Review Buku INTELIGENSI EMBUN PAGI

image

Lima belas tahun mengikuti perjalanan seri Supernova, jujur saya katakan pada finale buku ini: agak kecewa.

Menjadi pembaca seri 1, Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh, kala jadi mahasiwa baru, saya terperangah pada kemampuan Dee yang menggebrak dunia sastra Indonesia populer saat itu. Bagaimana tidak, filsafat, sastra, dan science di pintal dengan jalinan indah, memikat, dan pengikat benak pembaca dengan erat hingga banyak penulis pemula yang berkiblat pada gayanya, baik tema atau pun pemilihan kata. Bahkan tak sedikit pula yang kemudian terobsesi menjadi cyber avatar macam si supernova.

Seri 2, AKAR, adalah favorit saya, perjalanan Bodhi secara petualangan fisik dan spiritual begitu menempel dan, paling tidak di lingkungan saya saat umur segitu, banyak yang terobsesi jadi backpacker dan berharap bisa menjalani apa yang Bodhi jalani. Saya pun jatuh hati pada karakter-karakter yang dilahirkan Dee: Bong, Kell, Guru Liong, Epona, bahkan Ishtar yang semula saya kira Diva dalam nama lain, dan tentu Bodhi sendiri. Di sini pula saya berharap pada Dee, kala di sampul belakang seri ini terulis bahwa AKAR yang spektakuler adalah bagian dari Inteligensi Embun Pagi. Menilik judul tersebut saya mengira ini akan jadi bagian kontemplasi dalam, damai, dan hening yang mampu menginfeksi pembaca (saya khususnya) memandang lebih jelas arti hidup secara spiritual. Continue reading “Review Buku INTELIGENSI EMBUN PAGI”

Iklan

Review Buku: Coming Out – Hendri Yulius

image

Apa yang terpikir saat membaca atau mendengar tentang LGBTIQ – Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Interseksual, Queer? Sekumpulan orang-orang kenes? Lelaki kemayu? Perempuan tomboy? Penyuka pesta? Sex oriented? Pelaku kejahatan? Sakit jiwa? Perilaku menyimpang yang menular? Mengapa mereka banyak menyukai diva-diva, dan haruskah selalu seperti itu? Benarkah gay atau lesbian adalah gender ketiga seperti yang kerap diucapkan berbagai pihak? Benarkah para lelaki gay adalah “pemangsa” para straight? Bisakah mereka berteman dengan para lelaki heteroseksual tanpa perlu di curigai punya ‘niatan’ berbau seksual? Benarkah setiap pria gay selalu terasosiasi dengan kegiatan anal sex? Apakah sex action selalu identik dengan sex orientation? Bagaimana para LGBTIQ menghadapi diskriminasi? Benarkah dunia gay terbatas pada hal-hal berbau perempuan karena mereka penyuka sesama lelaki maka otomatis diasosiasikan bersifat perempuan, pun sebaliknya? Apakah kelelakian seseorang ditentukan oleh tampilan? Lantas bagaimana dengan tren flower boys seperti yang banyak diusung budaya pop asia timur belakangan ini? Dilema apa yang kerap membenturkan mereka dengan keluarga, lingkungan, atau budaya? Hendri Yulius membahas lengkap..kap..kap dalam buku non fiksi terbarunya yang berjudul Coming Out. Continue reading “Review Buku: Coming Out – Hendri Yulius”

Review Buku KEEP CALM AND BE FABULOUS (KCABF)

image

LGBTIQ adalah judul semula dari buku terbitan Elex Media Computindo ini, bukan karena isinya memang mengangkat tema LGBTIQ secara umum, tapi lebih luas lagi dipintalkan oleh para penulis dalam buku ini dengan berbagai issue global setiap manusia, LOVE – GIFTED – BRAVERY – TRUST – IMAGINATION – QUEST. Namun karena keberatan berlebih dari salah satu pihak yang menilai kata tersebut sebagai salah satu bentuk provokasi, bukan hanya judul saja yang harus dirubah, tapi juga penundaan rilis hingga waktu yang tidak ditentukan. Syukurnya, februari 2105 buku ini rilis dengan pergantian rupa dan judul utama menjadi Keep Calm And Be Fabulous (KCABF). Continue reading “Review Buku KEEP CALM AND BE FABULOUS (KCABF)”

Bacalah Iklan

image

Awalnya kau tak tahu. Lalu muncullah ia. Sebuah benda, jasa. Sekalimat singkat. Seraut wajah, banyak wajah. Memberi sugesti. Ikon, mimpi, tanda, warna-warna, kilatan kata-kata. Imaji-imaji sempurna. Berbisik, menggoda, menawan mata dan telinga.

Awalnya kau tak tahu. Lalu melihatnya suatu waktu. Kau lalu tahu ia ada. kau melihatnya dua kali, berkali-kali, dimana-mana. Ia membuatmu menginginkannya. Membutuhkannya. Tak bisa hidup tanpanya. Lalu kau pergi membelinya. Sesaat merasa terpenuhi, sesaat dirimu lebih. Jika kau lupa, kau akan dingatkan lagi dan lagi, bahwa ia masih di sana, ingatanmu segar kembali, dan kau membelinya lagi. Dan lagi. (pakailah, makanlah, tambah, habiskanlah, datanglah, aku begitu mudah, kuraslah sakumu untukku, aku lebih aman, lebih nyaman, lebih cepat, konsumsilah, lipatgandakanlah, satu lagi, aku mimpimu, kenakan aku,  kendarai aku, datangi aku, kerennya dikau, lebih mudah, hidupmu indah, perbanyak aku, model terbaru, bonus ini gratis itu, lebih canggih, tambah kecepatanmu, inginkan aku, hidupmu akan lebih indah, lebih, butuhkan aku, miliki aku…)

