#DARKMIN 2 : DENTING TERAKHIR

Mengikuti posting sebelumnya, di minggu kedua tema DARKMIN adalah Lonceng Kematian yang lagi-lagi tidak berjodoh dengan saya. Kali ini judul tulisan saya DENTING TERAKHIR. Continue reading “#DARKMIN 2 : DENTING TERAKHIR”

Iklan

Dear Diary

sebab sejarah ditulis oleh mereka yang berkuasa

Diary,
Hari ini ayah menikahi perempuan itu. Janda beranak dua itu. Ibu dari gadis-gadis cantik yang tetangga sebut begitu terpelajar namun punya kerendahan hati mengagumkan. Dalam pesta perayaan keduanya hadir serupa bulan kembar di gelap malam, sementara aku bintang, satu diantara sekian hamparan. Biasa. Tak terperhatikan. Para saudagar dan putra-putra mereka mencuri lirik dengan sering. Dan kau tahu Diary? Mereka terlihat begitu menikmati, namun bertindak seolah tak tahu apa yang tengah terjadi. Cih! Lihat saja, Diary, lihat saja. Suatu hari aku yang akan mendapat tatap tersebut. Tatap sepasang mata yang melebihi seluruh pasang mata pria di antero negeri ini.

Diary,
Betapa memuakan! Ketiga jalang itu mulai menginvasi rumahku dan mencuri perhatian ayahku. Milik-milikku! Dimulai beberapa hari lalu, saat kami sarapan bersama, ketiganya berakting seolah sungkan duduk bersama. Oh..oh… formula standar dari para tiri. Dan ayahku yang baik hati, yang tidak tega melihat orang menderita tentu saja berusaha menyenangkan mereka dan berkata bahwa semua adalah keluarga yang tak mengenal beda-beda. Lalu ia memintaku berbagi gaun untuk kedua putri barunya. Akurlah dengan mereka, pinta ia. Enak saja! Aku tak kan sudi melakukannya. Tentu aku akan memberi mereka beberapa, tapi yang bekas. Sebab begitulah mereka, bekas! Sisa! Ibu tiriku bekas lelaki lain yang membawa jejaknya dalam dua anak menyebalkan itu! Mereka yang sok meyapa! Mereka yang sok bertanya. Aku tahu niat dibalik semua. Mereka ingin mengubah kasta, mengubur aib dalam bentuk keluarga baru. Dasar loyang! Mereka pikir akan mudah naik kelas menjadi emas di rumah ini setelah bersikap, SEOLAH, baik padaku? Jangan harap! Kau tahu Diary, orang-orang sial itu bergeming dalam kemanisan dan keluguan ala cendikia tiap kali kujawab ketus setiap kata mereka. Seumpama kuabaikan keberadaan ketiganya, kuanggap mereka tak pernah ada, apakah mereka sanggup menghadapinya? Kita lihat.

Diary,
Oh Diaryku, ternyata aku salah langkah. Startegi ekskomunikasi adalah bumerang. Kemarin malam ayah mendatangiku, bertanya, bagiku terasa sebagai teguran kasar, mengapa istri dan anak-anak barunya seolah makin kikuk dan takut untuk melakukan hal-hal rumah tangga. Sebelum kujawab bahwa aku tidak tahu apa-apa bahkan tidak pernah bertukar kata dengan mereka, ayah mendahuluiku, bahwa ketiganya sepakat berpendapat merasa lebih seperti pembantu rumah tangga yang bermajikan nona bisu. Lalu ia menasihatiku panjang lebar yang intinya aku harus mulai bisa menerima mereka sebab ia menyayangi dan menerima ketiganya. Sungguh menyakitkan, Diary. Continue reading “Dear Diary”

Balada Hari Hujan

UNTUK DIPERHATIKAN : Cerpen Balada Hari Hujan karya Linda Christanty hadir dalam buku kumpulan cerita pendek Kuda Terbang Maria Pinto (KATA KITA – 2004)
image

Ia menguncupkan payung ungunya, lalu mengibaskan ujung mantel yang basah. Butir-butir air meluncur dan meresap ke tanah. Dari balik pintu kaca yang mirip etalase toko itu ia leluasa melihat ke dalam ruangan. Hanya ada sepasang muda-mudi yang bercengkrama sambil asyik mengunyah makanan.

