No Poo

image

Terhitung 20 desember 2014 saya resmi memulai gerakan keramas tanpa shampo alias No-Poo bukan karena sok go green, tapi lebih disebabkan rambut saya berminyak dalam kadar yang keterlaluan dan rontok dalam jumlah kategori biadab. Sudah tipis, tambah minyak, rontok, plus garis rambut di dahi yang terus mundur, makin membuat tak karuan rasa dan tampilan saya. Konsekuensi logisnya tentu saja saya harus keramas tiap hari memakai sampo yang berkonsekuensi logis lagi saya menjebakkan diri pada lingkaran aneh tak berkesudahan ini. Hal yang baru saya ketahui setelah kasak kusuk mencari produk perawatan rambut berbahan alami, karena saat cari yang berbahan kimia dan lihat harganya langsung ngurut dada, belum lagi kesaksian di berbagai forum yang menyebut aneka produk tersebut hanya menimbulkan efek adiksi berkepanjangan, begitu pemakaian dihentikan, rontoknya lebih parah. Andai saya sekaya Wayne Rooney tentu mudah saja, tinggal melakukan implan langsung beres, tapi apa mau dikata dompet saya tak setebal si akang itu hehehehehe….

Saat lagi asyik mencari, saya tertarik pada frasa No-Poo, begitu di klik berhamburanlah berbagai informasi dan testimoni. Dari situ saya berpikir, barangkali pangkal dari segala masalah yang terjadi pada rambut dan kulit kepala ini berasal dari shampo yang digunakan, tak semata karena faktor stress, lingkungan, atau usia. SLS, Silikon, dan parabean adalah unsur teratas dan disinyalir sebagai biang masalah rambut & kepala dan ketiganya juga bertengger hampir pada semua produk shampo kecuali seri Rainforest dari The Body Shop yang terang-terangan menyebut produk mereka bebas dari unsur-unsur tersebut (hal yang kelak akan saya sesali). Barangkali karena racun mereka yang terlalu kuat mendoktrin, saya pun penasaran untuk mencoba.

Ya, kenapa tidak? Selain tidak membutuhkan banyak bahan juga tidak harus terjebak rutinitas kewajiban mengaplikasi ini itu. Terdorong penasaran saya pun melakukan persiapan untuk melepas pemakaian shampo dengan berkeramas super khusuk, disusul membeli senjata andalan para No-Poo(ers) yakni baking soda dan jeruk nipis (alternatif dari cuka apel karena saya tak tahan baunya yang mirip nasi basi, sekalian buat persediaan jeniper tiap pagi). Tiga hari pertama rambut saya berminyak parah, nyaris basah, apalagi tipe rambutnya termasuk susah dibikin pas; belah ke kanan aneh di depan, belah ke kiri aneh di belakang, belah tengah culunnya gak ketulungan. Alhasil awut-awutan, doyong sana sini, kayak Jaime Cullum belum mandi. Untungnya rambut saya pendek jadi dekilnya tak begitu kentara, hanya harus kuat iman saja menahan jari untuk tak menggaruk dengan buas mengingat gatal yang ditimbulkannya sangat menyiksa. Hari keempat, lima, dan enam saya selingi cuci pake air saja karena sudah berjanji dalam hati hanya akan menggunakan baking soda di hari ketujuh agar pada saat pembersihan, minyak di kulit kepala benar-benar telah sampai puncak pengeluaran. Operasi bersih-bersih pertama menggunakan baking soda saya tiru dari teman-teman bloggers yang telah lebih dulu melakukan, yakni mencampur satu sendok makan baking soda dengan sedikit air hingga menyerupai pasta. Namun di sini lah letak keanehannya, mulai dari satu dua tetes, hingga volume perbandingan 1:1 si baking soda tak mau meyerupai pasta, tetap mengendap setelah diaduk. Tanggung, saya pake saja. Ada sensasi baru kala memakai campuran air dan soda kue, pas lagi di unyek-unyek rambut serasa ada yang melapisi dan halus sekali, tapi begitu dibilas, ijuk terdeteksi. Kaku dan kesat. Saya pun segera memakai perasan jeruk nipis campur air sebagai pengganti kondisioner. Lalu tadaaa… rambut saya jigrak mengembang. Tak bagus sama sekali. Susah diatur pula. Hipotesa sesat saya memperkirakan akibat kebanyakan baking soda. Terpaksa menunggu selang seminggu buat eksperimen lanjutan sambil terus kasak-kusuk cari metode yang pas.

