#DARKMIN 2 : DENTING TERAKHIR

Mengikuti posting sebelumnya, di minggu kedua tema DARKMIN adalah Lonceng Kematian yang lagi-lagi tidak berjodoh dengan saya. Kali ini judul tulisan saya DENTING TERAKHIR. Continue reading “#DARKMIN 2 : DENTING TERAKHIR”

Review : A Girl Walks Home Alone At Night

image

Saya penggemar film horror, saya suka film bergaya klasik, saya suka film noir. A Girl Walks Home Alone at Night adalah film horror, bergaya klasik, juga noir, jadi tak ada alasan untuk tidak menontonnya, bukan? Jangan terkecoh oleh judulnya, film ini bukan keluaran Hollywood, melainkan hasil produksi Iran. Menonton film ini, bagi saya, serasa membaca buku penuh deskripsi dengan alur lambat dan minim dialog. Namun di sanalah letak tantangan yang coba ditaklukan oleh sutradara Ana Lilly Amirpour agar tiga hal tersebut tak membuat penonton bosan atau bahkan tertidur saking lamban dan sunyinya plot dari A Girl Walks Home Alone at Night yang sekilas mengingatkan saya pada film Korea, 3 Irons.

Berkisah tentang vampir perempuan muda tanpa nama (Sheila Vand) yang berkeliaran malam hari di kota yang nyaris senyap untuk memangsa korban lelaki dan mempreteli harta mereka. Di tempat tersebut tinggal pula Arash bersama ayahnya, Hossein, yang pemadat dan kakaknya, Atti, yang selain pecandu juga doyan seks. Lalu ada Saydah sang “princess”, Saeed, transgender dan seorang anak lelaki. Kematian Atti menjadi awal kisah ini, lalu mengalirlah berbagai konflik. Dengan cermat Amirpour menggali bagaimana kesepian dihadapi para tokoh dalam A Girl Walks Home Alone at Night. Ada yang serius, ada yang sepintas tampak konyol, tapi apa lagi yang bisa dilakukan di tempat sesunyi kota tersebut. Terlepas dari kealotan jalan cerita, A Girl Walks Home Alone at Night punya kelebihan pada unsur sinematografi dan art direction. Satu hal yang jadi catatan saya, film ini terlalu berkiblat ke barat, selain mesin-mesin kilang, aroma timur tengahnya kurang kentara, baik dari seting tempat, musik, maupun gaya penceritaan, tapi jika melihat para produser di ending credit-nya yang di dominasi nama-nama barat, bisa kita maklumi. Continue reading “Review : A Girl Walks Home Alone At Night”

Movie Review : OCULUS

image

Film yang akan saya bahas sedikit adalah salah satu film horror dengan konsep naskah cerdas dalam balutan yang tidak terlalu mengikuti pola horror klasik, termasuk memadukan kegiatan paranormal dengan ketegangan thriller. Memenangkan kategori film pendek horror terbaik saat berjudul Oculus Chapter 3 : The Man With The Plan di beberapa festival film dan gelar aktor terbaik untuk Scott Graham – juga di beberapa festival, Oculus digadang-gadang akan menjadi salah satu film paling seram tahun ini saat pihak rumah produksi mengeluakan teaser untuk versi panjangnya. Namun dalam kenyataan, ternyata, bagi sebagian pihak, Oculus tidak terlampau menakutkan. Untuk saya, Oculus cukup menghibur sebagai tayangan meski tidak membuat deg-degan atau paling tidak bergidik ngeri. Continue reading “Movie Review : OCULUS”

Interview with Hendri Yulius

Hendri Yulius Cover

Di bulan Nopember kemarin saya mereview sebuah buku kece, Lilith’s Bible, karya Hendri Yulius. Desember ini saya berkesempatan untuk berbincang dengannya seputar proses kreatif buku tersebut. Dan, (saya tidak suka kata ini, namun terjadi entah untuk tujuan apa) ‘kebetulan‘ berbarengan dengan tema bulan ini tentang LGBT dimana ia juga turut menjadi salah seorang pegiatnya, maka ada juga bahasan tentang hal tersebut. Penasaran? Langsung saja simak wawancara Crimson Strawberry dengan Hendri Yulius yang dilakukan via surel.

Apa yang ingin disuarakan dalam buku Lilith’s Bible?

