BOND THEMES : OFFICIAL VS REJECTED

image

Gara-gara postingan lagu SPECTRE, saya penasaran adakah lagu-lagu lain yang bernasib sama seperti milik Radiohead. Usut punya usut, googling punya googling, ternyata banyak. Saya tidak tahu bagaimana sistem pemilihan soundtrack untuk salah satu film franchise paling lama ini, nanti lah saya tanya sama MGM hehehehe… sambil menunggu, saya kumpulkan beberapa judul lagu untuk beberapa judul James Bond yang dipakai, ditolak dan dinilai berdasarkan selera kuping sendiri, monggo:

1. SKYFALL
a. Adele – Skyfall (Official) 5
b. Muse – Supremacy (Rejected) 5
==================
Adele, bagi saya, adalah pengisi soundtrack terbaik untuk seri James Bond hingga saat ini. Kenapa? Rata-rata soundtrack 007 hanya menarik saat film tersebut booming atau paling mentok saat diputar sebagai opening saja. Tapi Adele melampaui dua hal tersebut. Skyfall tetap enak di dengarkan diluar konteks James Bond. Lirik yang dalam dengan warna vokal yang halus namun kuat, menjadikan Skyfall seolah membawa pendengar tenggelam ke kedalaman yang menyegarkan. Sementara Supremacy sebaliknya. Dengan lirik sedikit politis, Muse seolah membawa pendengar pada sebuah sirkuit liar yang serba cepat, menghentak, liar, panas, memberontak dan memicu adrenalin. Musiknya sedikit mengingatkan pada Another Way To Die nya Jack White yang menjadi soundtrack Quantum of Solace, namun versi Muse jauuuuuuuuuuuuuuuh lebih spektakuler. Continue reading “BOND THEMES : OFFICIAL VS REJECTED”

Iklan

Review : A Girl Walks Home Alone At Night

image

Saya penggemar film horror, saya suka film bergaya klasik, saya suka film noir. A Girl Walks Home Alone at Night adalah film horror, bergaya klasik, juga noir, jadi tak ada alasan untuk tidak menontonnya, bukan? Jangan terkecoh oleh judulnya, film ini bukan keluaran Hollywood, melainkan hasil produksi Iran. Menonton film ini, bagi saya, serasa membaca buku penuh deskripsi dengan alur lambat dan minim dialog. Namun di sanalah letak tantangan yang coba ditaklukan oleh sutradara Ana Lilly Amirpour agar tiga hal tersebut tak membuat penonton bosan atau bahkan tertidur saking lamban dan sunyinya plot dari A Girl Walks Home Alone at Night yang sekilas mengingatkan saya pada film Korea, 3 Irons.

Berkisah tentang vampir perempuan muda tanpa nama (Sheila Vand) yang berkeliaran malam hari di kota yang nyaris senyap untuk memangsa korban lelaki dan mempreteli harta mereka. Di tempat tersebut tinggal pula Arash bersama ayahnya, Hossein, yang pemadat dan kakaknya, Atti, yang selain pecandu juga doyan seks. Lalu ada Saydah sang “princess”, Saeed, transgender dan seorang anak lelaki. Kematian Atti menjadi awal kisah ini, lalu mengalirlah berbagai konflik. Dengan cermat Amirpour menggali bagaimana kesepian dihadapi para tokoh dalam A Girl Walks Home Alone at Night. Ada yang serius, ada yang sepintas tampak konyol, tapi apa lagi yang bisa dilakukan di tempat sesunyi kota tersebut. Terlepas dari kealotan jalan cerita, A Girl Walks Home Alone at Night punya kelebihan pada unsur sinematografi dan art direction. Satu hal yang jadi catatan saya, film ini terlalu berkiblat ke barat, selain mesin-mesin kilang, aroma timur tengahnya kurang kentara, baik dari seting tempat, musik, maupun gaya penceritaan, tapi jika melihat para produser di ending credit-nya yang di dominasi nama-nama barat, bisa kita maklumi. Continue reading “Review : A Girl Walks Home Alone At Night”