Satu yang ajaib. Di hari kedua saya kehujanan. Biasanya, kalau shampo-an, ini rambut langsung lepek dan berminyak, namun kali ini, pascahandukan, rambut saya baik-baik saja saat kering. Melihat keberhasilan ini, saya pun mencanangkan ikut gerakan enam pekan tanpa bershampo, siapa tahu bisa sesukses No-Poo(ers) lain.

Minggu berikutnya rambut saya banyak yang berguguran, sempat sedikit khawatir jangan-jangan rambut saya malnutrisi, atau metode ini hanya cocok untuk perempuan karena testimoni di blog atau YouTube lebih banyak perempuan, sementara para pelaku pria cuma pasang foto doang tanpa penjelasan, namun setelah diselidik lebih lanjut, berbagai sumber menyebut hal tersebut adalah lumrah karena bagian dari detoksifikasi seperti halnya saat kulit kepala memproduksi minyak secara berlebih atau ketombe untuk mengeluarkan sisa residu dan penyesuaian.

Hari keempat belas saya kembali melakukan operasi bersih. Kali ini saya tekan porsi baking soda menjadi kurang dari satu sendok teh dan dicampur air setengah botol kemasan 400ml (ceritanya kurang lebih 200ml-an), kocok sampai larut lalu kucrut-kucrut pada rambut seperti bershampo reguler. Oh iya, ternyata baking soda dipergunakan hanya untuk kulit kepala bukan rambut, jadi tidak saya pake buat unyek-unyek seperti di minggu pertama, disusul campuran jeniper dan air dengan volume sama seperti baking soda yang khusus untuk pelembut batang rambut (ealah sama ribetnya kayak shampo-an). Lalu tadaaa…. kali ini sukses. Rambut saya mencapai proporsi seperti yang diinginkan. Tak lagi jigrak macam rambut troll. Ini yang saya cari-cari.

Hal serupa saya lakukan di minggu ketiga dan selanjutnya dan selanjutnya dan selanjutnya hingga tanpa terasa bukan hanya enam pekan, tapi tiga bulan sudah rambut saya bebas produk kimia kecuali Natrium Bikarbonat (bahan pembentuk baking soda, itu pun hanya satu kali dalam sepekan), dan tanggal 1 april 2015 saya anggap genap seratus hari. Selama itu pula banyak eksperimen yang patut jadi catatan, terutama untuk saya pribadi, diantaranya:

1. Minyak zaitun. Jangan pernah mengaplikasikan minyak zaitun, terutama Extra Virgin Olive Oil, baik kondisi dingin atau hangat seperti yang dimuat di banyak laman tips, apalagi sampai dibawa tidur, karena tidak terserap, membuat rambut lengket, menggumpal, bau tengik, dan susah dibersihkan (saya bahkan harus dua sampai tiga kali pakai baking soda karena sudah kadung berpantang shampo berdetergen yang barangkali bisa lebih efektif menghilangkan minyak). Olive oil cukuplah dijadikan teman salad atau diminum langsung.

2. Madu. Saya juga pernah coba tips penyubur rambut alami dari campuran madu murni, bubuk kayu manis dan minyak zaitun. Atau kondisioner alami dari madu yang dicampur air hangat. Itu juga TIDAK COCOK. Yang pertama meski tidak menyertakan zaitun, atau yang kedua meski airnya banyak, tetap berefek sama; lengket, kaku, kesat dan kasar meski dibilas berkali-kali. Tidak pernah saya coba lagi. Barangkali hal ini berefek bagus untuk sebagian orang, tapi tidak untuk saya. Alih-alih mau eco friendly yang ada malah menghamburkan air, kecuali….

3. Telur. Madu baru cocok dicampur kuning telur. Jika dulu ada iklan shampo campuran telur dan madu itu memang asli ada manfaatnya (tapi yang dibuat secara alami), madunya pun tak bisa banyak, paling mentok setengah sampai satu sendok teh, tambah sedikit kayu manis bubuk untuk menghilangkan bau amis, usapkan pada rambut mulai dari akar sampai ujung, pijat pelan, biarkan sekitar 15 menit, lalu bilas hingga bersih, maka akan di dapat rambut yang mengembang, tampak tebal, juga halus dan bertahan hingga tiga hari tanpa dicuci. Yang ini jangan terlalu sering, cukup satu bulan sekali. Alhasil saya baru pakai tiga butir dari seratus hari No-Poo. CATATAN LAGI: meski wangi, ternyata bubuk kayu manis tak serta merta menetralisir aroma telur, hal ini yang kemudian memicu perdebatan sengit dengan sahabat saya. Telur akan hilang amisnya saat dicampur….