Sebenarnya, saya mulai menulis Lilith’s Bible saat saya masih duduk di bangku kuliah, kira-kira umur 19 tahun. Pada saat itu, saya sedang getol-getolnya mendalami teori gender, feminisme, dan seksualitas. Karena itulah, saya terdorong untuk coba menulis buku tentang ini, terutama fiksi, karena bagi saya, fiksi terkadang bisa menjadi medium yang lebih jujur untuk menceritakan sesuatu ketimbang non-fiksi. Apa yang ingin disuarakan dalam buku Lilith’s Bible adalah tentang perempuan dan mitos-mitos yang menyelimutinya, seperti mitos keperawanan, kesucian perempuan, dan lain-lain yang menciptakan ketimpangan dan ketidakadilan. Pada saat yang sama, saya menemukan bahwa cerita horor nusantara selalu memiliki karakter hantu perempuan yang mengerikan. Di televisi dan film pun, saya selalu melihat hantu perempuan selalu lebih populer dan menyeramkan ketimbang hantu lelaki. Ada apa ini? Lantas, saya kepikiran, kenapa nggak saya coba menulis dari sudut pandang hantu perempuan ini?

Kenapa penting untuk disuarakan?

Penting karena selama ini, isu-isu semacam ini, seperti perkosaan, sunat perempuan, seksualitas, juga mitos keperawanan seringkali dianggap tabu dan tidak pantas dibicarakan. Bagi saya, isu yang terkait dengan tubuh dan seks adalah isu yang politis. Dalam artian, isu ini menjadi bagian dari identitas diri kita sendiri, terutama dalam hal ini perempuan. Bagaimana kita bisa memaknai diri kita sendiri, bila kita tak paham dengan tubuh dan seksualitas kita sendiri? Bagaimana kita bisa memahami diri kita sendiri, bila bicara seks saja ditabukan? Padahal, sejak kecil, kita sudah berurusan dengan gender dan seksualitas, mulai bagaimana kita dibedakan sesuai dengan alat kelamin, juga bagaimana kita dididik dalam aturan-aturan dan norma, seperti warna baju yang harus dikenakan (biru untuk lelaki, pink untuk perempuan), gaya bertingkah laku (perempuan harus lembut, sementara lelaki dituntut lebih macho) dan lain-lain.

Dalam proses pembuatan, buku ini memakan waktu hingga 4 tahun untuk rampung, apa yang menyebabkan hingga selama itu?

Yang membuat proses ini makan waktu selama itu adalah Continue reading “Interview with Hendri Yulius”

Review Film: We Are What We Are

wpid-We-Are-What-We-Are-america.jpg

Barangkali hujan yang membuat saya jadi melankolis.

Jika anda hobi membaca dan menonton film, pasti pernah menemukan bacaan yang sinematik hingga terasa begitu visual atau pun sebaliknya, nonton film yang membuat anda serasa membaca sebuah kisah dalam buku. Bagi saya film yang satu ini salah satu diantaranya.

We Are What We Are.

Meski judulnya bersifat sangat statement, namun tak ada kaitannya dengan tema posting challenge bulan ini, We Are What We Are (WAWWA) adalah film horror. Continue reading “Review Film: We Are What We Are”

Telepon Dari Aceh

UNTUK DIPERHATIKAN : Ini adalah cerpen lama karya Seno Gumira Ajidarma yang saya muat untuk memperingati Hari ANTIKORUPSI Sedunia yang jatuh pada hari ini, 9 Desember.

wpid-Telepon-Dari-Aceh.jpg

SEORANG koruptor zaman Orde Baru yang luput dari pengawasan Indonesian Corruption Watch duduk menghadapi meja makan. Di sana ia mengumpulkan istri dan anak-anaknya, dan sambil makan mulai bicara.

