Enema Kopi

Sejak tak sengaja baca kultwit lama Erikar Lebang di situs miliknya, lebih dari enam bulan silam, saya secara bertahap mulai menteraturkan enema kopi.

Sebetulnya istilah enema bukan hal asing bagi saya. Beberapa tahun silam, seorang teman bercerita ia sedang dalam proses detox dengan metode ini, namun saat itu ia melakukannya di sebuah klinik yang menyediakan terapi hydrocolon. Bukannya tak mau coba, tapi saat itu harga sekali datang bisa setengan bulan gaji dan ia pun harus datang rutin dalam rentang waktu tertentu. Lagian agak gimana gitu bagian belakang kita di njus orang lain, meski pun pakai selang kecil tapi tetap saja aduuuuuuuuuuuhhhhhhhh.

Nah, pascabaca keterangan mas Erikar, saya pun langsung mengusut apa manfaat dan bagaimana metode dari enema kopi yang bisa dilakukan sendiri di rumah dengan biaya yang jauh lebih hemat dibanding datang ke klinik. Namun saya tidak akan bahas hal tersebut [baca saja di link bawah], tapi lebih pada pengalaman berenema.

Meski berpola makan vegetarian yang berpatok pada foodcombining dan lancar ke belakang, tapi harus diakui saya kerap cheating. Sayur dan buah di perbanyak, namun jajan gorengan juga sering, belum lagi kopi yang dikonsumsi dengan cara seperti orang kebanyakan, dan saat kepepet makan mie instan [meski berlabel untuk vegan, tetap saja ‘mie instan’😄].

Terdorong keinginan bersih-bersih tubuh, saya meneguhkan hati mencoba metode ini [lebay banget bahasanya]. Jujur, pada saat perlengkapan telah tersedia, kopi organik dan enema cleansing kit, saya agak deg-degan, kembali terjebak nostalgia, eh termakan imajinasi, membayangkan bagian belakang di njus tadi 😁

Dengan persiapan berlebih: gelar karpet depan kamar mandi (ukuran kamar mandi saya terlampau imut soalnya), pasang list musik favorit, buku yang belum dibaca, dan tak ketinggalan kuota gadget, saya pun mulai ritual enema untuk kali pertama.

Hasilnya? 3 menit saja.

Setelah cairan masuk semua. Baru selesai satu lagu, belum sempat buka buku, apalagi berselancar ke dunia maya, saya langsung menerjang kamar mandi dan mencurahkan isi perut yang selama ini dijejali dosa lidah. Agak kupret memang karena tak kuat dari lima menit yang semula saya pikir waktu yang relatif singkat, namun di sisi lain, anehnya, ada juga sensasi plong di perut. Walau yang tumpah ruah sebanyak diare, namun rasanya tak seperti tak seperti terserang sakit itu, lebih pada ringan yang menyenangkan.

Karena orang sehat hanya diperbolehkan berenema sekali sehari, saya tak bisa mencoba hal tersebut di hari yang sama. Besoknya, dengan persiapan yang lebih biasa dan tingkat rileks yang terkendali dan stabil, saya berhasil menambah durasi ketahanan hampir lima menit, dan sedikit demi sedikit, dalam rentang waktu satu bulan, bisa tahan sampai lima belas menit. Agak lamban sih dibanding teman-teman lain, tapi tak apalah.

Selama itu pula saya coba berbagai metode pertahanan dan lumayan berhasil. Pertama, jangan gantungkan kantong enema terlalu tinggi, cukup antara 50 centi sampai satu meter dengan posisi tubuh tak terlalu dekat, bagi saya, bisa mengurangi tekanan air yang masuk dan membuat perut lebih nyaman. Kedua, tak perlu memasukan air kopi dalam sekali dorong, bisa dibagi dua atau tiga kali, misalnya setelah setengan cairan masuk, jepit selang pakai klep, ambil napas ringan dan lambat sekitar sepuluh detik-an, baru lanjut kembali buka selang. Ketiga, mengubah posisi, meski yang disarankan tidur menyamping ke kanan dengan lutut ditekuk ke arah perut, namun bolehlah ambil variasi satu menit terlentang, satu menit ke kiri dan kembali ke kanan sebagai posisi utama. Keempat, jangan ambil napas terlampau dalam, bagi saya, ini justru mempercepat kontraksi. Kelima, sangat tidak di anjurkan mencoba variasi menahan sambil duduk, jongkok atau berdiri, bisa gawat, lebih baik langsung ke kamar mandi dan keluarkan.

Karena saya hanya punya dua pilihan waktu, sebelum berangkat dan pulang kerja, saya pilih yang pertama. Agak berat sih perjuangan nahan-nya dibanding saat saya coba sore-sore di akhir pekan. Mungkin karena pagi memang siklus pembuangan, dan ini bisa jadi alternatif waktu bagi anda yang mau coba, tapi bukan jaminan bisa langsung kuat, tergantung ketahanan dan banyaknya toxic di tubuh hehehe….

Yang patut diingat, enema bukan senjata sakti, apalagi shortcut untuk membersihkan tubuh, namun hanya salah satu instrumen pendukung. Kuncinya tetap ada pada makanan, olahraga, dan istirahat. Idealnya enema dilakukan tiap hari, tapi karena saya tak mau hal tersebut jadi semacam excuse untuk makan sembarangan, saya hanya melakukannya dua kali seminggu sambil tetap menjaga asupan dan mengurangi kecurangan makan. Yaaaa… yang tadinya seminggu bisa dua sampai tiga kali, kini dibalik jadi dua sampai tiga minggu sekali menikmati apa-apa yang enak tapi kurang sehatnya. Percaya deh, jika sudah sampai taraf ini makan satu donat atau dua potong martabak rasanya bisa selangit dibanding saat makan tiap hari. Demikian, semoga bermanfaat 😉

==============================
Artikel tentang apa dan bagaimana enema kopi silakan cek di sini, sini, sini, dan sini.
Artikel tentang kontra enema silakan cek di sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s