuan yang menekan syaraf ini mencair. Lalu kuketahui ia mulai mengundang mereka ke ruang baca, berdiskusi dengan ramai diselingi tawa yang menggema, membuat perih telinga. Pernah ia mengundangku bergabung. Semula aku tertarik, akan keperlihatkan pengetahuanku, tapi begitu kulihat keduanya mengeluarkan jurus andalan, menunduk sambil membetulkan posisi duduk, kuurungkan niat. Kututup pintu pelan, sangat pelan. Silakan jika kalian ingin bersenang-senang, tak akan kuganggu. Kulari ke kamar, berniat menulisimu dan berharap ayah menyusul, meyakinkan bahwa aku masih putri satu-satunya di hati ia sambil mengusap rambutku. Tak terjadi. Kuhabiskan sepanjang malam untuk menguras tangisan.

Setelah itu, tiap bersantap ia akan menyapa mereka lebih dulu. Namun mereka memancing akulah yang lebih berhak untuk hal itu. Provokatif. Jika tak kutahan tanganku, barangkali piring makan dihadapan akan melayang ke wajah mereka. Kubalikan peran. Tersenyum lembut sambil berkata, tak apa. Kau tahu Diary begitu susah melakukan hal tersebut, bibirku terasa kelu saat ku set untuk dilengkungkan ke atas. Begitu berat mengangkat alis sambil meneduhkan pandangan. Tiga lonte ini benar-benar aktris yang piawai memainkan peran. Bagaimana bisa mereka melakukannya sepanjang hari?

Tentu mereka tak berhenti sampai sana. Para pemalsu itu bertingkah seakan salah polah, lantas bertanya pada ayah tidakkah ia memperhatikan perasaanku yang lebih butuh perhatian selepas kematian ibu. Kau tahu jawabannya, Diary? Ayah berkata, biarlah supaya putriku tahu bagaimana menghargai orang lain dan tak manja. Aku? Manja sebelah mana?

Diary,
Kini ayah telah pindah pihak. Kuyakin istrinya yang punya andil besar. Kau tahu bagaimana modus para perempuan yang terbiasa menggunakan tubuh untuk merayu melancarkan aksi bukan? Pastilah dia membisiki ayah selepas memuaskan syahwatnya supaya menyingkirkanku. Dihadapanku saja ia bersikap baik dan bertindak seakan jadi penengah keadaan. Di depan atau belakang ayah, ia senantiasa berusaha merangkulku. Kutepis! Aku tak akan pernah lengah, apalagi membuka celah. Kukatakan dengan lafal sejelas yang kubisa, jika kau memang berniat ingin menetramkan hidupku cukup lakukan satu hal, keluar! Dasar ular! Dan kau sudah pasti bisa menebak, Diary, alih-alih mereka yang angkat kaki justru ayah datang dengan kemarahan. Ia memakiku sebagai anak tak tahu diri. Aku meraung, memecahkan gelas, melempar semua gaun, meneriakinya, aku anakmu, manusia yang dalam tubuhnya mengalir darahmu, namun kau berpaling dengan mudah hanya karena memek wanita jalang itu. Ambil! Ambilkan apa pun yang mereka ingin, jejalkan semua hingga mereka puas, sayangi ketiganya sampai kau mati, aku tak peduli! Sesaat sebelum kubanting pintu, kulihat ia menatap tak percaya dengan mata berkaca. Biarlah, kepalang tanggung. Lagipula yang kukatakan kenyataan.

Diary,
Aku merasa was-was. Tadi pagi, setelah mengetuk pintu kamar berkali-kali dan kubuka karena jengkel pada bunyinya, ia berpamitan untuk bertemu salah seorang rekan dagang. Mata ia sembap. Pasti ia juga melihat pemandangan serupa tercetak di wajahku. Ia minta maaf atas perkataannya semalam dan berjanji membawa hadiah saat pulang. Tak usah, jawabku, ayah pulang dengan selamat saja aku sudah senang. Ia mengecupku lama, lalu pergi. Entah kenapa, sejak tadi siang gundah menyerang.

