Review Buku INTELIGENSI EMBUN PAGI

image

Lima belas tahun mengikuti perjalanan seri Supernova, jujur saya katakan pada finale buku ini: agak kecewa.

Menjadi pembaca seri 1, Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh, kala jadi mahasiwa baru, saya terperangah pada kemampuan Dee yang menggebrak dunia sastra Indonesia populer saat itu. Bagaimana tidak, filsafat, sastra, dan science di pintal dengan jalinan indah, memikat, dan pengikat benak pembaca dengan erat hingga banyak penulis pemula yang berkiblat pada gayanya, baik tema atau pun pemilihan kata. Bahkan tak sedikit pula yang kemudian terobsesi menjadi cyber avatar macam si supernova.

Seri 2, AKAR, adalah favorit saya, perjalanan Bodhi secara petualangan fisik dan spiritual begitu menempel dan, paling tidak di lingkungan saya saat umur segitu, banyak yang terobsesi jadi backpacker dan berharap bisa menjalani apa yang Bodhi jalani. Saya pun jatuh hati pada karakter-karakter yang dilahirkan Dee: Bong, Kell, Guru Liong, Epona, bahkan Ishtar yang semula saya kira Diva dalam nama lain, dan tentu Bodhi sendiri. Di sini pula saya berharap pada Dee, kala di sampul belakang seri ini terulis bahwa AKAR yang spektakuler adalah bagian dari Inteligensi Embun Pagi. Menilik judul tersebut saya mengira ini akan jadi bagian kontemplasi dalam, damai, dan hening yang mampu menginfeksi pembaca (saya khususnya) memandang lebih jelas arti hidup secara spiritual.

image

Seri 3, PETIR, saya terkejut kala Supernova hadir dengan selera humor yang saat pertama baca membuat saya terpingkal sekaligus salut pada Dee yang mengkritik dengan banal umat agama mapan baik dari sudut Elektra atau pun Watti, kakaknya. Hebatnya Dee di sini, mengutip ucapan sahabat saya, “Dia mampu membuat hal biasa menjadi luar biasa.” Yes, saya setuju hal itu, saya pun coba memahami bahwa di sini Dee hendak menunjukan bahwa Supernova tak melulu harus berisi tokoh-tokoh utama yang ‘wah’ macam Diva, Bodhi, Ferre, atau pun Rana.

Setelah itu Supernova vakum, diisi oleh Filosofi Kopi, Perahu Kertas, dan Rectoverso.

Delapan tahun setelah Petir, hadir seri 4, PARTIKEL. Saat mengetahui seri ini hendak rilis saya sudah berekspektasi, agak lebay sebetulnya tentang apa yang diusung Dee pasca delapan tahun. Adakah tentang loncatan kuantum, atau rahasia partikel baik biologikal atau pun digital yang berpadu filsafat dan perjalanan spiritual dan lagi-lagi bakal menginfeksi para pembaca lama dan barunya. Begitu di baca, tak lebih dari artikel National Geographic yang diolah jadi kisah fiksi. Saya suka pada issue kerusakan lingkungan, tapi apa yang disajikan Dee adalah hal yang tak aneh, penyelamatan satwa liar seperti orang utan telah banyak dibahas, bahkan di televisi nasional sejak jaman Angelina Sondahk masih jadi Putri Indonesia hingga Aurelien Francis Brule yang kisahnya jauh lebih heroik kerimbang Zarah. Dan omong-omong soal Zarah dan karakter lain di Partikel tak satu pun yang nyangkut di benak saja, untuk tokoh utamanya saya ambil perbandingan dari dua tokoh dalam film Crouching Tiger Hidden Dragon dan sekuelnya Sword Of Destiny. Diva dan Elektra saya gambarkan karakternya sekuat Yu Shu Lien dan Jen Yu (Jaio Long), sementara Zarah adalah Snow Vase di Sword Of Destiny yang karakternya tak lebih dari bad ass yang ngajago, belum lagi bumbu asmara yang jika dalam KPBJ Dee mampu membuat hal standar dan menyek-menyek jadi begitu artistik dan menggelitik dengan menyulamnya bersama teori psikologi, di Partikel kisahnya hanya sekelas kehidupan Bella Swan di seri Twilight.