“Bapak sungguh-sungguh bersyukur, sampai hari ini Bapak masih selamat. Barangkali memang tidak mungkin menyapu seluruh koruptor yang ada di Indonesia. Koruptor nomor satu atau nomor dua memang tinggal ditunjuk, karena kekayaannya yang tidak bisa disembunyikan, meski juga tidak bisa dijadikan bukti, tetapi bagaimana dengan koruptor nomor dua ratus atau tiga ratus? Sedang Bapak saja, yang bisa korupsi sekitar Rp 200 milyar, ranking-nya cuma nomor 11.217. Pasti susah ‘kan, mencabut yang nomor 11.217 dari ratusan ribu koruptor? Jadi, barangkali untuk sementara kalian bisa tenang. Masih banyak koruptor kelas kakap yang hasil korupsinya tidak masuk akal, karena memang tidak terhitung. Bapak ini masih kelas teri. Cuma Rp 200 milyar. Masih bisa dihitung. Tenang sajalah. Lagipula Bapak ‘kan korupsi untuk kebaikan kalian semua. Supaya kalian anak-anak bisa sekolah di luar negeri, bisa punya rumah mewah, mobilnya tidak cuma satu, dan punya tabungan yang bunganya cukup untuk hidup sambil ongkang-ongkang kaki. Ya nggak? Bapak ini jelek-jelek tidak korupsi untuk diri sendiri, tetapi untuk keluarga. Demi kehormatan, kebesaran, dan keselamatan keluarga. Makanya kalian semua sekolah yang bener. Selesaikan pendidikan dengan sekolah di luar negeri, mumpung masyarakat Indonesia masih silau dengan gelar-gelar dari luar negeri. Perkara ijazahnya bisa beli, ya beli sajalah, untuk apa capai-capai berpikir? Lebih baik kalian pikirkan bagaimana caranya menyelamatkan kekayaan hasil korupsi Bapak. Pikirkan bagaimana caranya memutihkan tabungan, bagaimana caranya menghindar kalau disidik, dan cari orang-orang yang bersedia melindungi kita. Bayar saja sedikit. Kasih perempuan. Lantas diperas. Mereka tidak mungkin bicara. Uanglah yang akan bicara. Bagi rata kekayaan antara kita semua. Jangan rebutan. Itu sumber perkara. Hati-hati dengan kekuasaan. Jangan silau dengan politik. Itu hanya akan membuat kamu jadi singa. Biasanya singa akan mati diterkam singa lain. Lebih baik kamu jadi tikus seperti Bapak. Tidak usah hebat-hebat punya nama besar, pokoknya korupsi jalan terus. Kalau kalian punya jabatan di pemerintahan, meskipun tidak tinggi, kalau punya otak korupsi, bisa menjalankan korupsi dengan sistematis. Tidak usah banyak-banyak. Nanti terlalu kentara. Yang penting secara sistematis jalan terus. Seperti Bapak sekarang, menjelang pensiun sudah korupsi sampai Rp 200 milyar. Yah, memang tidak trilyun-trilyunan, tetapi kita tidak usah terlalu rakus. Kasihan rakyat kecil. Kalau semua koruptor korupsinya sampai trilyun-trilyunan, nanti rakyat kecil makan apa? Jangan-jangan sebutir beras pun tidak kebagian. Korupsi itu secukupnya sajalah. Asal cukup untuk istri dan anak-cucu. Nanti cucu-cucu kalian tidak usah korupsi lagi, karena sudah punya modal untuk berdagang seperti orang baik-baik. Meskipun modalnya hasil korupsi, tetapi generasi penerus kita bisa menjadi orang suci. Mereka tidak salah, ‘kan bukan mereka yang korupsi, tetapi Bapak. Biarlah Bapak menjadi tumbal, biarlah Bapak menanggung dosa dan masuk neraka, yang penting anak cucu Bapak menjadi orang-orang yang mulia.” Continue reading “Telepon Dari Aceh”

Lilith’s Bible

wpid-Liliths-Bible-Ilustrasi.jpg

Horror adalah tema yang selalu menarik bagi saya untuk dibaca dan ditulis. Dari sisi pembaca saya tak selalu berharap isinya harus melulu soal hantu. Kekerasan atau penindasan yang menimpa atau dilakukan oleh pihak-pihak yang sering termajinalkan, dibangun oleh nuansa suram, remang, atau kelam, dan hasrat yang mengendap-endap namun menggelegak dalam bingkai horror yang menterror dan diramu dengan apik bisa saya gila-gilai, bahkan dibaca berulang kali dari waktu ke waktu. Sayang jarang ada penulis Indonesia yang secara khusus mengemasnya dalam satu buku (atau barangkali saya-nya yang terlampau kuper ya hehehe..). Continue reading “Lilith’s Bible”