#DARKMIN 2 : DENTING TERAKHIR

Mengikuti posting sebelumnya, di minggu kedua tema DARKMIN adalah Lonceng Kematian yang lagi-lagi tidak berjodoh dengan saya. Kali ini judul tulisan saya DENTING TERAKHIR.

Di kegelapan pejam Een tahu bukan hanya Toha yang hadir disana.

Sepekan terbaring koma di bangsal kumuh rumah sakit tua pascajatuh akibat tekanan darah terlalu tinggi, Een hanya berteman tabung oksigen dan selang infus sebagai penyokong hidup.

Namun dalam kediaman raga, Een sesungguhnya tahu siapa saja yang datang dan apa saja kegiatan mereka. Dokter muda yang senantiasa enggan setiap kali memeriksa, para suster penggosip, petugas kebersihan yang selalu berdoa sejenak di setiap ranjang, juga Dayat dan Esih serta percakapan keduanya.

“Toha sudah di telepon, kang?”
“Sudah.”
“Terus bagaimana, apa dia bisa datang? Kasihan ceu Een.”
“Dia bilang akan pulang, tapi tiap ditanya kapan pastinya, telepon langsung ditutup.”
“Dasar anak durhaka! Ibunya hampir mati, tetap saja mengulur waktu.”

Dan kini, kala malam kian kelam, Toha yang masuk diam-diam telah berdiri disampingnya, memandang gundah, sekaligus menjaga jarak. Dibelakang si lelaki, Een menangkap sosok setipis membran sewujud jubah koyak melayang-layang.

“Apa kau datang untuk membawaku pulang.” Tanya Een pada si jubah.
“Ya, tepat pada waktu yang telah ditentukan.”
“Haruskah bersamaan dengan kedatangan putraku?”
“Ya.”
“Maukah kau menolong, membuatku terjaga barang sejenak, untuk mengucapkan salam perpisahan.”
“Tugasku hanya menjemputmu.”

Een mengindera tangan Toha yang gemetar mendekat, membelai rambut tipisnya, berbisik, “Maafkan aku Mak, aku tak mampu menutup biaya perawatanmu. Aku bahkan terlalu miskin untuk menghidupi diri sendiri.”

Lalu dengan hati-hati Toha mencabut selang udara, mengeluarkan helai saputangan, membekap saluran nafas Een sekuat tenaga.

“Haruskah aku mati melalui tangan anakku?”
“Dengan atau tanpa campur tangannya kau akan tetap ku jemput. Semua yang yang ia lakukan adalah pilihannya sendiri.”

Melihat tubuh ibunya berkelojot Toha makin kuat mendekap.

Sosok setipis membran turun perlahan. Sesuatu yang kurus serupa tangan meranggas terjulur, mendentangkan lonceng yang ia genggam.

“Jatah hidupmu di dunia fana telah berakhir, saatnya pulang wahai kau anak Adam.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s