Seri 5, GELOMBANG, pemberian dari sahabat saya, di skip, karena jujur terlalu garing dan bertele-tele. Saya menyerah kala si Gelombang masih bernama Thomas Alfa Edison a.k.a Icon dan belum jadi Alfa Sagala sang pembuat asko.

lalu sampailah pada Inteligensi Embun Pagi yang tiga belas tahun lampau saya ekspektasi menjadi mahakarya penuh kontemplasi dari masing-masing tokoh: Bodhi, Elektra, Zarah, dan Alfa yang namanya telah diperkenalkan sejak seri 2 keluar dan (kiranya) bakal berinduk pada KPBJ sebagai awal dan akhir, tapi yang hadir dan ditonjolkan dalam IEP adalah dongeng petualangan yang terlampau menor, hingga esensinya nyaris tertutup, ditambah istilah tingkat dewa yang membuat IEP tampak seperti film2 epik masa kini yang overload oleh efek CGI atau apapun namanya itu, yang sekedar memanjakan mata namun justru menghalangi otak untuk mencerna, memilih, dan memilah inti. Hal itu pula yang terjadi pada Inteligensi Embun Pagi di mata saya. Kalau boleh membandingkan dengan film mainstream dan sedikit berburuk sangka, saya menyebut Dee ingin membuat karya seepik trilogi The Matrix berpadu kerumitan dan kecerkasan Inception, namun yang tersaji adalah Batman vs Superman. Memang epik memang menarik, namun agak susah menangkap esensi karena visual efeknya terlampau canggih. Sementara plot dan karakter, jika saya asumsikan sebagai jaring laba-laba, maka ini adalah jaring laba-laba yang membentang besar tapi sekaligus kendor. Semua karakter utama, kecuali Rana, hadir di buku ini, tapi ibarat sekuel film-film Hollywood, banyak tokoh yang loveable malah hadir sebagai pemanis dan pengobat rindu (Diva, Ferre, Dimas, Ruben dll) dan tak lagi dapat porsi, senasib dengan Tigris dkk di Kung fu Panda 3. Well, saya sebetulnya dapat paham jika semua tokoh harus dapat porsi sama besar maka buku ini bakal seukuran buku Naga Bumi: Jurus Tanpa Bentuk-nya Seno Gumira Ajidarma yang tebalnya bikin pengen nangis, apalagi ukuran font-nya. Saya juga dapat paham menjaga atau pun me-recall mood masing-masing tokoh yang sebegitu banyak dan dalam rentang waktu amat panjang susahnya minta ampun, namun bukan tak mungkin sebab J. K Rowling mampu melakukannya pada seri Harry Potter, meski ini juga kurang adil, karena tokoh sentral seri tersebut hanya tiga orang dari awal sampai akhir.  Namun bagaimana Rowling memberi sentuhan pada karakter sampingan atau dikecilkan hingga pembaca tetap mereka eksis, itu yang tidak dilakukan Dee.

image

Well, jika harus memberi bintang pada buku ini pada skala 1 sampai 5, saya beri satu saja⭐

Iklan

5 pemikiran pada “Review Buku INTELIGENSI EMBUN PAGI

  1. Buat saya yang membingungkan adalah setting waktunya. Kalau menilik skema besarnya ini terjadi antara tahun 2001 sampai 2003, tapi yang terasa di IEP tahun 2015.

  2. menurut gue Inteligensi Embun Pagi beneran epik, jarang ada penulis Indonesia macam mba Dee. Yang menarik dari ulasan ini adalah komparasi dengan The Matrix dan Inception heheheh…..

  3. Meski belum baca semua,,jujur saya jg cukup penasaran sama serial supernova ini..
    Terakhir baca yg seri ke 3 PETIR itu,lmyn bikin nyengir,terutama soal ciloknya yg saya demen banget semenjak dr SD sampe sekarang..
    Baca reviewnya seperti ini sbnrnya bikin mood baca saya bkurang,,tp kmrn liat di toped ada yg dijual paketan bundling rasanya lumayanlah buat obat penasaran 😀

    1. Mungkin karena serial supernova pada akhirnya tidak sesuai ekspektasi saya Zie hehehehe…. banyak yang bilang keren juga sih, tapi jujur bagi saya ke-keren-an supernova memang berakhir di Petir, karena Partikel, Gelombang, dan IEP agak memble. Baca saja lah, banyak pengetahuan baru kok…. 😊😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s