Diary,
Oh Diaryku, entah apa yang harus kukata. Ayah…. ayahku, Diary, ayahku meninggal.

Diary,
Ternyata ayah masih menyayangiku dengan melimpahkan seluruh warisan ke tanganku. Tapi aku sebetulnya masih curiga, jika sekarang ia masih ada, bukan tak mungkin para lintah itu yang akan lebih dulu menghisapnya, dan aku benar-benar terbuang. Ada untungnya juga ia mati sekarang. Oh, maksudku…. oh Diary maafkan keburukanku, aku tak bermaksud mendoakan ayahku cepat wafat, aku sangat mencintainya, sungguh. Hanya saja aku takut ia benar-benar termakan hasutan iblis-iblis itu dan kami jadi seteru.

Oh ya, aku hampir lupa, iblis-iblis itu hanya mendapat secuil bagian dari rumah ini, kuputuskan loteng yang akan jadi kandang mereka, biar ketiganya hidup dengan tikus-tikus, mereka kan serupa. Pengerat! Pengganggu! Hama!

Kini aku hanya perlu fokus pada satu hal lain. Kau tahu hal apa itu, bukan?

Diary,
Kurang ajar! Apa yang membuat mereka istimewa, Diary, apa? Kuakui ketiganya berwajah elok, tapi cantiknya udik. Sejak beberapa waktu lalu kujadikan mereka babu; mencuci pakaian, menyapu halaman, melap jendela dan seluruh perabotan kaca, menimba sumur, memasak air, menanak nasi, memetik bunga, memanjat pohon. Namun berkat, lagi-lagi, akting meyakinkan ketiganya mendapat simpati para tetangga. Kuakui aku memang asosial, jarang mengobrol atau sekedar tegur sapa hingga acap diberi cap sombong. Tapi aku selalu hadir di berbagai undangan berbagai acara, pesta pernikahan, juga upacara kematian. Tak lama memang, tapi cukuplah untuk diketahui bahwa aku datang. Jujur aku tak tahu dialog apa yang pas untuk membuka percakapan. Aku khawatir salah omongan. Tapi begitulah, kadang satu sikap dipandang berbeda oleh masing-masing orang. Tak apa, lihat saja, jika aku berkuasa mereka yang akan datang dan mengaku-aku orang terdekatku. Begitulah sifat manusia disekelilingku. Mereka serupa semut yang hanya akan mengerubuti gula. Kecuali yang tiga itu. Entah pelet apa yang membuat mereka menjadi madu. Pertama ayahku, lalu tetanggaku. Kemarin kulihat si sulung turut mendorong gerobak pedagang tua yang lewat, padahal pekerjaannya belum selesai, lalu sebelumnya si bungsu yang begitu, mengambilkan kucing tetangga yang terjebak di atas pohon. Penjilat!

Diary,
Hari yang dinanti datang juga. Festival dansa di istana. Ketiga kunyuk itu sudah kasak-kusuk, menimang rencana untuk turut serta. Monyet! Tidakkah ayahku cukup bagi mereka? Apa yang harus kulakukan, Diary?

