Review Rainforest Volume Shampoo – The Body Shop

image

Bukannya centil. Kali ini saya akan membahas salah satu produk haircare keluaran The Body Shop yakni shampo Rainforest Volume, “hadiah” dari sahabat saya A.I, karena sewaktu saya nebeng mobilnya, berbarengan dengan ‘jadwal’ penggunaan telur untuk rambut. A.I yang tak suka bau amis telur menguar di kendaraan kebanggannya itu mengkritik agar saya kembali menggunakan shampo yang dibalas asal bahwa saya hanya akan bershampo oleh produk body shop, namun karena harganya yang tak bersahabat saya tak mungkin menyengajakan diri untuk membeli, kecuali ada yang memberi. Saya lupa, manusia ini gemar menguji pernyataan orang. Dan beberapa hari kemudian ujian itu ia serahkan.

Hmmm, agak dilematis. Satu sisi saya merasa sayang pada pencapaian seratus hari No Poo, namun di sisi lain saya juga tergoda oleh si botol merah yang harganya bikin seret kantong tersebut. Diterima saya serasa berkhianat, tidak diterima saya berasa ingkar ucapan dan tidak mensyukuri rizki. Alhasil, hampir sepekan botol ini hanya jadi pajangan, beriring pertanyaan dari si A.I yang terus memberondong tiap pagi, adakah saya telah memenuhi ucapan untuk kembali bershampo. Tapi yaaa, namanya juga manusia, setiap tindakan pasti dicari jastifikasinya, pun demikian dengan saya. Tak apalah, no poo kan tidak sama dengan vegetarian. Kapan lagi pake shampo mahal? Biasanya juga pake yang sebotol limabelas ribuan, ini harganya sepuluh kali lipat dari itu. Shampo ini bebas sulfat dan silikon, jadi gak bakal bikin rambut bermasalah kayak shampo lain. Cobalah. Gunakanlah. Cium aromanya yang manis smiriwing. Bla….bla….bla….

image

Lalu seperti Adam yang memetik buah terlarang, saya buka, tuang, dan pakai Rainforest Volume pada saat mandi suatu pagi. Dan A.I, si ular, bersorak senang. Sebelum saya ceritakan hasilnya, saya bahas sedikit tentang produk yang satu ini.

Seperti yang terbaca pada kemasan dan diketahui bersama, shampo ini menyebut produknya No Silicones, No Sulphates, No Colourants, No Parabens ditambah lidah buaya organik dari Guatemala dan madu dari Ethiopia sebagai pelengkap bahan. Menggiurkan ya, kesannya gimana gitu hehehe. Belum lagi Pracaxi Oil dan  Guarana Seed yang setelah dicari ternyata:

1. Pracaxi Oil, sejenis minyak yang berasal dari Amazonia, mengandung bahan pelunak dan antioksidan yang mampu memberikan kekuatan tambahan pada rambut, membuatnya berkilau dan ternutrisi.

2. Guarana Seed, tanaman yang tumbuh di pedalaman hutan hujan Amazon, Amerika Selatan. Mayoritas tanaman ini tumbuh di daerah Brazil Utara, dan biasa dimanfaatkan bijinya oleh penduduk asli sebagai salah satu sumber tanaman herbal. Guarana seed atau biji guarana mengandung kafein yang berfungsi untuk menstimulasi sistem syaraf pusat dan mempercepat metabolisme tubuh. Agak aneh ya, kenapa bahan ini dipakai buat rambut? Bentuk bunganya jadi ilustrasi kemasan (yang warna merah)

3. Aloe Vera, alias lidah buaya berfungsi menghaluskan dan melembabkan rambut, menghilangkan ketombe dan mencegah kebotakan.

Saat dituang, shampo ini begitu encer, bening agak kekuningan dengan tekstur sedikit berminyak. Soal aroma saya akui wangi, tapi tak seperti namanya, Rainforest tak berbau hutan hujan atau sesuatu yang berkaitan dengan tetumbuhan alami. Saya tidak tahu adakah di luar sana bunga, akar, daun atau apapun yang punya wangi seperti ini, tapi saat ini saya samakan saja dengan aroma permen, manis namun menyenangkan.

Saat di aplikasi, hanya berbusa sedikit dan sebentar (tentu saja demikian karena tak adanya SLS), agak kesat (karena tak ada silikon), dan tentu saja hal ini memudahkan pembilasan, apalagi bagi yang sok go green macam saya.

Barangkali hanya saya, selepas bershampo rambut jadi agak susah kering, terutama daerah sekitar akar, cenderung lembap. Dan, barangkali lagi, karena saya hanya memakai sekali dalam sepekan (khusus hari jumat), shampo ini kurang memberi efek volume. Semula saya pikir setelah keramas rambut saya akan mekar kayak kembang sepatu, bertekstur lembut karena berbahan organik, dan menolong dengan kamuflase ketebalan. Nyatanya biasa saja tuh. Alih-alih bervolume, rambut saya malah jadi agak keras, susah diatur dan gatal-gatal, lagi-lagi barangkali, karena rambut saya kaget lagi dikasih shampo. Entahlah. Sisi baiknya, selain wangi, shampo ini tak membuat rambut saya berminyak seperti shampo drugstore kebanyakan.

Karena sayang, saya mungkin akan tetap pakai shampo ini sampai habis (entah untuk berapa lama) daripada mubazir. Tapi saya juga tidak akan membeli pelengkap shampo ini sebagai upaya penanggulangan mengingat harganya yang ya gitu deh heheheheh.

+ Berbahan dasar alami, tanpa zat kimia
+ Harumnya menyenangkan
+ Eco friendly

– Tak memberi volume seperti yang di janjikan
– Bikin rambut unmanageable dan gatal
– Mahal (IDR 149.000 ukuran 250 ml)

Repurchase? Beli saja tidak apalagi beli ulang 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s