Awalnya kau tak tahu. Lalu ia mengubah ketaktahuanmu jadi pengetahuan. Menyihir pengetahuan jadi keinginan. Dari keinginan jadi kebutuhan, tak terelakan. Iklan itu seperti setan. (Cala Ibi – 145)

Interview with Hendri Yulius

Hendri Yulius Cover

Di bulan Nopember kemarin saya mereview sebuah buku kece, Lilith’s Bible, karya Hendri Yulius. Desember ini saya berkesempatan untuk berbincang dengannya seputar proses kreatif buku tersebut. Dan, (saya tidak suka kata ini, namun terjadi entah untuk tujuan apa) ‘kebetulan‘ berbarengan dengan tema bulan ini tentang LGBT dimana ia juga turut menjadi salah seorang pegiatnya, maka ada juga bahasan tentang hal tersebut. Penasaran? Langsung saja simak wawancara Crimson Strawberry dengan Hendri Yulius yang dilakukan via surel.

Apa yang ingin disuarakan dalam buku Lilith’s Bible?

Sebenarnya, saya mulai menulis Lilith’s Bible saat saya masih duduk di bangku kuliah, kira-kira umur 19 tahun. Pada saat itu, saya sedang getol-getolnya mendalami teori gender, feminisme, dan seksualitas. Karena itulah, saya terdorong untuk coba menulis buku tentang ini, terutama fiksi, karena bagi saya, fiksi terkadang bisa menjadi medium yang lebih jujur untuk menceritakan sesuatu ketimbang non-fiksi. Apa yang ingin disuarakan dalam buku Lilith’s Bible adalah tentang perempuan dan mitos-mitos yang menyelimutinya, seperti mitos keperawanan, kesucian perempuan, dan lain-lain yang menciptakan ketimpangan dan ketidakadilan. Pada saat yang sama, saya menemukan bahwa cerita horor nusantara selalu memiliki karakter hantu perempuan yang mengerikan. Di televisi dan film pun, saya selalu melihat hantu perempuan selalu lebih populer dan menyeramkan ketimbang hantu lelaki. Ada apa ini? Lantas, saya kepikiran, kenapa nggak saya coba menulis dari sudut pandang hantu perempuan ini?

Kenapa penting untuk disuarakan?

Penting karena selama ini, isu-isu semacam ini, seperti perkosaan, sunat perempuan, seksualitas, juga mitos keperawanan seringkali dianggap tabu dan tidak pantas dibicarakan. Bagi saya, isu yang terkait dengan tubuh dan seks adalah isu yang politis. Dalam artian, isu ini menjadi bagian dari identitas diri kita sendiri, terutama dalam hal ini perempuan. Bagaimana kita bisa memaknai diri kita sendiri, bila kita tak paham dengan tubuh dan seksualitas kita sendiri? Bagaimana kita bisa memahami diri kita sendiri, bila bicara seks saja ditabukan? Padahal, sejak kecil, kita sudah berurusan dengan gender dan seksualitas, mulai bagaimana kita dibedakan sesuai dengan alat kelamin, juga bagaimana kita dididik dalam aturan-aturan dan norma, seperti warna baju yang harus dikenakan (biru untuk lelaki, pink untuk perempuan), gaya bertingkah laku (perempuan harus lembut, sementara lelaki dituntut lebih macho) dan lain-lain.

Dalam proses pembuatan, buku ini memakan waktu hingga 4 tahun untuk rampung, apa yang menyebabkan hingga selama itu?

Yang membuat proses ini makan waktu selama itu adalah Continue reading “Interview with Hendri Yulius”

Lilith’s Bible

wpid-Liliths-Bible-Ilustrasi.jpg

Horror adalah tema yang selalu menarik bagi saya untuk dibaca dan ditulis. Dari sisi pembaca saya tak selalu berharap isinya harus melulu soal hantu. Kekerasan atau penindasan yang menimpa atau dilakukan oleh pihak-pihak yang sering termajinalkan, dibangun oleh nuansa suram, remang, atau kelam, dan hasrat yang mengendap-endap namun menggelegak dalam bingkai horror yang menterror dan diramu dengan apik bisa saya gila-gilai, bahkan dibaca berulang kali dari waktu ke waktu. Sayang jarang ada penulis Indonesia yang secara khusus mengemasnya dalam satu buku (atau barangkali saya-nya yang terlampau kuper ya hehehe..). Continue reading “Lilith’s Bible”

Let The Right One In

wpid-Let-The-Right-One-In-Minimalist.jpg

Untuk membangun nuansa horror tak melulu harus dihadirkan lewat media audio visual seperti tayangan sinema, buku pun bisa menghadirkan ketegangan tersendiri bagi yang membacanya. Kali ini Crimson Strawberry akan mereview buku Let The Right One In yang telah dibuat versi layar lebarnya dua kali. Pertama tahun 2008 dengan judul yang sama, dibintangi oleh Lina Leandersson dan Kare Hedebrant. Sementara yang kedua tahun 2010, dengan sedikit perubahan judul menjadi Let Me In, disutradari Matt Reeves (Cloverfield – 2008), film ini diperankan oleh antara lain Chloe Grace Mortez, Kodi Smith-McPee, dan Richard Jenkins.
Continue reading “Let The Right One In”