Diary, 
Tadi petang mereka sudah siap dan berdandan. Sialan! Mereka pasti tanam susuk hingga dalam balutan gaun lusuh pun terlihat tetap menawan. Sementara aku yang habis-habisan berdandan tetap terlihat macam rakyat kebanyakan. Tak bisa kubiarkan! Kubilang pada mereka, kalian boleh datang ke festival dansa dengan satu syarat. Apa, tanya mereka. Kuambil beras segantang, lalu kutebar di halaman. Pungut, kataku, satu persatu, jangan terlewat satu bulir pun! Setelah itu baru kalian boleh berangkat. Kulihat wajah mereka mendadak pucat, kecuali si ibu yang merah padma. Apa salah kami, tanyanya. Goblok! Pertama, jawabku, kalian datang mencuri ayahku lalu membuatnya terbunuh di perjalanan. Apa kalian pikir aku tidak tahu dia menemui siapa? Temanmu bukan? Kau sengaja mengumpankannya pada perjalanan panjang agar penyakitnya kambuh dan tak selamat, lalu hartanya jatuh padamu. Namun lalu kau keliru. Kedua, setelah gagal dengan rencana pertama kau berniat mengincar pangeran untuk tujuan yang sama. Tak kan kubiarkan, pih! Jika tak melihat usia, sudah kuludahi wajah jahanamnya. Ambil bulir-bulir beras itu, sekarang! Bentakku.

Lalu kau tahu, Diary, saat para gadis berlomba menarik perhatian, mata pangeran tertuju pada satu tamu. Dia yang datang di menit terakhir sebelum dansa pertama dimulai. Perempuan paling jelita dengan gaun sewarna langit dan kilauan aurora terpancar dari wajahnya. Semua peserta tereliminasi seketika. Persiapan yang sia-sia. Kami menatap iri pada tamu terakhir yang hadir bak jelmaan dewi dengan gerak gemulai laksana angsa. Pangeran terpikat, mengajak tamunya berbincang di ruang pribadi. Sementara kami ditinggalkan begitu saja. Geram hatiku. Gagal pula rencanaku. Level harus kuturunkan. Putra gubernur atau bupati barangkali lebih cocok untuk kelasku. Tak apa, asal ketiga kuntilanak itu juga gagal sepertiku.

Kemudian kehebohan melanda. Sang dewi bergegas menerobos keramaian. Lari kencang berjejak keharuman paling harum dari semua harum. Pangeran berusaha mengejar, namun perempuan itu seperti fiksi, hilang tanpa jejak. Raib bagai kabut tak tergenggam. Kenapa perempuan tercantik selalu banyak tingkah? Pangeran murka, festival dibubarkan.

Diary,
Satu bulan berlalu tanpa cerita. Rumahku tentram. Para jongos tak banyak tingkah, kecuali si sulung yang senantiasa muram. Ha! Siapa peduli.

Diary,
Keberuntungan, Diary, Keberuntungan! Pengumuman berkumandang. Pangeran jatuh sakit karena hatinya terpanah pesona Sang Dewi yang melarikan diri dan hanya meninggalkan satu petunjuk sederhana. Sepatu terindah yang pernah ada ia tanggalkan di anak tangga. Pangeran datangi kastil dan puri, memasangkan sepatu pada banyak putri. Percuma! Tak satu pun ada yang pas. Ia merana oleh obsesi, meyakini sang dewi adalah putri. Lalu ia menjajal rumah-rumah bangsawan yang memiliki anak perempuan. Hasilnya sama. Nihil. Dari gosip yang beredar, raja khawatir tak ada penerus tahta, sang pangeran adalah putra tunggal, maka ia membuat kecuali dalam tradisi. Putra mahkota boleh menikah dengan rakyat jelata. Semua gembira. Kini dongeng tak lagi mimpi di siang hari. Ini adalah kesempatan!!!

Diary,
Kau tahu apa yang kutemukan, Diary? Catatan si bungsu. Kemarin malam kudengar ketiganya berbincang. Tak jelas benar, namun setidaknya ada beberapa kata yang kutangkap. Pesta. Nama si sulung. Sepatu. Peri. Labu. Sepatu. Terdorong penasaran, kusuruh mereka ke pasar lalu ku geledah loteng dan kutemukan buku ini. Mengerikan! Ternyata Dewi adalah si sulung yang mendapat bantuan peri. Sudah kuduga, mereka penguna guna-guna. Kukutip sedikit.