RAISA – Mimpi Adalah Harapan Hati

image

Saya bukan penggemar cerita Cinderella (kecuali jika kisahnya dipelintir jadi horror seperti yang dilakukan dengan sangat mantap oleh Intan Paramaditha dalam cerpen ‘Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari’ di buku SIHIR PEREMPUAN), namun di sisi lain saya suka Raisa (siapa yang tidak ya, hehehe) dan tampaknya inilah yang dilihat oleh pihak-pihak terkait untuk mempromosikan film Cinderella 2015. Continue reading “RAISA – Mimpi Adalah Harapan Hati”

11 – 12 : ASTROLO(ve)GI

image

Dalam basa Sunda dikenal istilah ‘sabelas dua belas’ yang hampir sama dengan istilah ‘setali tiga uang’ dalam bahasa Indonesia. Astrolo(ve)gi adalah buku yang sebelas dua belas dengan Keep Calm And Be Fabulous dari beberapa nama penulisnya, pun jumlah penulis secara keseluruhan, sebelas orang untuk dua belas cerita. Tak kalah dengan KCABF, ASTROLO(VE)GI punya kelengkapan cerita, baik tokoh sentral (mulai dari anak sekolah sampai pekerja kantoran), atau pun konflik yang diangkat (mulai dari cinta rahasia sampai putus nyambung), semua lengkap kap kap di buku ini. Well, karena agak kepanjangan jika harus dibahas sinopsisnya satu per satu, saya tuliskan sinopsis umumnya saja ya 😀

Selamat datang di Astrlo(ve)gi:

Barangkali kau masih ingat, pada suatu masa remaja, kau pernah jatuh cinta dengan seseorang, namun malu untuk mengungkapkannya. Diam-diam kau mencari tahu apa zodiaknya, lalu mencoba untuk menguji: apakah zodiak kalian cocok satu sama lain? Bila ya, bermalam-malam kau berdoa agar ia mendekatimu. Bila tidak, kau tetap tak peduli, terus berdoa agar ramalan itu salah.

Barangkali kau juga masih ingat, pada suatu hari yang cerah, kau lebih percaya pada ramalan bintang ketimbang ramalan cuaca. Ramalan cuaca bilang, di siang hari nanti hujan akan turun dengan deras, tetapi ramalan bintangmu bilang: kau akan bertemu dengan seorang lelaki spesial siang ini. Kau tetap pergi keluar rumah, ternyata hujan turun dengan deras dan seorang lelaki tiba-tiba menghampirimu, menawarimu untuk melanjutkan perjalananmu. Di bawah payung, berdua. Continue reading “11 – 12 : ASTROLO(ve)GI”

RESAH

image

Prinsip mercusuar sepertinya sudah mengakar, meresap hingga sumsum tulang, dan menjadi sifat sebagian pihak di negara ini. Segala sesuatu, bagi mereka, haruslah selalu terlihat baik-baik. Di permukaan. Beda adalah bahaya. Ancaman merusak moral anak bangsa dan tidak sesuai dengan falsafah tatanan hidup berbangsa dan bernegara adalah mantra yang kerap disuarakan, berulang-ulang, setiap waktu. Buku adalah salah satu korban dari pihak-pihak tersebut.

Bagi anda pengaggum sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer tentu tahu berapa banyak karya tulis beliau yang ‘di-aman-kan’ atau dibakar secara terang-terangan oleh rezim Soeharto melalui perantara tentakel militernya dengan alasan tulisan tersebut masuk ketegori bahaya laten yang mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Apakah hanya Pram yang mengalaminya? Silakan googling berapa banyak kasus serupa terjadi pada berbagai buku di Indonesia sebelum dan sesudah kasus ini.

Kejadian terbaru menimpa komik Why Puberty yang menuai kontroversi dan disinyalir, lagi-lagi, muatannya berpotensi merusak moral genrasi muda serta tidak sesuai dengan tatanan hidup berbangsa dan bernegara. Namun ada yang beda. Yang membuat saya kagum pada komik ini, sekaligus pihak-pihak yang kontra terhadapnya. Continue reading “RESAH”