Hari masih terlalu pagi untuk orang-orang yang takut pada cuaca dingin bulan Juni. Kelopak-kelopak bakung di bawah jendela terlihat segar berair. Ia membayangkan teman-teman prianya masih meringkuk dalam pelukan istri atau pacar mereka seperti kucing demam. Ia mendorong pintu cepat-cepat. Tubuhnya makin menggigil oleh terpaan udara dari pendingin ruang. “Pelayan lupa menaikkan volume,” gerutunya, dalam hati. Jari-jari kakinya terasa mengeriput dalam stocking sutra setengah basah, menuju beku. Tapi, wangi kaldu ayam dalam adonan bubur membuat otot-otot lambungnya berdenyut keras dan tubuhnya yang menggigil itu mulai dialiri hawa panas. Ia biasa mampir ke kafe ini untuk sarapan dan minum susu cokelat. Inilah satu-satunya kafe yang buka di pagi hari di kotanya. Continue reading “Balada Hari Hujan”

Interview with Hendri Yulius

Hendri Yulius Cover

Di bulan Nopember kemarin saya mereview sebuah buku kece, Lilith’s Bible, karya Hendri Yulius. Desember ini saya berkesempatan untuk berbincang dengannya seputar proses kreatif buku tersebut. Dan, (saya tidak suka kata ini, namun terjadi entah untuk tujuan apa) ‘kebetulan‘ berbarengan dengan tema bulan ini tentang LGBT dimana ia juga turut menjadi salah seorang pegiatnya, maka ada juga bahasan tentang hal tersebut. Penasaran? Langsung saja simak wawancara Crimson Strawberry dengan Hendri Yulius yang dilakukan via surel.

Apa yang ingin disuarakan dalam buku Lilith’s Bible?

Sebenarnya, saya mulai menulis Lilith’s Bible saat saya masih duduk di bangku kuliah, kira-kira umur 19 tahun. Pada saat itu, saya sedang getol-getolnya mendalami teori gender, feminisme, dan seksualitas. Karena itulah, saya terdorong untuk coba menulis buku tentang ini, terutama fiksi, karena bagi saya, fiksi terkadang bisa menjadi medium yang lebih jujur untuk menceritakan sesuatu ketimbang non-fiksi. Apa yang ingin disuarakan dalam buku Lilith’s Bible adalah tentang perempuan dan mitos-mitos yang menyelimutinya, seperti mitos keperawanan, kesucian perempuan, dan lain-lain yang menciptakan ketimpangan dan ketidakadilan. Pada saat yang sama, saya menemukan bahwa cerita horor nusantara selalu memiliki karakter hantu perempuan yang mengerikan. Di televisi dan film pun, saya selalu melihat hantu perempuan selalu lebih populer dan menyeramkan ketimbang hantu lelaki. Ada apa ini? Lantas, saya kepikiran, kenapa nggak saya coba menulis dari sudut pandang hantu perempuan ini?

Kenapa penting untuk disuarakan?

Penting karena selama ini, isu-isu semacam ini, seperti perkosaan, sunat perempuan, seksualitas, juga mitos keperawanan seringkali dianggap tabu dan tidak pantas dibicarakan. Bagi saya, isu yang terkait dengan tubuh dan seks adalah isu yang politis. Dalam artian, isu ini menjadi bagian dari identitas diri kita sendiri, terutama dalam hal ini perempuan. Bagaimana kita bisa memaknai diri kita sendiri, bila kita tak paham dengan tubuh dan seksualitas kita sendiri? Bagaimana kita bisa memahami diri kita sendiri, bila bicara seks saja ditabukan? Padahal, sejak kecil, kita sudah berurusan dengan gender dan seksualitas, mulai bagaimana kita dibedakan sesuai dengan alat kelamin, juga bagaimana kita dididik dalam aturan-aturan dan norma, seperti warna baju yang harus dikenakan (biru untuk lelaki, pink untuk perempuan), gaya bertingkah laku (perempuan harus lembut, sementara lelaki dituntut lebih macho) dan lain-lain.

Dalam proses pembuatan, buku ini memakan waktu hingga 4 tahun untuk rampung, apa yang menyebabkan hingga selama itu?

Yang membuat proses ini makan waktu selama itu adalah Continue reading “Interview with Hendri Yulius”

Kau – Ia – Dia

Sambil menunggu program Mata Najwa, iseng-iseng membuat perspektif lain dari fragmen Menunggu yang diposting kemarin. Tak perlu dibandingkan dengan versi asli yang ditulis Avianti Armand, pasti bagusan punya dia beliau, 30 menit pula membuatnya. Lagi-lagi justifikasi 😀

wpid-Kau-Ia-Dia.jpg

Sudah lama kau tak menginjakkan kaki di tempat ini, café  yang mempertemukanmu dengan dua orang yang kau cinta, ia dan dia.