“Kami bertiga tak sanggup lagi menanggung derita. Ibu salah pilih, ternyata tuan baik budi itu beranak monster. Kebaikan kami tak pernah dianggapnya, ada-ada saja tuduhannya. Ia menjadikan kami budak untuk alasan yang tak masuk akal……. Maka ibu membuat perjanjian dengan para peri hutan. Ia jual jiwanya agar kami terbebas dari penjara ini…….. Sungguh pengorbanan luar biasa. Tadinya aku yang hendak berkorban, tapi ibu mencegah, biarlah ini jadi tugasnya……. Kakak marah! Saudari tiri kejam! Umpat ia. Tapi ibu mengingatkan, maafkan saudari tirimu, dia berlaku seperti itu karena tidak tahu….”

Bla… bla… bla…. Lihat saja, perhitungan macam apa yang kubuat dengan mereka!!!

Diary,
Kukatakan padamu sebuah rahasia. Tak ada lagi saudari dan ibu tiri. Mereka telah mati. Ya, mati. Kubunuh ketiganya. Salah mereka sendiri tak mau memberi tahu keberadaan pasangan sepatu itu. Kuundang ketiganya makan bersama dengan santapan terlezat. Awalnya mereka sangsi, curiga pada undangan. Kenapa, tanyaku, takut kuracuni? Tak usah besar hati. Lihat tak ada racun dalam santapan ini. Ku cicip satu persatu. Mereka menunggu, lalu, setelah benar-benar tak terjadi apa-apa padaku, ketiganya setuju. Bodoh! Yang kuracuni bukan hidangan, tapi piring masing-masing. Tak berselang setelah beberapa suapan tubuh ketiganya mulai beku dengan warna muka campuan biru dan ungu. Kukatakan, sambil mengipaskan catatan si bungsu,  aku hanya punya sedikit penawar, cukup untuk menyelamatkan satu orang, dia yang bersedia menyebut letak pasangan sepatu. Ibu tiri matanya berurai air, mungkin ia merasa percuma dengan penjualan jiwanya. Si sulung juga sama, ia pasti kecewa tak jadi permaisuri. Si bungsu apalagi, sebab karena dirinya lah nyawa mereka terancam berakhir. Barangkali. Ya, barangkali karena hal tersebut mereka memilih bisu dan mati pelan-pelan sebagai pilihan. Ku nikmati pemandangan bagaimana mereka sekarat sambil menikmati daging kerat demi kerat. Setelah mereka tewas dan perut kenyang kugeledah loteng, gudang, kandang dan halaman belakang. Tak ada. Keparat! Sial! Umpatku, lalu kuingat mereka, para peri hutan.

Diary,
Ahahahahahaha…. bermodal kapak akhirnya kudapat benda itu. Kuancam para serangga hutan tersebut bahwa aku tak segan menghancurkan tempat tinggal mereka sambil melempar penggalan kepala ibu tiriku sebagai bukti untuk janji jika mereka tak memberikan sepatu dengan pamrih imbalan nyawa. Mereka berkerut, memetik salah satu buah, menjatuhkan. Ajaib, Diary, dari pecahan buah muncul sebelah sepatu, benda terindah yang pernah kulihat.

Diary,
Lama aku tak menulisimu. Barangkali ini juga kali terakhir sebelum kututup dirimu. Tak usah kau tahu bagaimana aku naik tahta dan akan jadi ratu. Biar ini jadi rahasiaku sendiri dan akan kukunci dalam hati. Apakah aku bahagia, aku tak tahu. Itu juga rahasia yang akan ku simpan. Akan kutulis sejarah ini semanis gula-gula dengan diriku sebagai tokoh utama yang teraniaya ibu tiri dan dua saudari. Kisah yang dimulai dengan kalimat, “Di suatu masa, tersebutlah seorang gadis cantik yang senantiasa berbedak jelaga yang hidup di bawah kuasa ibu tiri maha jahat dan dua saudari yang jelek dan bodoh…..”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s