#DARKMIN 1 : MATA SANTI

Akhir agustus kemarin penerbit BENTANG mengadakan lomba menulis cerita singkat, DARKMIN alias Darklit Mini (tulisan maksimal berjumlag 300 kata), dimana setiap peserta yang berpartisipasi harus menuliskannya di rakcerita.com. Sayang, sepertinya saya tidak berjodoh karena setiap kali upload tidak pernah sukses, bahkan hingga minggu kedua.
Karena sayang, saya muat di sini tanpa mengedit sama sekali. Judulnya MATA SANTI

Santi menatap cermin dan melihat bagunan itu terpantul dari bola matanya.

Semula begitu samar, seperti tersaput kabut yang menyerbu dini hari, namun laksana kelambu yang tersibak, sesegala kemudian terlihat jelas oleh Santi. Sebuah rumah berdiri sendiri dengan warna-warna alami. Cat tembok kulit duku muda, kusen jendela kuning cempaka berkaca bening sejernih air telaga, pintu merah daging semangka, juga genteng magenta tua. Belum lagi jejer tanaman hias yang membentuk gradasi palet pastel membuatnya terlihat begitu nyaman, menggoda, laki-laki terutama, untuk singgah, entah secara sopan atau mengendap masuk diam-diam.

Sayang semua selalu berakhir sama.

Rumah tersebut tak seelok dan sepolos tampilan luarnya. Ia sesungguhnya bangunan renta yang menyimpan rahasia berdarah. Tak seorang pun yang masuk bisa keluar hidup-hidup. Mereka tak pernah tahu isi rumah hanya lubang besar menganga berkedalamam tak terkira berisi mahluk mengerikan yang senantiasa lapar dan menggunakan keindahan rumah sebagai perangkap mematikan. Hal yang terlambat disadari para pria malang.

Santi mengingat ihwal pertama kutukan rumah tua.

“Kubiarkan kecantikan dan kemudaan menyertaimu. Sepanjang dunia masih bernapas, selama itu pula kau akan mengarungi hidup. Tapi kau akan menjalaninya dalam kesendirian. Siapa pun yang mendekatkan hatinya padamu akan kau hisap darah dan hidupnya hingga tak ada yang tersisa dari mereka, sama seperti hatiku yang sepi saat ayahmu membunuh anakku.”

Santi mengerjap, kejadian berabad silam terpatri begitu segar. Sesegar ingatannya kala merasakan denyut jantung terakhir ia saat  si dukun perempuan menancapkan bilah bambu ke dadanya yang berbalut kain prada putri raja pada malam tragis dimana seharusnya menjadi malam puncak perayaan pernikahannya.

“Ayo Santi, tunggu apalagi, aku ingin menikmati malam terakhir tahun ini hanya berjalan berdua bersamamu. Kau harus lihat lampu-lampu, dan keriangan orang-orang, dan….”

Santi berbalik, tersenyum, menyambut uluran tangan si pria, menggenggam erat, menatap lekat pada mulut si pria yang terus mengoceh. Juga pada leher kokohnya.

“Ya, nikmatilah malam terakhirmu, kekasihku.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s