Langkahmu yang semula lambat kini dipercepat. Berlomba dengan bulir tetes hujan yang jatuh besar-besar. Seorang pelayan yang berdiri entah sejak kapan mengembangkan senyum ramah khas formalitas. Kau membalas dengan ekspresi sama sebelum berlalu menuju tangga ke arah lantai dua. Samar terdengar denting dari lonceng angin.

Kau bayangkan ia duduk disudut yang bukan spot kesukaan. Bukan karena posisinya tidak strategis, namun pada suatu waktu kau keceplosan bercerita bahwa diseberang meja kalian, kau bertemu dengan dia, istrimu, dulu. Ia seketika diam, menundukan pandangan. Kau berkata maaf. Ia tersenyum, tak berucap, namun matanya berkata banyak tentang sedih dan patahati. Setelahnya, entah mengapa ia selalu memilih tempat tersebut. Continue reading “Kau – Ia – Dia”

Menunggu

UNTUK DIPERHATIKAN : MENUNGGU merupakan bagian pertama dari enam fragmen yang terdapat dalam cerpen Tentang Tak Ada karya Avianti Armand yang dimuat di buku kumcer Kereta Tidur (GPU – 2011). Secara umum cerpen ini bercerita dari sudut pandang orang ketiga yang barangkali perempuan, namun jika ada yang mengira si karakter utama ini adalah seorang pria juga tidak salah bukan? Hehehehe…..   #justifikasi-karena-tidak-menemukan-cerpen-yang-sesuai harapan 😉

wpid-Menunggu-Avianti-Armand.jpg

Tak ada yang berubah dari café ini. gebyok kayu yang jadi aling-aling, tetap berada di situ. Seperti cadar pengantin yang malu-malu, lubang-lubang ukirannya mengizinkan mata mencuri intip ke ruang di baliknya. Cahaya merembes lewat celah di antara genteng tanah liat, menggambar lingkaran-lingkaran acak di lantai terakota. Angin mengisik. Bau debu mengambang samar di udara, bercampur dupa yang sengaja dibakar untuk menyamarkannya. Tak ada musik. Hanya lonceng yang sekali-kali mendenting.

Aku duduk di sudut. Hanya ada satu tamu lain, seorang perempuan yang duduk di meja dekat gentong besar. Di atas gentong itu tergantung sebuah potret hitam putih wanita berkebaya, dengan dua tangan rapi di pangkuan. Aneh. Keduanya punya ekspresi yang serupa. Gelisah, seperti orang yang kebelet pipis. Perempuan dalam foto, mungkin tak ingin difoto dan berharap sesi pemotretan cepat selesai. Perempuan di dekat gentong, mungkin tak ingin berada di sini, tapi aku tak bisa menebak apa yang dia harapkan. Perempuan dalam foto, dibekukan oleh waktu, Cuma bisa diam. Perempuan dekat gentong,dari tadi tidak bisa diam. Dia seperti duduk di atas kursi panas. Berulang kali mengubah letak pantatnya. Berulang kali memeriksa jam tangannya. Dan handphone-nya yang tak juga berbunyi. Apakah dia menunggu seseorang, seperti aku? Seorang kekasih yang sudah lama tak jumpa? Continue reading “Menunggu”

Gerimis

Lagi-lagi ‘tadinya’. Tadinya mau posting cerpen baru, namun karena malas, menunda-nunda, dan hal eksternal lainnya, ternyata cerpen itu tidak rampung, alhasil muat ulang cerpen lama dengan ilustrasi baru.

wpid-Gerimis.jpg

Malam itu hujan turun. Gerimis kecil. Menetes perlahan laksana parutan kelapa yang di tabur dari awan di angkasa.

Kau pandang bulir-bulir mungil yang dapat memberi berbagai rasa bagi yang melihatnya, menitik, berkilau keemasan tersorot lampu merkuri di tepi jalan. Semua dapat terlihat dengan jelas dari balik jendela di mana kau duduk sekarang.Suasana di luar mulai lengang, sementara gerimis masih saja turun perlahan melewati semua benda; pohon-pohon, halte mungil tepi jalan, kotak-kotak telepon umum, bunga bougenvil, mawar, lily, mobil-mobil yang terparkir, beberapa manusia yang berlalu lalang, begitu sunyi tanpa ada bunyi.

Sementara disana, ditempatmu memandang, semua begitu berbeda. Ada aura kehangatan yang terpancar. Bukan hanya disebabkan cahaya yang ditata sedemikain rupa, tapi juga karena genggaman tangan manusia. Continue reading “Gerimis”