4. Alpukat. Sejak No-Poo saya kerap menyisihkan sedikit buah-buahan yang biasa dikonsumsi. Alpukat paling ampuh sebagai penetralisir telur atau pun di pakai tunggal. Rambut jadi tampak lebih kemilau dan halus. Tak kalah lah oleh shampo regular. Sayang, alpukat sifatnya musiman dan susah sekali cari yang matang langsung.

5. Kulit semangka. Yang ini baru favorit saya, kulit semangka bagian dalam (yang putih) disodet pakai kuku agar airnya bisa keluar, tak usah di cuci, bekas jigong sendiri ini, gosok-gosok pelan pada kulit kepala seperti biasa yang dilakukan jika memakai daun lidah buaya. Kulit semangka kerap disebut sebagai salah satu penyubur rambut. Hingga kini saya belum merasakan efeknya, tapi tak apa juga toh bukan sesuatu yang merugikan heheheheh.

6. Pisang, strawberry, dan berbagai buah yang tak bikin lengket macam rambutan, klengkeng atau nangka, plus air teh basi, daun lidah buaya, serta air beras adalah berbagai bahan yang saya pakai sebagai pengganti shampo. Tak perlu hasil import, yang biasa ada di pasar atau pinggir jalan juga sama baiknya. Tak ada anggaran khusus karena hampir semua buah saya makan dan hanya (sekali lagi) sisihkan sedikit untuk menutrisi rambut, kecuali lidah buaya yang tidak saya konsumsi sama sekali. Pun air beras, daripada terbuang percuma mending dipakai keramas, bukan? Yang belum tercapai hanya urang-aring karena susah carinya.

Hasilnya minyak di kulit kepala dan rambut saya berkurang drastis. Jika sebelumnya keramas pagi, sorenya sudah lepek dan menggumpal, sekarang baru kelihatan di hari ketiga atau empat, itu pun tak seberapa. Demikian juga dengan rontok, berangsur tak lagi berguguran. Memang rambut tak lantas jadi lebat seperti Jon Bon Jovi atau young Zac Efron dan tidak lagi selicin seperti saat bershampo, tapi saya happy karena bisa mengatasi masalah rambut tanpa harus keluar banyak biaya dan bebas dari rutinitas keramas dengan shampo tiap pagi. Selama 100 hari berjalan, saya juga terus mereduksi jumlah baking soda menjadi sepertiga sendok teh saja sebab banyak No-Poo(ers) juga tak lagi tergantung padanya. Kalau pun memakai, frekuensinya dua minggu atau satu bulan sekali. Satu lagi, rambut saya jadi agak lama panjangnya. Dulu, hampir tiap bulan harus potong rambut, sekarang (dari tiga bulan No-Poo) saya baru potong rambut dua kali, lumayan, padi organik saja baru panen setelah enam bulan, sementara padi berpupuk sintetis nyaris hanya memakan waktu setengahnya. Saya anggap saja hal serupa berlaku bagi rambut.

Apakah saya akan melanjutkan gerakan ini untuk menyusul pola makan vegetarian? Sampai tanggal 1 april itu yang terpikir, hingga kemarin lusa saya dihadapkan pada sebuah godaan besar. Apa itu? Tunggu di posting selanjutnya πŸ™‚

====================================
CATATAN PENTING:
* Postingan ini tak dimaksudkan sebagai kampanye anti shampoo karena banyak juga sahabat saya yang bershampo kondisi rambutnya baik-baik saja, makin bagus malah.

* Selama No-Poo saya tidak banyak melakukan aktifitas di bawah sinar matahari langsung, tidak memakai helm karena menggunakan moda transportasi umum, dan tidak melakukan olahraga yang terlampau menguras keringat, paling jalan atau lari kecil 30 menit-an. Jadi, pada intinya, metode dan hasil No-Poo sendiri harus disesuaikan dan tergantung kegiatan masing-masing individu.

Iklan

3 pemikiran pada “No Poo

  1. ehm, ini yg lagi no poo cwe atau cwo coz yg ribet perawatan kek gini biasanya cwe tp katanya cwo ya… btw, urang aring itu macam rumput liar coba deh kamu browsing gambarnya biasanya tumbuh di pinggir got. Awalnya aku juga kaget karena urang aring yang konon bisa menghitamkan rambut itu tumbuh liar di sepanjang jalan di depan rumah, samping rumah, depan rumah tetangga, dimana-mana deh pokoknya πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s