Review Buku INTELIGENSI EMBUN PAGI

image

Lima belas tahun mengikuti perjalanan seri Supernova, jujur saya katakan pada finale buku ini: agak kecewa.

Menjadi pembaca seri 1, Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh, kala jadi mahasiwa baru, saya terperangah pada kemampuan Dee yang menggebrak dunia sastra Indonesia populer saat itu. Bagaimana tidak, filsafat, sastra, dan science di pintal dengan jalinan indah, memikat, dan pengikat benak pembaca dengan erat hingga banyak penulis pemula yang berkiblat pada gayanya, baik tema atau pun pemilihan kata. Bahkan tak sedikit pula yang kemudian terobsesi menjadi cyber avatar macam si supernova.

Seri 2, AKAR, adalah favorit saya, perjalanan Bodhi secara petualangan fisik dan spiritual begitu menempel dan, paling tidak di lingkungan saya saat umur segitu, banyak yang terobsesi jadi backpacker dan berharap bisa menjalani apa yang Bodhi jalani. Saya pun jatuh hati pada karakter-karakter yang dilahirkan Dee: Bong, Kell, Guru Liong, Epona, bahkan Ishtar yang semula saya kira Diva dalam nama lain, dan tentu Bodhi sendiri. Di sini pula saya berharap pada Dee, kala di sampul belakang seri ini terulis bahwa AKAR yang spektakuler adalah bagian dari Inteligensi Embun Pagi. Menilik judul tersebut saya mengira ini akan jadi bagian kontemplasi dalam, damai, dan hening yang mampu menginfeksi pembaca (saya khususnya) memandang lebih jelas arti hidup secara spiritual. Continue reading “Review Buku INTELIGENSI EMBUN PAGI”

#DARKMIN 2 : DENTING TERAKHIR

Mengikuti posting sebelumnya, di minggu kedua tema DARKMIN adalah Lonceng Kematian yang lagi-lagi tidak berjodoh dengan saya. Kali ini judul tulisan saya DENTING TERAKHIR. Continue reading “#DARKMIN 2 : DENTING TERAKHIR”

Review : A Girl Walks Home Alone At Night

image

Saya penggemar film horror, saya suka film bergaya klasik, saya suka film noir. A Girl Walks Home Alone at Night adalah film horror, bergaya klasik, juga noir, jadi tak ada alasan untuk tidak menontonnya, bukan? Jangan terkecoh oleh judulnya, film ini bukan keluaran Hollywood, melainkan hasil produksi Iran. Menonton film ini, bagi saya, serasa membaca buku penuh deskripsi dengan alur lambat dan minim dialog. Namun di sanalah letak tantangan yang coba ditaklukan oleh sutradara Ana Lilly Amirpour agar tiga hal tersebut tak membuat penonton bosan atau bahkan tertidur saking lamban dan sunyinya plot dari A Girl Walks Home Alone at Night yang sekilas mengingatkan saya pada film Korea, 3 Irons.

Berkisah tentang vampir perempuan muda tanpa nama (Sheila Vand) yang berkeliaran malam hari di kota yang nyaris senyap untuk memangsa korban lelaki dan mempreteli harta mereka. Di tempat tersebut tinggal pula Arash bersama ayahnya, Hossein, yang pemadat dan kakaknya, Atti, yang selain pecandu juga doyan seks. Lalu ada Saydah sang “princess”, Saeed, transgender dan seorang anak lelaki. Kematian Atti menjadi awal kisah ini, lalu mengalirlah berbagai konflik. Dengan cermat Amirpour menggali bagaimana kesepian dihadapi para tokoh dalam A Girl Walks Home Alone at Night. Ada yang serius, ada yang sepintas tampak konyol, tapi apa lagi yang bisa dilakukan di tempat sesunyi kota tersebut. Terlepas dari kealotan jalan cerita, A Girl Walks Home Alone at Night punya kelebihan pada unsur sinematografi dan art direction. Satu hal yang jadi catatan saya, film ini terlalu berkiblat ke barat, selain mesin-mesin kilang, aroma timur tengahnya kurang kentara, baik dari seting tempat, musik, maupun gaya penceritaan, tapi jika melihat para produser di ending credit-nya yang di dominasi nama-nama barat, bisa kita maklumi. Continue reading “Review : A Girl Walks Home Alone At Night”

Dear Diary

sebab sejarah ditulis oleh mereka yang berkuasa

Diary,
Hari ini ayah menikahi perempuan itu. Janda beranak dua itu. Ibu dari gadis-gadis cantik yang tetangga sebut begitu terpelajar namun punya kerendahan hati mengagumkan. Dalam pesta perayaan keduanya hadir serupa bulan kembar di gelap malam, sementara aku bintang, satu diantara sekian hamparan. Biasa. Tak terperhatikan. Para saudagar dan putra-putra mereka mencuri lirik dengan sering. Dan kau tahu Diary? Mereka terlihat begitu menikmati, namun bertindak seolah tak tahu apa yang tengah terjadi. Cih! Lihat saja, Diary, lihat saja. Suatu hari aku yang akan mendapat tatap tersebut. Tatap sepasang mata yang melebihi seluruh pasang mata pria di antero negeri ini.

Diary,
Betapa memuakan! Ketiga jalang itu mulai menginvasi rumahku dan mencuri perhatian ayahku. Milik-milikku! Dimulai beberapa hari lalu, saat kami sarapan bersama, ketiganya berakting seolah sungkan duduk bersama. Oh..oh… formula standar dari para tiri. Dan ayahku yang baik hati, yang tidak tega melihat orang menderita tentu saja berusaha menyenangkan mereka dan berkata bahwa semua adalah keluarga yang tak mengenal beda-beda. Lalu ia memintaku berbagi gaun untuk kedua putri barunya. Akurlah dengan mereka, pinta ia. Enak saja! Aku tak kan sudi melakukannya. Tentu aku akan memberi mereka beberapa, tapi yang bekas. Sebab begitulah mereka, bekas! Sisa! Ibu tiriku bekas lelaki lain yang membawa jejaknya dalam dua anak menyebalkan itu! Mereka yang sok meyapa! Mereka yang sok bertanya. Aku tahu niat dibalik semua. Mereka ingin mengubah kasta, mengubur aib dalam bentuk keluarga baru. Dasar loyang! Mereka pikir akan mudah naik kelas menjadi emas di rumah ini setelah bersikap, SEOLAH, baik padaku? Jangan harap! Kau tahu Diary, orang-orang sial itu bergeming dalam kemanisan dan keluguan ala cendikia tiap kali kujawab ketus setiap kata mereka. Seumpama kuabaikan keberadaan ketiganya, kuanggap mereka tak pernah ada, apakah mereka sanggup menghadapinya? Kita lihat.

Diary,
Oh Diaryku, ternyata aku salah langkah. Startegi ekskomunikasi adalah bumerang. Kemarin malam ayah mendatangiku, bertanya, bagiku terasa sebagai teguran kasar, mengapa istri dan anak-anak barunya seolah makin kikuk dan takut untuk melakukan hal-hal rumah tangga. Sebelum kujawab bahwa aku tidak tahu apa-apa bahkan tidak pernah bertukar kata dengan mereka, ayah mendahuluiku, bahwa ketiganya sepakat berpendapat merasa lebih seperti pembantu rumah tangga yang bermajikan nona bisu. Lalu ia menasihatiku panjang lebar yang intinya aku harus mulai bisa menerima mereka sebab ia menyayangi dan menerima ketiganya. Sungguh menyakitkan, Diary. Continue reading “Dear Diary”

Review : novel Tarian Bumi – Oka Rusmini

image

Buku Tarian Bumi saya beli pada akhir januari, tersimpan, dan baru dibaca awal maret ini. Lalu saya menyesal. Ya, itulah yang saya rasakan setelah membacanya. Menyesal mengapa baru sekarang, menyesal mengapa novel keren ini begitu pendek hingga saya melahapnya dalam hitungan jam saja.

Berkisah tentang tiga generasi perempuan dengan Ida Ayu Telaga Pidada sebagai pusat, dan berpintal secara pararel dengan kisah Ibunya, Luh Sekar (Jero Kenanga), juga neneknya, Ida Ayu Sagra Pidada, Tarian Bumi mengupas lapis demi lapis kehidupan para perempuan Bali yang masih terikat dalam sistem patriarki nan kental. Juga tentang bagaimana mereka berkuasa (dalam keterbatasan gerak) atas tubuh, mimpi, ambisi, dan harapan beserta resiko dan konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil. Tak ketinggalan benturan cara pandang masing-masing tokoh terhadap generasi di atas, dibawah, dan seusia. Secara garis besar dan linier begini ceritanya:

Ida Ayu Sagra Pidada terlahir sebagai bangsawan murni dan berayah seorang pendeta yang otomatis menempatkan posisinya lebih tinggi dibanding perempuan lain di griya*, sangat mengagungkan nilai cinta dan status. Sayang ia hanya keturunan tunggal, hingga keluarga yang khawatir kemudian menjodohkannya dengan seorang lelaki miskin namun terpelajar, Ida Bagus Tugur. Siapa nyana Dayu* Sagra yang mensakralkan cinta benar-benar terpikat pada pria yang kemudian naik derajatnya ini. Cinta pula yang kemudian menjerat sang perempuan ke dalam lingkar masokis. Si lelaki ternyata sebelumnya telah beristri, perempuan sudra beranak dua janda pula, hal yang bagi Dayu Sagra serasa dicoreng harkat kebangsawanannya, belum lagi kesibukan suami yang makin hari makin padat membuat keduanya jarang bersua, tapi anehnya justru membuat Dayu Sagra makin mencintai Ida Bagus Tugur. Kasih tak sampai ini kemudian ia lampiaskan melalui kuasanya sebagai Brahmana murni. Dibuatnya Ida Bagus Tugur tunduk oleh amarah, satu deham saja bisa membuat lelaki ini diam seribu kata dan hidup di bawah ketiaknya. Buah perkawinan mereka melahirkan Ida Bagus Ngurah Pidada yang kelak, juga, menikahi seorang perempuan sudra bernama Luh Sekar. Hal yang membuat Dayu Sagra makin merana.
Continue reading “Review : novel Tarian Bumi – Oka Rusmini”

RAISA – Mimpi Adalah Harapan Hati

image

Saya bukan penggemar cerita Cinderella (kecuali jika kisahnya dipelintir jadi horror seperti yang dilakukan dengan sangat mantap oleh Intan Paramaditha dalam cerpen ‘Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari’ di buku SIHIR PEREMPUAN), namun di sisi lain saya suka Raisa (siapa yang tidak ya, hehehe) dan tampaknya inilah yang dilihat oleh pihak-pihak terkait untuk mempromosikan film Cinderella 2015. Continue reading “RAISA – Mimpi Adalah Harapan Hati”

11 – 12 : ASTROLO(ve)GI

image

Dalam basa Sunda dikenal istilah ‘sabelas dua belas’ yang hampir sama dengan istilah ‘setali tiga uang’ dalam bahasa Indonesia. Astrolo(ve)gi adalah buku yang sebelas dua belas dengan Keep Calm And Be Fabulous dari beberapa nama penulisnya, pun jumlah penulis secara keseluruhan, sebelas orang untuk dua belas cerita. Tak kalah dengan KCABF, ASTROLO(VE)GI punya kelengkapan cerita, baik tokoh sentral (mulai dari anak sekolah sampai pekerja kantoran), atau pun konflik yang diangkat (mulai dari cinta rahasia sampai putus nyambung), semua lengkap kap kap di buku ini. Well, karena agak kepanjangan jika harus dibahas sinopsisnya satu per satu, saya tuliskan sinopsis umumnya saja ya 😀

Selamat datang di Astrlo(ve)gi:

Barangkali kau masih ingat, pada suatu masa remaja, kau pernah jatuh cinta dengan seseorang, namun malu untuk mengungkapkannya. Diam-diam kau mencari tahu apa zodiaknya, lalu mencoba untuk menguji: apakah zodiak kalian cocok satu sama lain? Bila ya, bermalam-malam kau berdoa agar ia mendekatimu. Bila tidak, kau tetap tak peduli, terus berdoa agar ramalan itu salah.

Barangkali kau juga masih ingat, pada suatu hari yang cerah, kau lebih percaya pada ramalan bintang ketimbang ramalan cuaca. Ramalan cuaca bilang, di siang hari nanti hujan akan turun dengan deras, tetapi ramalan bintangmu bilang: kau akan bertemu dengan seorang lelaki spesial siang ini. Kau tetap pergi keluar rumah, ternyata hujan turun dengan deras dan seorang lelaki tiba-tiba menghampirimu, menawarimu untuk melanjutkan perjalananmu. Di bawah payung, berdua. Continue reading “11 – 12 : ASTROLO(ve)GI”